Ngaji Tanpa Arah

Ada dua bentuk ngaji tanpa arah:

a. Level orang awam
Ngaji yang tidak selektif. Asal ada pengajian, hadir. Tanpa mencari tahu tentang pemahaman, penguasaan ilmu, dan latar belakang dari pemateri/ustadz. Akhirnya menjadi bingung karena ilmu yang masuk menjadi bermacam-macam dan saling bertentangan.

Pada ulama terdahulu semisal Ibnu Sirin -rahimahullah mengatakan:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu itu agama, maka lihat dari mana kalian mengambil agama kalian.”

b. Level orang yang sudah lama ngaji
Ciri yang pertama: Ngaji tidak pakai skala prioritas.
Pada dasarnya semua ilmu agama itu penting. Tapi tetap ada urutannya. Jangan ngaji materi yang kalah penting dan malah meninggalkan yang lebih penting. Dari sahabat Jundub bin Abdullah -radhiyallahu ‘anhu- , beliau bercerita:

كنا غلمانًا حزاورة مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فتعلمنا الإيمان قبل القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيمانًا، وإنكم اليوم تعلمون القرآن قبل الإيمان

“Ketika kami masih kecil dulu, bersama Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, kami belajar iman terlebih dahulu sebelum belajar Al Quran. Kemudian setelah itu kami belajar Al Quran, maka iman kami bertambah. Adapun kalian pada hari ini belajar Al Quran terlebih dahulu sebelum belajar tentang iman..”

Maksudnya adalah belajar tentang aqidah, tauhid, rukun iman… Itu yang paling pertama dan utama..

Ciri yang kedua: Ngajinya tidak sistematis

Maksudnya adalah, dari yang dasar, yang kecil. Selain itu harus dengan
guru yang mumpuni ilmunya, dan sebagai murid harus sabar. Karena belajar secara sistematis itu butuh waktu lama.

Jika ingin belajar sekali langsung banyak, maka akan langsung hilang banyak juga.

Imam Az Zuhri berpetuah:

إن هذا العلم إن أخذته بالمكاثرة غلبك ولم تظفر منه بشيء، ولكن خذه مع الأيام والليالي أخذا رفيقا تظفر به

“Sesungguhnya ilmu ini, jika engkau mengambilnya langsung banyak-banyak, ia akan mengalahkanmu dan engkau pun tidak mendapat apa-apa darinya, Akan tetapi ambil ilmu itu hari demi hari, malam demi malam, seperti engkau menjadikannya teman dekatmu, maka barulah engkau akan berhasil dengan ilmu itu.”

Makanya, ngaji rutin lebih baik daripada insidental/tematik seperti kajian seperti ini. Bahkan sekarang populer istilah ngaji kuliner: Ngicip2 kajian, yang ini enak, yang itu gak enak. Padahal yang penting substansi (isi), bukan kemasan.

Sebagai penuntut ilmu jangan pilih-pilih kajian berdasarkan “ini ustadz lokal, saya tidak bersemangat untuk hadir”, malu karena sudah senior, atau yang semisalnya karena yang semacam ini termasuk bentuk kesombongan. Mujahid -rahimahullah- mengatakan:

لا يتعلم العلم مستحي ولا مستكبر

“Tidak akan bisa belajar ilmu: Orang yang malu, dan orang yang sombong”

Keuntungan ngaji sistematis:

1. Ilmunya matang.
Al Ustadz memberi contoh pertanyaan: “Apakah orang lupa takbiratul ihram shalatnya sah?”, ternyata di antara hadirin jawabannya masih berbeda-beda. Menunjukkan bahwa untuk hal yang sangat dasar saja mereka belum matang.

2. Tidak mudah terombang ambing di masa fitnah.
Misalnya ada pemberontakan kepada pemerintah yang sah walaupun zhalim, orang yang ngajinya sistematis tidak akan mudah terbawa.

3. Lebih cepat mengantarkan pada tujuan, yaitu surga.

Demikian kira2 ringkasan dari kajian tadi, yang diakhiri menjelang waktu zhuhur. Semoga ada manfaatnya.

Disarikan dari kajian ust Abdullah Zaen, Lc, MA
Masjid Cipaganti Bandung

Oleh : Al-Ustadz Ristiyan Ragil