Para Pencaci

Hinaan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan satu hal yang baru. Perbuatan keji ini telah dilakukan sejak awal beliau dibangkitkan menjadi seorang Nabi dan Rasul.

Namun semua hinaan tersebut tidak pernah sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebab apa apa yang mereka katakan dan sebutkan untuk menghina Nabi selalu tidak tepat dan berbeda jauh dengan kenyataan yang ada pada diri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pada satu kesempatan beliau bersabda:

أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ

 “Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan cacian Quraisy serta laknat mereka kepadaku!? Mereka mencaci maki Mudzammam dan melaknat Mudzammam sedangkan aku hanyalah Muhammad.” (HR: Bukhari)

Al-Hafizh ibnu Hajar Al-‘Asqalany Rahimahullah menjelaskan:

كان الكفار من قريش من شدة كراهتهم في النبي صلى الله عليه و سلم لا يسمونه باسمه الدال على المدح فيعدلون إلى ضده فيقولون مذمم وإذا ذكروه بسوء قالوا فعل الله بمذمم ومذمم ليس هو اسمه ولا يعرف به فكان الذي يقع منهم في ذلك مصروفا إلى غيره

“Orang-orang kafir dari kalangan Quraisy, karena kebencian mereka yang begitu keras terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, (menjadikan) mereka tidak menyebutnya (Nabi) dengan namanya yang menunjukkan atas pujian, mereka menggantinya dengan lawanan (dari pujian yang ada dalam makna nama tersebut) akhirnya mereka menyebutnya dengan Mudzammam (artinya orang yang tercela) Dan apabila mereka membincangkannya dengan perbincangan yang buruk, mereka akan berkata: “Semoga Allah mencelakai si Mudzammam.” sedangkan Mudzammam ini bukanlah namanya (Nabi) dan beliau tidak dikenal dengan itu, maka apa yang mereka katakan dalam hal itu beralih ke selain Nabi.” (Fathul Bari / Hal.191/ 8 / Dar Thayyibah)

Betapa hinanya hinaan yang mereka perbuat dan betapa agungnya kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga apa pun bentuk hinaan yang dilontarkan kepada Nabi menjadi tidak bermanfaat dan tidak seujung rambut pun ejekan dan celaan itu sampai pada kenyataan yang ada pada Nabi.

Orang-orang kafir dari bangsa Arab pada zamannya telah sampai pada keputus -asaan mencari celah untuk mereka jadikan sebagai bahan celaan dan menjatuhkan kepribadian dan dakwah Nabi. Namun mereka tidak mendapatkannya. Dan sampai hari kiamat tegak pun, generasi para pencela itu tidak akan pernah mendapatkannya.

Jika Allah Yang Maha Pencipta saja telah memuji Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan pujian yang begitu tinggi, lalu apalah artinya celaan-celaan terhadap beliau yang datang dari makhluk yang hina dan tak terhormat.

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar di atas akhlak yang agung”. (QS: Al-Qalam – 4)

Jika Allah Yang Maha Pemberi saja telah meninggikan nama Nabinya lalu apalah artinya celaan-celaan rendah itu? Dia, hanya akan pupus bersama waktu dan lekang oleh kematian yang akan menjemput para pencaci sementara kemulian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan senantiasa mewangi.

وَرَفَعْنا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan telah kami tinggikan untukmu akan sebutan (nama) mu”. (QS: Al-Insyirah. 4)

Namun yang patut menjadi renungan dan kerisauan, ketika seorang sudah tak merasa tergugah dan terdorong untuk membela kemuliaan Nabinya saat dihina, dan merasa hal itu tidak perlu dibela. Saat itu bisa jadi Imannya mulai meredup kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan adakah kerugian yang lebih buruk dari redupnya Iman kepada Nabi Muhammad !?

Musa Abu Affaf