Muslimah Jangan Potong Alismu

Wanita pada umumnya ingin selalu tampil cantik, dan sudah menjadi fitrahnya, mereka sangat suka bersolek, sehingga bukanlah satu hal yang aneh, jika mereka selalu dekat dengan cermin.

Tidak hanya pada zaman dan saat ini saja, namun dari sejak dulu kaum wanita memang suka berhias mempercantik diri. Mereka sebenarnya adalah perhiasan walau tanpa berhias, namun ternyata perhiasan memang butuh perawatan sehingga keindahannya dapat berlangsung lama.

Konon berhias dizaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dilakukan oleh kaum wanita di antaranya dengan cara memasang tato permanen dan mencabut bulu alis mereka. dan hal ini nampaknya masih lestari, sehingga sampai saat ini pun, banyak wanita yang melakukannya terutama mencabut atau memotong bulu alis mereka.

Tato dan memotong alis ternyata bentuk berhias yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, larangannya seperti yang dijelaskan dalam hadits dibawah ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ. قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ امْرَأَةً مِنْ بَنِى أَسَدٍ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ وَكَانَتْ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَأَتَتْهُ فَقَالَتْ مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِى عَنْكَ أَنَّكَ لَعَنْتَ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Dari Abdullah [bin Mas’ud] Radhiyallahu Anhuma beliau berkata; “Allah melaknat Al-Wasyimat dan Al-Mustausyimat, dan [melaknat] Namishat dan Al-Mutanammishat, dan melaknat Al-Mutafallijat untuk kecantikan yang [bersifat] merubah [asal rupa] ciptaan Allah. maka sampailah [ucapan] itu kepada seorang wanita dari [kabilah] Bani Asad yang disebut bernama Ummu Ya’qub. Beliau adalah seorang wanita yang membaca Al-qur’an, beliau menemui Abdullah dan berkata; “Hadits apakah yang telah sampai kepadaku darimu, sesungguhnya [isinya] engkau telah melaknat Al-Wasyimat dan Al-Mustausyimat, dan [melaknat] Al-Mutanammishat dan Al-Mutafallijat untuk kecantikan yang [bersifat] merubah [asal rupa] ciptaan Allah.?

 فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَمَا لِىَ لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ فِى كِتَابِ اللَّهِ فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ لَوْحَىِ الْمُصْحَفِ فَمَا وَجَدْتُهُ. فَقَالَ لَئِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ لَقَدْ وَجَدْتِيهِ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا) فَقَالَتِ الْمَرْأَةُ فَإِنِّى أَرَى شَيْئًا مِنْ هَذَا عَلَى امْرَأَتِكَ الآنَ. قَالَ اذْهَبِى فَانْظُرِى. قَالَ فَدَخَلَتْ عَلَى امْرَأَةِ عَبْدِ اللَّهِ فَلَمْ تَرَ شَيْئًا فَجَاءَتْ إِلَيْهِ فَقَالَتْ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا. فَقَالَ أَمَا لَوْ كَانَ ذَلِكِ لَمْ نُجَامِعْهَا.

Maka Abdullah berkata; “kenapa tidak aku tidak akan melaknat siapa saja yang telah dilaknat Rasulullah – Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – sedangkan ia [persoalan ini] ada di dalam kitab Allah.” Wanita ini berkata; “sungguh aku telah membaca firman Allah yang ada di antara kedua Lauh [sampul] Mushaf ini, dan aku tidak mendapatkannya.!? Abdullah berkata;”jika kamu telah membacanya sebenarnya kamu telah menemukannya, Allah berfirman; “Dan apa saja yang telah didatangkan kepada kalian oleh Rasul maka ambillah dan apa saja yang telah dilarang darinya maka berhentilah.” Wanita ini berkata: “sesungguhnya aku telah melihat sesuatu dari hal ini ada atas istrimu sekarang”. Abdullah berkata; “Pergilah dan [silahkan] lihat.” Maka masuklah wanita ini menemui Istri Abdullah namun ia tidak melihat apa pun, lalu ia kembali menemui Abdullah dan berkata; “Aku tidak melihat apa pun” maka Abdullah berkata; “ketahuilah, jika benar ada seperti itu, maka kami tidak akan menjima’nya.” [HR: Bukhari Muslim dan Redaksi Hadits dari riwayat Muslim]

Al-Wasyimat artinya wanita wanita tukang tato. Al-Mustausyimat artinya wanita wanita yang meminta di tato. Al-Namishat artinya wanita wanita tukang cabut bulu alis. Dan Al-Mutanammishat artinya wanita wanita yang meminta untuk dicabut alisnya. Al-Mutafallijat artinya wanita wanita yang merenggangkan bagian depan giginya sehingga nampak seperti gigi perempuan yang masih anak –anak dan muda.

 

Berhias semacam ini hukumnya haram, karena di dalamnya terdapat laknat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan laknat hanya pantas diletakkan pada perbuatan perbuatan yang haram tentunya.

Imam An-Nawawy Rahimahullah dalam Syarhnya atas hadits ini menyebutkan, bahwa keharaman hal tersebut karena di dalamnya terdapat perbuatan merubah asal rupa ciptaan Allah yang telah dianugerahkan atas setiap wanita, serta merupakan tindakan pemalsuan dan Tadlis [menyembunyikan keaslian dan memperlihatkan kepalsuan] (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim/ 333/ 13-14/ Darul Ma’rifah. Dengan kutipan bebas)

Selain persoalan berhias, dalam hadits ini juga terdapat banyak faidah lain, di antaranya; membiasakan melakukan klarifikasi atas sebuah berita, langsung ke sumbernya jika memang memungkinkan, seperti yang dilakukan oleh Ummu Ya’qub.

  • Dialog Ilmiyyah antara lelaki dan perempuan tidak dilarang demi mencapai kebenaran dan menghilangkan keraguan.
  • Ayat ke-7 surat Al-Hasyr adalah petunjuk umum yang meliputi semua bentuk perintah atau larangan dalam Syari’at Islam.
  • Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Hujjah dan sebagai perinci atas hal-hal yang masih bersifat umum di dalam Al-Qur’an.
  • Seorang yang berilmu dituntut keras agar dapat menjadi panutan untuk orang lain, baik itu dalam dirinya sendiri atau pun keluarganya, ini nampak jelas dari apa yang dilakukan oleh Ummu Ya’qub, beliau meminta izin untuk melihat keadaan istri Abdullah, apakah ia menjalankan atau tidak apa yang disebutkan oleh Abdullah.
  • Menurut Imam An-Nawawy Rahimahullah, boleh menceraikan istri yang bermaksiat kepada Allah, seperti melakukan hal hal yang dilarang dalam hadits ini, atau seperti seorang istri tidak mau Shalat.

Abu ‘Affaf