Pemimpin Rakyat Muslim, Harus Orang Muslim?

Teduh.Or.Id – Sebagian orang menganggap bahwa menilai seorang pemimpin tidak mesti harus pada kepercayaan yang dipeluknya, sehingga akhirnya kehadiran Agama dalam proses memilih pemimpin mereka nihilkan dan seolah berlepas diri darinya dalam urusan tersebut.

Berikut saya coba hadirkan beberapa alasan kuat seorang pemimmpin di negeri muslim harus seorang yang Muslim:

Keputusan Sangat Bergantung Pada Keyakinan Agama

Pemimpin adalah posisi terbuka yang memungkinkan orang yang mendudukinya mengambil kewenangan dan keluasan dalam bertindak dan membuat keputusan.

Pada dasarnya tindak tanduk setiap manusia sangat bergantung kepada kepercayaan atau akidah yang dipeluknya, dan tidak luput dalam hal ini juga seorang pemimpin. dan setiap pemeluk keyakinan sudah pasti tentunya akan mengajak dan mendakwahkan keyakinannya kepada orang lain dan bahkan Negara sekalipun, termasuk kaum Muslimin.

 Akan tetapi karena tidak semua Agama itu sama dan karena hanya Islam sajalah yang diakui sebagai Agama di sisi Allah ‘Azza Wajalla maka semua dakwah dan ajakan kepada selain Islam adalah ajakan yang salah dan tidak benar.

Allah berfirman :

إن الدين عند الله الإسلام

Artinya: “Sesungguhnya Agama di sisi Allah (hanyalah) Islam dan siapa saja yang menginginkan Agama selain Islam maka tidak diterima.” (QS: Ali ‘Imran-19)

Beranjak dari hal inilah maka seorang pemimpin untuk rakyat mayoritas Islam harus seorang pemimpin yang muslim. Jika tidak demikian niscaya kerusakan Agama akan pasti terjadi dengan mengangkat orang nasrani sebagai pemimpin.

Demi Kejayaan Agama

Asas kebaikan yang harus selalu dijaga dan dilindungi di dalam Islam dan bahkan dalam Agama lainnya ada lima yaitu : Agama, Nyawa, Keturunan, Harta, dan Akal.

Imam asy-Syathiby (w.790 H.) Rahimahullah berkata:

فقد اتفقت الأمة بل سائر الملل على أن الشريعة وضعت للمحافظة على الضروريات الخمس وهي: الدين، والنفس, والنسل، والمال، والعقل وعلمها عند الأمة كالضروري

Artinya: Maka sebenarnya ummat ini telah bersepekat – bahkan semua Agama – atas bahwa sesungguhnya Syari’at Islam diletakkan demi menjaga lima Dlaruriyyat yaitu Agama, Jiwa, keturunan, harta, dan Akal. Dan Ilmu tentangnya di sisi ummat islam laksana hal yang Dharury (praktis diketahui) (al-Muwafaqat 1/31)

Apabila yang diangkat menjadi pemimpin untuk ummat Islam adalah seorang yang tidak beriman kepada Islam lalu bagaimanakah bisa asas keutuhan Agama Islam akan tegak!?

Bukankah sangat tidak masuk akal sekali jika ada yang menitipkan makanan kepada seekor binatang yang tengah kelaparan hebat.

Seteru Abadi

Demokrasi tidak akan bisa menafikan adanya sentimen terhadap Islam dan hal itu telah dibuktikan – tidak hanya oleh dalil – namun juga oleh fakta sejarah. Adapun oleh Dalil maka Allah berfirman :

ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم

Artinya: Dan tidak akan pernah rela terhadapmu yahudi dan juga nasrani sampai kalian mengikuti Millah (Agama) mereka. (QS: al-Baqarah 120)

Imam Ibnu katsir Rahimahullah berkata:

وليست اليهود – يا محمد – ولا النصارى براضية عنك أبدًا، فدع طلب ما يرضيهم ويوافقهم، وأقبل على طلب رضا الله في دعائهم إلى ما بعثك الله به من الحق

 “Dan tidaklah Yahudi – Wahai Nabi Muhammad – dan tidak juga Nasrani menjadi rela terhadapmu selamanya, maka tinggalkanlah mencari apa saja yang membuat mereka rela dan membuat mereka setuju, dan fokuslah menuntut ke-ridlo’an Allah dalam dakwahmu kepada mereka ke perkara-perkara yang benar yang Allah telah mengutusmu dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir 1/402)

Jika demikian adanya, maka tidak wajar dan bukan sebuah keadilan jika pemimpin untuk masyarakat Islam malah diampu oleh orang yang sentimen terhadap Islam itu sendiri.

Allah Melarang

Alasan ini juga merupakan yang terkuat yang mengharuskan seorang pemimpin untuk masyarakat Islam haruslah seorang Muslim, dan bahasan ini telah saya tuliskan juga sebelumnya, mengenai auliya. Demikian semoga bermanfaat.