Papua Antara Medan Dakwah, Jihad dan Aturan Pemerintah

Sebelum mengambil sikap dan keputusan apa pun, ada baiknya bila kita merenung dan Muhasabah sejenak dengan mencoba kembali berkaca kepada Sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.  Sungguh dalam Sunnah ada banyak pelajaran yang dapat dipetik sebagai bekal dalam setiap keadaan.

Urgensi Sikap Lembut Individual  Setiap Muslim

Islam di Papua masih dalam tingkat atau level kondisi daerah yang membutuhkan dakwah penyebaran Islam, sebab jumlah kaum Muslimin di sana masih terhitung sedikit bila dibandingkan dengan kaum Agama lainnya, dan tentunya hal itu akan mempengaruhi kekuatan mereka dalam menghadapi segala kemungkinan yang dapat mencederai mereka.

Jika hal ini kita sepakati adanya saat ini di Papua, maka akan kita dapati kasus yang serupa dengannya pernah terjadi di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Mari kita renungkan Hadits berikut ini dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ.

 Artinya: “Seorang Arab pedalaman berdiri lalu kencing di Masjid maka orang-orang pun mencederainya (dengan ucapan) maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata kepada mereka, biarkan dia dan siramlah di atas kencingnya dengan seember penuh air, kalian di utus sebagai orang-orang yang mempermudah dan bukanlah sebagai orang-orang yang mempersulit” (HR: Bukhari dan Ahmad)

Dalam Riwayat lainnya melalui Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ.

Artinya: “Datanglah seorang Arab pedalaman maka dia pun kencing di bilah masjid, orang-orang menghardiknya dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melarang mereka (bersikap seperti itu) dan manakala Arab badui itu selesai dari kencingnya, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dengan ember yang penuh air agar disiram di atas kencingnya” (HR: Bukhari )

Peristiwa ini terjadi dalam fase dakwah dan Ta’liiful Qulub (mengambil hati)  sehingga perbuatan Arab Badwi tersebut disikapi dengan cara yang lemah lembut oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan tidak hanya itu saja, bahkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga justru melarang para Shahabatnya ketika itu untuk menyakiti Arab Badwi tersebut.

Walau pun perbuatan Arab Badwi dengan pembakar masjid Tolikala tidak dapat disamakan secara mutlak, yang satu hanya kencing dan satunya lagi adalah membakar, namun motifnya sama, yaitu sama-sama tidak menghargai dan melecehkan kaum Muslimin. Terlebih telah disebutkan secara umum di dalam Al-Qur’an bahwa Arab Badwi adalah tipikal kaum yang sangat Kufur dan Nifaq dan tidak mengenal batasan batasan Allah, Allah berfirman:

Artinya: “Orang-orang Arab Badwi itu lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah 97)

Namun karena demi Mashlahat yang lebih baik, tetap saja Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyerukan para Shahabatnya untuk menahan diri agar tidak menyakiti si Badwi baik dalam bentuk fisik mau pun verbal. Sikap ini jika hendak  diambil dalam rangka menyikapi tragedi pembakaran Masjid Tolikala, Insyallah bukanlah satu kekeliruan, karena diharapkan dengan lemah lembut tersebut akan berbuah manis kelak di masa yang akan datang untuk Islam di Papua, sebagaimana halnya si Arab Badwi akhirnya memeluk Islam setelah peristiwa luar biasa tersebut.

Alhafidz Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan beberapa faidah dari Hadits kecingnya Arab Badwi dalam Fathul Bari – /Jilid 1/Hal. 555/ Cet. Dar Thoyyibah/-  di antaranya beliau sebutkan:

وفيه الرفق بالجاهل وتعليمه مايلزمه من غير تعنيف إذا لم يكن ذلك منه عنادا ولا سيما أن كان ممن يحتاج إلى استئلافه

“Dalam Hadits ini terdapat anjuran untuk berlemah lembut dengan orang bodoh, dan agar mengajarkannya apa-apa yang bersifat harus untuknya tanpa harus dengan kekerasan, selama hal itu (kekerasan) tidak datang darinya secara prontal, terlebih jika orangnya adalah tipe orang yang membutuhkan kelembutan”.

Toleransi Adalah Strategi Dakwah

Peristiwa lain yang kiranya dapat kita pikirkan bersama dalam hal ini adalah politik Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai seorang pemimpin terhadap orang-orang yang bukan dari kalangan kaum Muslimin. Ketika itu di Madinah tidak hanya dihuni oleh kaum Muslimin saja, namun juga dihuni oleh kaum Yahudi dan Musyrikun yang sudah barang tentu memiliki keyakinan yang berbeda dengan kaum Muslimin, dan juga memiliki kepentingan berbeda dengannya.

