‘Nggak Enakan’ yang Bisa Jadi Masalah

Kita yang hidup di Indonesia tentu sudah tidak asing dengan budaya nggak enakan. Ya, budaya yang lahir dari rasa hutang budi tersebut terasa sungguh melekat berkat ajaran di masa kecil. Di mana bila kita mendapatkan perbuatan baik, dianjurkan untuk memberi balasan minimal yang serupa. Tetangga kasih kita sayur opor, berharap kita bisa kasih sayur serupa untuk balasannya. Minimal gorengan lah. Hehe

Budaya nggak enakan ini sebetulnya punya dampak positif ketika diaplikasikan dalam hidup bermasyarakat. Kita jadi berusaha menghargai serta tidak mudah melupakan begitu saja kebaikan orang lain terhadap kita. Pokoknya setiap ada yang berbuat baik, secara otomatis kita ingin membalasnya dengan kebaikan yang sama. Itu kan bagus ya.

Tapi, ada tapinya nih. Sebenarnya ada dampak negatif juga, terutama kalau kita yang jadi pelaku kebaikan pertama kali. Terkadang bisa menimbulkan pamrih dari jerih payah tersebut. Sebagai muslim kita kadang lupa mengharap balasan dari Allah saja. Yang pastinya lebih baik daripada balasan dari makhluk.

Di sisi lain, saat kita jadi penerima kebaikan. Kita jadi tidak enak hati kalau tidak mampu membalasnya. Hal yang sebenarnya jadi membuat sulit diri sendiri. Coba bayangkan ada yang tiba-tiba kasih kita mobil Ferarri, apa iya kita mau balas yang serupa? Padahal duit gajian aja pas-pasan.

Jangan Dianggap Sepele

Kebiasaan berbalas kebaikan berujung nggak enakan tersebut, bisa makin runyam bila sudah menyangkut perkara akidah seorang muslim. Apalagi sedang ada momen hari raya keagamaan lain, mulai dari Nyepi, Waisak, atau yang terbesar tentu saja hari Natal seperti saat ini. Tambah terasa berat saat orang di sekitar kita yang berbeda keyakinan memberi ucapan selamat ketika Idul Fitri, misalnya.

Biasanya setelah mereka menunjukan sikap perhatian terhadap hari raya kita, dengan memberi ucapan selamat atau bahkan sampai memberi kado. Maka kita berpikir hal yang sama ketika hari raya mereka tiba. Asalnya karena nggak enakan itu tadi. Masak sudah dikasih perhatian, kita gak membalas perhatiannya juga. Duh.

Padahal momen tersebut bisa jadi seorang muslim sedang diuji pemahaman akidahnya, diuji keimanannya. Terutama momen hari Natal yang mana banyak orang merayakan, termasuk kalangan muslim yang menganggapnya sepele saja. Itu kan cuma ucapan, itu kan cuma basa-basi, atau ungkapan serupa yang sekelebat muncul di kepala kita. Sudah diucapkan “selamat Idul Fitri,” kenapa tak dibalas “selamat Natal, ya.

Eit, tunggu dulu. Jangan sembarang menganggap ucapan hanyalah sekadar ucapan tanpa makna. Karena semua yang keluar dari mulut kita, yang tertuang dari tulisan kita akan dimintai pertanggungjabawannya oleh Allah di akhirat kelak.

Bukankah suami bisa menceraikan istrinya dengan ucapan saja, meski dianggap main-main? Atau seorang kafir harbi bisa haram ditumpahkan darahnya bila dia berikrar syahadat, tanpa perlu dicek isi hatinya? Jadi, tak ada itu istilah sekadar, cuma, dan peremehan lainnya.

Bahkan paman Nabi shalallahu alaihi wa sallam paham, bahwa ucapan tak bisa dilakukan hanya karena nggak enakan. Konsekuensi yang mengikutinya harus juga dipikirkan. Sampai akhir hayatnya, toh sang paman tak juga berikrar syahadat di hadapan Nabi. Dirinya khawatir dan lebih takut dicela kaumnya. Seakan ada rasa nggak enakan yang lebih condong kepada kaumnya dibandingkan tuntunan Nabi.

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72)

 

Tak Cuma Membalas Ucapan

Ibnul Qayyim sudah menjelaskan bahwa memberi ucapan selamat natal, yang menjadi hari raya Nasrani, hukumnya haram. Para ulama pun sudah memberikan fatwa terkait hal tersebut dengan beragam penjelasannya.

Toleransi kita sebagai orang muslim tidak diukur dari rasa nggak enakan karena tidak membalas kebaikan tak berdasar ilmu tersebut. Toleransi kita sebatas pada membiarkan orang beragama lain menjalankan ibadahnya dengan aman. Perbuatan baik mereka kepada kita, sebisa mungkin dibalas dengan kebaikan serupa selama tidak menyentuh ranah akidah keislaman.

Ada banyak momen dalam hidup kita untuk memperlihatkan rasa simpati pun empati kita sebagai sesama manusia. Menjenguk ketika tetangga sakit, membantu saat ditimpa musibah, menyapa dan memberi senyuman dalam keseharian. Kepada mereka yang berbeda keyakinan, mereka yang tak meyakini Islam. Jadi tak cuma lewat membalas ucapan saja. Ada banyak cara di luar sana yang bisa dipraktikan.

Tak perlu gadaikan akidah kita untuk satu dua momen sesaat, namun bisa merusak dunia dan akhirat kita selamanya. Perbuatan yang bisa membuat Allah murka. Perbuatan yang hanya ingin memperlihatkan bahwa kita orang yang baik di hadapan orang lain. Itupun karena dasar nggak enakan itu tadi.

Yuk, sama-sama perlihatkan akhlak dan adab mulia dalam keseharian kita. Meski terasa berat dan sulit, tapi harus terus dicoba diusahakan. Kemudian buang saja rasa nggak enakan bila itu menjadi acuan kita selama ini.

Andaikan ingin tetap nggak enakan. Arahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nggak enakan karena sudah diberi rizki yang tak bertepi, petunjuk sunnah yang sedemikian jelas, masih saja berbuat maksiat pun melanggar syariat.  Luruskan niat karena mengharap ridha Allah, maka semua akan baik-baik saja. Insyaa Allah.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashsas: 56)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.