Manhaj Al-Muwazanah: Bagaimana dan Seperti Apa?

Teduh.Or.Id – Al-Muwazanah, satu istilah kontemprer yang maksudnya adalah tuntutan keharusan agar menyebutkan kebaikan person atau satu kelompok di samping juga menyebutkan keburukan-keburukannya sehingga menjadi berimbang dan terdengar adil.

Al-Muwazanah tidaklah mutlak terlarang, terkadang adakalanya dibolehkan dan adakalanya harus dihindarkan, Al-Muwazanah dibolehkan pada saat hendak menimbang keadaan seorang atau person secara menyeluruh, hal ini seperti yang diceritakan oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby Hafizhahullah dari pendapat Syaikh Shalih Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah beliau berkata:

الواجب على من أراد أن يقوم شخصا – تقويما كاملا – إذا دعت الحاجة – أن يذكر مساوئه ومحاسنه

“Yang wajib atas siapa saja yang hendak menimbang seseorang – dengan timbangan yang lengkap – apabila memang dibutuhkan – agar menyebutkan keburukan-keburukannya dan kebaikan-kebaikannya.” [Manhaj Salafush Shalih Fi Ushulin Naqd Wan Nasha’ih. Hal. – 145]

Dalam catatan kaki kitab ini, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby menjelaskan bahwa ucapan Syaikh Shalih ‘Utsaimin Rahimahullah tersebut bukanlah sebagai wujud Manhaj Al-Muwazanah yang tercela, dan semestinya dapat dibedakan kapan saatnya Al-Muwazanah menjadi tercela dan kapan menjadi terpuji, beliau berkata :

والقول في التقويم غير القول في التحذير فلا تخلط

“Dan perkataan pada saat menimbang berbeda dengan perkataan pada saat mentahdzir, maka jangan kamu mencampur adukkannya!”

Akhirnya kita semakin dekat dengan kesimpulan, ternyata Al-Muwazanah yang tercela dan dicela oleh para ulama adalah Al-Muwazanah pada moment mengkritik dan mentahdzir Ahli Bid’ah. dan sebagai penguat hal ini, berikut fatwa [1] yang dikeluarkan oleh Markaz Al-Albany yang terletak di Yordania yang juga disepakati isinya oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby Hafizhahullah :  

Pertanyaan: “Kami menginginkan rincian dalam masalah Al-Muwazanah terhadap pelaku Bid’ah dengan Al-Muwazanah terhadap Ahlussunnah?

Jawaban : Al-Muwazanah – dalam istilah kontemporer – maksudnya adalah keharusan menyebut kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan orang yang dibicarakan, dan tidak diragukan sesungguhnya di situ terdapat perbedaan yang besar antara penerapan Al-Muwazanah terhadap Ahlussunnah dan terhadap Ahli Bid’ah, dan penjelasan tentang hal itu seperti berikut ini :

  1. Kebaikan-kebaikan Ahli Bid’ah tidak disebutkan dalam kesempatan mengkritik mereka – tidak boleh sama sekali – sebagai hukuman untuk mereka.
  2. Kebaikan-kebaikan Ahli Bid’ah tidak disebutkan karena kekhawatiran (hal itu dapat) menyebarkan kebatilan mereka dan (takut menjadikan orang-orang) tertipu daya dengan kebid’ahan mereka.

Dan di atas dasar (Manhaj) inilah praktik (yang diamalkan) oleh para Imam yang Tsiqoh (terpercaya) ditinjau dari sisi penerapan yang mereka lakukan dalam Al-Jarh dan At-Ta’dil dalam kitab-kitab Rijal.

  1. Adapun Ahlussunnah, maka boleh menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dalam kesempatan seperti pada moment-moment yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai antisipasi dari (munculnya) sikap kurang ajar terhadap mereka dan atau menjatuhkan mereka, (dan sebagai bentuk) tidak mempersoalkan kesalahan-kesalahan mereka, (dan semua itu hendaknya) dibarengi dengan kewajiban menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka yang keliru (namun tergolong) ke dalam Ahlussunnah – (sebagai bentuk) saling mewasiatkan (kebenaran) dan saling tolong menolong – dan menyampaikan nasehat kepada mereka dengan lembut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Dan oleh karena sebab hal ini, banyak terjadi di dalam tubuh ummat dari kalangan para imam yakni para pemimpin dan para ulama dan (juga) selain dari mereka yang berkumpul dalam dirinya dua perkara ini, Maka sebagian orang hanya membatasi menyebutkan kebaikan-kebaikannya dan hal-hal yang terpujinya (saja) karena dia bersikap Ghuluww (berlebihan) dan mengikuti hawa nafsu. Dan sebagian orang juga ada yang membatasi menyebutkan keburukan-keburukannya dan hal-hal yang tercelanya saja, karena berlebihan dan mengikuti hawa nafsu, dan Agama Allah (dalam urusan ini) ada di antara sikap orang yang berlebihan dan sikap orang yang acuh tak acuh, dan sebaik-baik urusan adalah yang pertengahannya. [ at-Tis’iniyyah 3/1033 ]

Oman Al-Balqa’ 17/Rajab/1424.H

Komite Fatwa : Syaikh Ali bin Hasan Al-Halaby/ Syaikh Masyhur bin Hasan Aalu Salman/ Syaikh Muhammad bin Musa Aalu Nashr/ Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly.