Dan demi menjaga stabilitas Negeri Yatsrib (Madinah) kala itu, yang merupakan hunian bersama antara kaum Muslimin dengan Yahudi dan Musyrikun – sebab tanpa stabilitas akan banyak hal menjadi lumpuh termasuk rasa aman dan kesejahteraan perekonomian – Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam akhirnya menjalin kesepakatan dengan Yahudi dan Musyrikun, dan di antara point kesepakatan tersebut adalah :

Bahwa sesungguhnya mereka (muslimun, Yahudi, dan Musyrikun) akan bertindak serempak dalam satu strategi menolak segala bentuk perusak, kejahatan dan orang Dzalim walau pun ia berasal dari salah seorang anak mereka. (Raudhatul Anwar Fii Siirotin Nabiyyil Mukhtar / karya Shaifurrahman Al-Mubarafury/ Hal. 158/ Cet. Kementrian Agama Urusan Perwaqafan dan Dakwah.)

Namun gesekan politik makin memanas, Kaum Yahudi dan Musyrikun secara sepihak bersatu dan mulai melancarkan aksi menekan dan menebar ancaman terhadap kaum Muslimin, bahkan hingga sampai kepada gagasan untuk mengusir kaum Muslimin dari Madinah.

Strategi Politik yang dipilih Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam seperti dalam gambaran singkat di atas bila kita cermati maka kita dapati Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam tidak serta merta langsung mengangkat senjata berperang melawan Yahudi dan Musyrikun di Madinah, namun ada tahapan-tahapan lain yang masih bisa dipilih supaya dakwah Tauhid menjadi mudah diterima terkhusus di satu daerah yang memang membutuhkan strategi tersebut dan di satu sisi lainnya kaum Muslimun saat itu belum memiliki kekuatan memadai untuk berperang.

Status Berubah Menjadi Kafir Harby

Keadaan menjadi sangat genting, kegentingan itu terlihat jelas dengan senjata yang di bawa oleh setiap Muslim, tidaklah seorang dari mereka tidur saat itu kecuali ditangannya terdapat senjata, dan bahkan nyawa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pun menjadi terancam, dan barulah setelah keadaan bahaya dan genting benar benar mengancam kemudian perintah Jihad diturunkan.

Pengkhianatan dan arogansi yang dilakukan Yahudi dan Musyrikun di Madinah terhadap kaum Muslimin saat itu mengakibatkan perubahan atas status mereka, yang sebelumnya adalah sebagai kafir Dzimmy menjadi Kafir Harby, artinya mereka boleh diperangi dan di takhlukkan. Bagian ini betapa miripnya dengan pembakaran Masjid Tolikala, dimana kaum Kafir telah melanggar ketetapan dan kesepakatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, bahwa perusakan tempat ibadah selamanya adalah tindakan teror atas Agama dan pemeluknya yang sangat dilarang oleh Agama Islam dan Negara.

Nampaknya inilah alasan dari munculnya seruan Jihad dari beberapa pemimpin Ormas Islam, dan semangat itu sangat layak diapresiasi dengan dukungan dan rasa hormat yang tinggi, namun sayangnya urusan ini adalah ranah kewenangan pemerintah dan aparatnya, bagaimana pun kita masih terkait dengan pemerintah – terlepas dari hukum disyaratkan ataukah tidaknya izin pemerintah dalam Jihad – yang jika dilanggar maka bisa jadi akan kian memperburuk citra kaum muslimin yang memang tengah diobok-obok oleh tangan media-media raksasa yang kini menyelimuti kita, dan bisa jadi aparat pemerintah tidak akan segan-segan menghentikan dengan tegas terhadap siapa pun yang mencoba turut campur mengangkat senjata ke Tolikara, tentunya semua itu bisa dilandaskan oleh mereka dengan alasan menjaga stabilitas keamanan negara, jika sudah demikian maka nampaknya kemashlahatan yang hendak diraih melalui jihad malah bisa bisa berbalik menjadi Mafsadah hanya karena buruknya hubungan kita dengan pemerintah yang notabene masih sah dianggap sebagai Waliyyul Amri.

Posisikan Pemerintah Pada Fungsi dan Kehormatannya.

Papua bukanlah pulau yang tak bertuan, Tolikara bukan milik sebuah Ormas atau Sekte Dakwah tertentu, namun dia masih satu kesatuan dengan Negeri Indonesia, dan pemerintah pun telah menetapkan aturan baku dalam hal ini agar menjaga toleransi dan tidak membenarkan sikap arogansi dalam bentuk apa pun. Maka bijaknya adalah kita percaya kepada pemerintah untuk mengurus tragedi pembakaran Masjid Tolikara, serta mengedapankan baik sangka dan lemah lembut kepada pemerintah.

Mengancam pemerintah dan mendiktenya secara terbuka bukanlah sikap yang tepat secara Syar’i terlebih saat-saat ini wibawa pemerintah sangat diremehkan dan dianggap selalu tidak memihak terhadap rakyatnya. Maka janganlah hal menyedihkan itu lalu kita tambah dengan mengancam dan mendikte mereka.

Kita wajib bekerja sama dalam kebaikan bersama pemerintah, mendukung setiap keputusannya yang positif dan bersabar atas kebijakan mereka yang timpang, tentu siapa pun yang akan mengurusi “negeri para pengkritik” ini tentunya akan merasa miris jika setiap saat selalu dijelek-jelekkan dan dijatuhkan di depan Rakyatnya dan mengharapkan mereka sempurna adalah satu harapan yang tak punya dasar.

Abu Affaf