Pendiam Saat Offline Namun Vokal Saat Online

“Gue nemuin polisi tidur, terus gue berhenti dan selimuti aja, Gue mah gitu orangnya”.

Trend latah semacam ini sudah merebak luas di masyarakat, namun aneh dan mirisnya adalah fenomena ini justru di prakarsai oleh kalangan terdidik atau kalangan yang tidak buta dengan kemajuan. Kemudian lambat laun merebak serta menjadi latah di kalangan mereka juga di masyarakat luas.

Padahal ungkapan tersebut dan sejenisnya tidak lepas dari unsur kedustaan, bahkan aroma dusta dan candaan sangat kental membungkusnya.

Mungkin tak salah jika ada yang menyentil bahwa ternyata keterdidikannya seseorang tak lantas membentuk pribadinya menjadi pribadi yang jujur, berpendirian dan tak cepat terbawa arus trend yang tidak bermanfaat.

Oleh karenanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sangat melarang berdusta walau pun dalam nuansa canda, beliau bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا»

Artinya: “Dan janganlah kalian berdusta, sebab berdusta pasti akan menjurus kepada perbuatan jahat, dan sedangkan perbuatan jahat dapat menjurus ke Neraka. Seorang yang senantiasa berdusta dan menjaga kedustaan sehingga dirinya dicatat disisi Allah sebagai pendusta”. (HR: Muslim)

Dalam Sabda lainnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.

Artinya: “Celakalah bagi siapa saja yang berbicara dengan pembicaraan yang dapat membuat orang tertawa lalu (ia menjadi) berdusta, celakalah baginya , celakalah baginya.” (HR: Tirmidzi dan beliau menilainya Hasan.)

Di era serba sosial media saat ini, tidak mengharuskan seorang harus bersuara untuk mengungkapkan sesuatu yang diinginkannya, hanya dengan beberapa langkah ketik saja, seorang dapat mengutarakan ungkapannya dengan baik dan terarah.

Namun karena beberapa sebab, seperti merasa tak terawasi oleh Allah dan merasa bebas dari sorotan norma sosial, disusul dengan tipisnya rasa malu seakan menjadi sebab mendasar yang kuat untuk dapat menyulap seorang tiba-tiba menjadi orator bahkan pelawak di dunia online. walau pun pada kenyataannya di ruang offline dia merupakan sosok pendiam nan dingin.

Semua itu tak akan keluar dari hukum berbicara, sebab Ulama telah menetapkan bahwa “Al-Kitabah Kal Khitobah”, “tulisan sama dengan pembicaraan”.

Maka hati-hatilah dengan kesendirian Anda bersama gadget yang Anda miliki, ingatlah selalu pesan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang sudah sangat populer ditengah Masyarakat, dimana beliau bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Dan siapa saja beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau (kalau tidak maka) diamlah” (HR: Bukhari)

Diam di zaman ini bukan saja dengan tidak berbicara melalui mulut, namun diam sesungguhnya adalah tidak online kecuali jika perlu.

Oleh: Musa Mulyadi