Pembatal Islam Nusantara

Islam Nusantara sejatinya adalah Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits yang jangkauan garis perintah dan larangannya bersifat Kaaffah  (Baca: Universal) atas semua pemeluknya terlepas dari suku bangsa dan budaya yang mereka miliki.

Sebab Islam yang Allah turunkan melalui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam – yang merupakan Nabi berkebangsaan Arab tulen – tidak diperuntukkan secara khusus untuk Bangsa Arab dan kultur budaya tertentu lainnya. dan seperti itulah sebenarnya sifat satu keyakinan yang ada di atas bumi ini, yaitu bersifat luas dan terbuka untuk siapa pun tanpa batas suku bangsa dan ras.

Sebagai contoh, perhatikan saja Agama Kristen atau yang lainnya, ia telah merambah ke seluruh penjuru bumi tanpa ada yang mengkhususkannya ke satu bangsa atau negara tertentu, dari itu tidak pernah kita temukan ada istilah Kristen Nusantara, Hindu Nusantara, atau Syiah Nusantara.

Apabila terhadap Agama dan keyakinan yang tertolak di sisi Allah saja diakui memiliki sifat universal, maka Islam yang Hak tentunya lebih berhak disebut sebagai Agama yang anti kesuku-bangsaan dan golongan.

Maka sungguh sangat keliru apa yang dianggap benar oleh khalayak ramai bahwa Islam memiliki versi Nusantara dalam artian bahwa Syariat apa pun yang datang dari Islam maka harus menunggu lampu hijau terlebih dulu dari Nusantara sebelum boleh dilaksanakan. Maka dengan makna seperti ini sebenarnya Islam bukan lagi ditempatkan semestinya sebagai Agama di sisi mereka yang memperjuangkan Islam Nusanatara dengan makna tersebut, namun sebaliknya Nusantara itulah yang hendak mereka inginkan sebagai Agama.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan tidaklah kami mengutusmu kecuali secara menyeluruh untuk semua manusia, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan dan akan tetapi kebanyakan dari manusia mereka tidak mengetahui”(QS: Assaba’ 28)

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى

Artinya: “Islam itu tinggi dan tidak dilampaui “

(HR: Bukhari secara Mu’allaq namun telah dihubungkan Sanadnya secara Marfu’ oleh Imam Ad-Daruquthni dalam Sunannya. Dan maksud dilampaui adalah tidak ada yang lebih tinggi darinya)

Ayat dan Hadits ini – jika oleh pegiat Islam Nusantara diimani dengan benar – dapat menunjukkan dengan jelas bahwa Agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah ditetapkan untuk semua ummat manusia tanpa melihat suku bangsa dan warna kulit.

Apa pun kasus dan masalah yang terjadi dalam urusan Agama dan bahkan Duniawi maka semua itu harus mendapatkan lampu hijau terlebih dulu dari Syariat Islam, serta  kewajiban dan keharusan semua manusia merujuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, Allah berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS: Annisa’-65)

Dalil dalil ini adalah pembatal yang sangat jelas terhadap konsep Islam Nusantara dengan makna menjadikan segala sesuatu yang bersumber dari Syariat Islam harus mendapatkan lampu hijau atau persetujuan dan kesesuaian terlebih dulu dari sebuah konsep lainnya.

Disamping semua itu, makna Islam Nusantara dengan makna tersebut akan mengakibatkan beberapa hal yang fatal di antaranya adalah:

pertama : Al-Qur’an dan Hadits secara tidak langsung bukan lagi sebagai sumber satu satunya dalam Agama Islam.

Kedua : Membuat konsep tandingan untuk Syariat Allah dan Rasulnya.

Ketiga : Mendahulukan Akal dan fanatik kesukuan dan budaya nenek moyang sebagai satu satunya timbangan dalam mengatur kemashlahatan beragama dan bernegara.

Inilah alasan kuat untuk menolak keras dan mengecam tegas konsep Islam Nusantara yang tengah diperjuangkan segelintir orang demi kepentingan sepihak belaka.

Namun jika yang maksudkan dengan Islam Nusantara ialah menyesuaikan beberapa perkara yang memiliki hukum yang bersifat Fleksibel (luas) dalam Islam – seperti kaedah dalam berbusana, selera menu makanan yang halal, dan norma norma positif (Uruf) dalam masyarakat atau lainnya yang sejenis – agar selaras dengan budaya nusantara maka tidak ada masalah dalam hal semacam ini, sebab Syariat Islam tidak mengharuskan pemeluknya dalam ranah fleksibel tersebut untuk harus hidup seperti pada zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, namun acuannya adalah bagaimana menjalani hidup sesuai dengan Agama yang dibawa Nabi dimana pun Ummat ini berada.

Abu Affaf