Penimba Ilmu Perhatikan Niat

Menimba Ilmu Agama dengan tujuan buruk seperti kelak bisa mendebat Ulama, atau untuk membanggakan diri atas orang lain, atau untuk memperdaya orang-orang yang tidak berilmu. Semua tujuan itu adalah tujuan yang salah besar dan terancam dengan siksa Neraka.

Menuntut Ilmu apabila sekedar ingin menunjukkan kepada orang banyak bahwa inilah dirinya sesungguhnya, atau memperlihatkan kepada orang banyak bahwa inilah jamaahnya. Sehingga seolah dalam bahasa prilakunya ia berkata;  “Inilah sosok kami atau inilah  kelompok kami, orang-orang yang taat kepada Allah dan cinta Majelis Ilmu.” Hal ini sangat mengkhawatirkan jika tertanam dalam niat seorang, terlebih jika hal tersebut dibumbui pula dengan Selfie atau poto-poto. Ingatlah Nabi pernah bersabda:

من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار

“Siapa saja yang menuntut ilmu (Syar’i) karena untuk mendebat Ulama atau untuk membuat syak orang-orang bodoh, atau untuk membuat wajah orang-orang mengarah kepadanya, Allah memasukkannya kelak ke Neraka.”

(Hadits dengan redaksi (Matn) ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi. Diriwayatkan juga dengan redaksi berbeda namun semakna dengan riwayat Tirmidzi oleh Imam Ibnu Majah, ad-Darimy dalam Sunannya, dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf.)

Tiga bentuk tujuan tercela dalam Hadits tersebut bisa dikatakan adalah rincian dari bentuk keumuman pola menimba Ilmu Agama dengan tujuan Duniawi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah bersabda;

  من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله لا يتعلمه الا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

“Siapa saja yang mempelajari satu Ilmu yang merupakan bagian dari ilmu yang (seharusnya) dituntut karena Wajah Allah, (lalu) dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kebendaan duniawi belaka, kelak dia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari Kiamat” (HR: Ahmad)

Dan semua itu kembali kepada urusan niat. Niat ikhlas dalam menunut ilmu adalah satu adab paling mendasar yang selalu menjadi buah wejangan para Ulama dari satu masa ke masa lainnya kepada murid-murid mereka dan untuk para penuntut ilmu secara luas. diantara nasehat yang patut diingat kembali adalah nasehat Imam Ahmad Rahimahullah yang telah dicatat dengan tinta kehormatan;

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ، قِيلَ فَأَيُّ شَيْءٍ تَصْحِيحُ النِّيَّةِ ؟ قَالَ: يَنْوِي يَتَوَاضَعُ، وَيَنْفِي عَنْهُ الْجَهْلَ

“Menuntut Ilmu adalah sebaik-baik amalan untuk siapa saja yang niatnya benar.” Dengan apakah memperbaiki niat dalam menuntut Ilmu,? Imam Ahmad menjawab; “berniat agar menjadi Tawadhu’ dan menghilangkan kebodohan atas dirinya”

(Al-Furu’ karya Ibnu Muflih dan Adabusy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih. Juga disebutkan dengan redaksi berbeda dalam Al-Masa’il karya Ibnu Hani’. Klik di sini untuk baca.)

Ilmu dapat membuat seorang menjadi sombong, tidak rendah hati kepada hamba Allah yang lainnya. Hal ini bisa diambil dari sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di atas  yang telah melarang ummatnya agar jangan menunut Ilmu dengan tujuan untuk pamer dan berbangga diri.

Kemungkinan inilah rahasia dibalik nasehat Imam Ahmad Rahimahullah yang menyelipkan wejangan agar berniat Tawadhu’ dalam menuntut Ilmu. Agar penuntut ilmu terjauh dari sifat sombong dan sikap berbangga diri dari semenjak dini. Selain itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah bersabda;

 وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar hendaknyalah kalian saling Tawadhu’ sehingga tidak seorang pun membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak seorang pun menjahati seorang pun.” (HR: Muslim)

Nasehat-nasehat tentang niat dalam menuntut ilmu terhitung banyak dan masih tersimpan rapi dalam lautan perpustakaan Ulama, yang kami tulis hanyalah sekelumit saja darinya untuk saling mengingatkan.

Abu ‘Affaf Musa