Demikian secara singkat tentang Al-Muwazanah ini penulis sampaikan, bahwa Muwazanah yang tercela adalah Muwazanah terhadap Ahli Bid’ah, adapun terhadap Ahlussunnah maka Muwazanah ini dibutuhkan dan bahkan kebaikan-kebaikannya harus dinampakkan dan kesalahan-kesalahannya ditutupi sebab yang menjadi patokan terhadap Ahlussunnah yang memiliki kesalahan adalah kebaikan-kebaikannya, Imam Syamsuddin  Adz-Dzhabay Rahimahullah berkata:

وإنما العبرة بكثرة المحاسن 

“.. dan sesungguhnya yang (menjadi) pertimbangan (hanyalah) dengan kebaikan-kebaikan yang banyak.” [Siyar A’lamin Nubala’ 20/46]

Dan berkata Imam Abdullah bin Al-Mubarak Rahimahullah:

 إذا غلبت محاسن الرجل على مساوئه، لم تذكر المساوئ، وإذا غلبت المساوئ عن المحاسن، لم تذكر المحاسن

“ِApabila kebaikan-kebaikan seorang lebih dominan di atas keburukan-keburukanya, (maka) keburukan-keburukannya tidak disebutkan, dan apabila keburukan-keburukan seorang lebih dominan di atas kebaikan-kebaikannya (maka) kebaikan-kebaikannya tidak disebutkan.” [Siyar A’lamin Nubala’ 8/352]

 

Bekasi 22/Maret/2017 M. – 23 Jumadal Akhirah 1438 H.

Musa Abu ‘Affaf. BA.

Alumnus Ma’had Darul Furqan Li Tahfizhil Qur’an dan Takhasshush Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri, Lobar-NTB. Pernah bermajelis di Rubath Al-Jufry yang diasuh oleh Habib Zain bin Sumaith, Alumnus Al-Jami’atul Islamiyyah Bil Madinatil Munawwarah Fakultas Hadits tahun 2010 M. Selain aktif di dunia pendidikan juga sekarang sebagai Konsultan Agama di Acara Khazanah Trans7.

—————————-

[1]  berikut ini adalah redaksi fatwanya dalam Bahasa Arab yang penulis kutip dari Muhammad Shuhaib al-‘Ashimy , salah seorang peserta diskusi dalam web berikut ini : http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9863

سؤال: نريد التفصيل في مسالة الموازنة مع المبتدعة، وبين الموازنة مع أهل السنة؟

الجواب : الموازنة -في الاصطلاح المعاصر- تعني لزوم ذكر الحسنات والسيئات في المتكلم فيه، وليس مِن شك أن هناك فرقاً كبيراً بين تطبيق الموازنات على أهل السنة وعلى أهل البدع، وبيان ذلك فيما يأتي

1) لا تُذكر حسنات أهل البدع في معرِض نقدِهم -ألبتّةَ-؛ عقوبة لهم.

2) لا تُذكر حسنات أهل البدع خشية الترويج لباطلهم والاغترار ببدعهم.

و على هذا الأصل عَمَلُ الأئمة الثقات من حيث تطبيق قواعد الجرح والتعديل في كتب الرجال.

3) أمّا أهل السنة فيجوز ذكر حسناتهم في مثل هذه المقامات دفعاً للجرأة عليهم وإسقاطهم، وإقالةً لعثراتهم.

مع وجوب بيان أخطاء المخطئين من أهل السنة -تواصياً وتعاوناً-، وإبداء النصح لهم برفق ولين.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-: ” . . . ولهذا يكثر في الأمة من أئمّة الأمراء والعلماء وغيرهم من يجتمع فيه الأمران، فبعض الناس يقتصر على ذكر محاسنه ومدحه غلواً وهوىً، وبعضهم يقتصر على ذكر مساوئه وذمه غلواً وهوىً، ودين الله بين الغالي فيه والجافي عنه، وخير الأمور أوسطها”. [“التسعينية” (3/1033″]

عمان البلقاء – 17/ رجب/1424هـ

لجنة الفتوى: علـي بن حسن الحـلبي / مشهور بن حسن آل سلمان / محمد بن موسى آل نصـر / سليـم بـن عيـد الهـلالي