Haramkah Nyanyian Tanpa Musik?

Teduh.Or.Id – Tembang atau nyanyian yang diiringi musik adalah haram menurut pendapat mayoritas besar Ulama, kecuali Ibnu Hazm, beliau memiliki pendapat berbeda dalam hal ini, namun yang menjadi perhatian kita dalam kesempatan kali ini adalah tentang nyanyian yang tidak disertai dengan musik.

Karena keterbatasan, maka bahasan masalah ini kami cukupkan dengan menukil secara ringkas apa yang telah dituliskan oleh Syaikh Al-Albany Rahimahullah dalam kitabnya Tahrimu Aalatith Tarb, Bab ke-7, beliau berkata:

لا يصح إطلاق القول بتحريمه لأنه لا دليل على هذا الإطلاق كما لا يصح إطلاق القول بإباحته كما يفعل بعض الصوفيين وغيرهم من أهل الأهواء قديما وحديثا لأن الغناء يكون عادة بالشعر وليس هو بالمحرم إطلاقا

“Tidak sah mengatakan secara mutlak haramnya (nyanyian) karena tidak ada dalil atas pemutlakan seperti itu, seperti halnya tidak sah mengatakan secara mutlak kebolehannya (menyanyi) seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum Shufy dan yang selainnya dari kalangan ahli hawa nafsu sejak dulu mau pun saat ini, karena nyanyian biasanya terbentuk dengan syair dan syair bukanlah yang diharamkan secara mutlak.”

Kemudian Syaikh Al-Albany Rahimahullah menyebutkan beberapa hadits tentang Sya’ir dan setelah itu beliau menerangkan :

فأقول : وفي هذه الأحاديث والآثار دلالة ظاهرة على جواز الغناء بدون آلة في بعض المناسبات كالتذكير بالموت أو الشوق إلى الأهل والوطن أو للترويح عن النفس والالتهاء عن وعثاء السفر ومشاقه ونحو ذلك مما لا يتخذ مهنة ولا يخرج به عن حد الاعتدال فلا يقترن به الاضطراب والتثني والضرب بالرجل مما يخل بالمروءة

“Maka saya katakan : dalam hadits-hadits dan atsar ini (terkandung) petunjuk yang jelas atas bolehnya nyanyian dengan tanpa alat (musik) pada sebagian beberapa moment seperti (moment untuk) mengingat kematian, atau kerinduan kepada keluarga dan negeri, atau untuk merehatkan jiwa, dan memalingkan kelelahan yang diakibatkan karena safar (perjalanan jauh) dan kesulitan-kesulitannya, dan yang semisal dengan hal tersebut dari hal-hal yang tidak dijadikan sebagai profesi dan tidak mengeluarkan seorang dari batas i’tidal (normal dalam batasan Syar’i) karenanya, dan tidak diiringi dengannya (nyanyian itu) goyangan dan gerakan lemah gemulai, dan menghentak-hentakkan kaki (jingkrak-jingkrak) yang merupakan bagian dari perkara yang dapat merusak Marwah.

Sebagai bentuk kerelaan dan dukungan terhadap apa yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Jauziy Rahimahullah tentang masalah nyanyian dalam kitabnya Talbis Iblis (Hal. 237-241) Syaikh Al-Albany Rahimahullah menyebutkan ringkasan dari perkataan Imam Ibnul Jauzy tersebut, namun menurut penulis, ucapan yang paling penting dan senada dengan apa yang disebutkan sendiri oleh Syaikh Al-Albany Rahimahullah adalah kutipan berikut ini :

 وقد تكلم الناس في الغناء فأطالوا فمنهم من حرمه ومنهم من أباحه من غير كراهة ومنهم من كرهه مع الإباحة وفصل الخطاب أن نقول : ينبغي أن ينظر في ماهية الشيء ثم يطلق عليه التحريم أو الكراهة أو غير ذلك

 “Orang-orang telah membicarakan masalah nyanyian maka mereka memperpanjang bahasannya, sehingga di antara mereka ada yang mengharamkannya dan di antara mereka ada yang membolehkannya tanpa (ada unsur) Makruh, dan di antara mereka ada yang memakruhkannya disertai dengan (hukum) bolehnya, dan jalan tengahnya kami katakan : “Seharusnya dilihat ke unsur sesuatu (terlebih dahulu) kemudian (baru setelahnya) dimutlakkan atasnya hukum pengharaman, atau makruh, atau yang selain dari hal tersebut”.

Ucapan Imam Ibnul Jauzy Rahimahullah ini senada dengan perkataan Syaikh Al-Albany Rahimahullah seperti di awal tulisan, dan pendapat ini dapat dijadikan sebagai kesimpulan akhir dari hukum nyanyian tanpa alat musik, yaitu hukumnya disesuaikan dengan menimbang isi dari lirik nyanyian tersebut. Apabila liriknya mengandung hal-hal yang diharamkan dalam Islam, maka hukumnya pun haram, namun apabila liriknya tidak mengandung hal-hal yang diharamkan maka hukumnya pun menjadi boleh. Namun penting diingat, bahwa semua itu harus  dengan syarat dan ketentuan lainnya seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikh Al-Albany Rahimahullah yaitu hendaknya nyanyian tersebut tidak membangkitkan rasa ingin berjoget, jingkrak-jingkrak menghentak tanah, serta gerakan-gerakan yang dapat membawa seorang keluar dari batas normal terpuji seorang muslim secara Syar’i dan dapat merusak marwahnya.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

——————————–

Penulis adalah Alumnus Ma’had Darul Furqan Li Tahfizhil Qur’an dan Takhasshush Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri, Lobar-NTB. Pernah bermajelis di Rubath Al-Jufry Madinah al-Munawwarah yang diasuh oleh Habib Zain bin Sumaith, Alumnus Al-Jami’atul Islamiyyah Bil Madinatil Munawwarah Fakultas Hadits tahun 2010 M. Selain aktif di dunia pendidikan juga sekarang sebagai Konsultan Agama di Acara Khazanah Trans7.