Musafir Jum’atan di Kereta?

Teduh.Or.Id – Sebagian saudara kita ada yang terpaksa harus pulang di hari jum’at menjelang waktu zhuhur atau satu jam sebelum zhuhur, sesuai dengan jadwal tiket kereta api yang telah mereka pesan.

Bagaimanakah dengan Shalat jum’atnya?

Shalat jum’at tidak wajib atas orang yang musafir menurut kesepakatan mayoritas ulama, Imam Ibnu Abdil Barr berkata:

أجمع علماء الأمة أن الجمعة فريضة على كل حر بالغ ذكر يدركه زوال الشمس في مصر من الأمصار وهو من أهل المصر غير مسافر   

Ibnu Abdil Barr pernah berkata: “Ulama Ummat ini telah bersepakat bahwa shalat jum’at merupakan Faridlah (kewajiban) atas setiap yang merdeka (bukan budak sahaya), baligh, lelaki, yang mendapati waktu matahari tergelincir dari poros tengahnya (zawal) di dalam sebuah wilayah domisili dan dia termasuk bagian dari warga wilayah tersebut dan ia tidak sedang musafir.” [1]

Selain itu, Imam Ibnul Mundzir juga menukil adanya Ijma’ ulama, bahwa yang wajib shalat jum’at hanyalah yang mukim saja, yang maksudnya tentu bahwa yang musafir tidak wajib, beliau berkata:

وأجمعوا على أن الجمعة واجبة على الأحرار البالغين المقيمين الذي لا عذر لهم

“Dan mereka bersepakat atas sesungguhnya shalat jum’at wajib atas orang-orang yang merdeka yang baligh yang mukim yang tidak ada halangan bagi mereka.” [2]

Bahkan walau pun waktu keberangkatan safarnya seorang pada hari jum’at maka tetap ia tidak wajib shalat jum’at dan ia tidak berdosa melakukan safar tersebut, Imam asy-Syafi’i Rahimahullah  berkata :

قال الشافعي : أخبرنا سفيان بن عيينة عن الأسود بن قيس عن أبيه أن عمر أبصر رجلا عليه هيئة السفر وهو يقول لولا أن اليوم يوم الجمعة لخرجت فقال له عمر فاخرج فإن الجمعة لا تحبس عن سفر.

Imam asy-Syafi’i berkata: “Sufyan bin ‘Uyainah telah memberitakan kepada kami dari al-Aswad bin Qais dari Bapaknya bahwa sesungguhnya Umar memperhatikan seorang lelaki di atas keadaan tengah musafir dan dia berkata: “kalau saja hari ini bukan hari jum’at aku akan keluar (pergi) maka Umar berkata kepadanya: “Keluarlah sebab sesungguhnya jum’at tidak menahan (siapa pun) dari melakukan safar.” [3]

Riwayat ini menunjukkan atas bolehnya safar pada hari jum’at dan sekaligus sebagai penguat atas tidak wajibnya shalat jum’at atas orang yang musafir, sebab jika seandainya wajib tentu saja Umar akan mencegah orang tersebut musafir agar bisa menghadiri shalat jum’at terlebih dahulu.

Imam Ibnul Mundzir berkata:

ومما يحتج به في إسقاط الجمعة عن المسافر أن النبي صلى الله عليه وسلم قد مرّ به في أسفاره جُمَعٌ لا محالة، فلم يبلغنا أنه جَمَّع وهو مسافر، بل قد ثبت عنه أنه صلى الظهر بعرفة وكان يوم الجمعة، فدلّ ذلك من فعله على أن لا جمعة على المسافر.   الأوسط 4/20

“Di antara dalil yang dijadikan sebagai hujjah dalam menggugurkan jum’at dari orang yang musafir adalah (perbuatan) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang pastinya telah melalui beberapa kali jum’at dalam beberapa safar yang beliau lakukan, namun tidak pernah sampai kepada kita berita beliau melakukan shalat jum’at pada saat safar, justeru kejelasan berita yang kuat sesungguhnya beliau shalat zhuhur di Arafah walhal saat itu hari jum’at, maka hal tersebut menunjukkan (satu bentuk) dari perbuatan beliau atas bahwasanya tidak ada (kewajiban) shalat jum’at atas orang yang musafir.” [4]

Dengan demikian maka semakin jelas bahwa orang yang musafir seperti saudara saudara kita yang akan pulang ke jawa atau daerah lainnya tidak dianjurkan mendirikan shalat jum’at di kereta dengan memaksakan diri untuk memilih khathib dan imam di dalam gerbong, sebab selain karena musafir, juga salah satu syarat sah shalat jum’at adalah pelaksanaannya di masjid sedangkan gerbong kereta tidak sesuai dengan syarat ini, sehingga kalau pun dilakukan maka bisa-bisa terancam shalat jum’atnya tidak sah. Wallahu A’lam.

Madzhab yang Mewajibkan Jum’at atas Orang yang Bepergian

Kemudian kesepakatan hukum ini (tidak wajibnya shalat jum’at atas orang yang musafir) hanya diselisihi oleh Dawud dan para pengikutnya.

Imam Ibnu ar-Rusyd berkata:

 وأما المختلف فيهما فهما المسافر والعبد فالجمهور على أنه لا تجب عليهما الجمعة ، وداود وأصحابه على أنه تجب عليهما الجمعة 

“Dan adapun dua (Syarat wajib shalat jum’at) yang diperselisihkan adalah orang yang musafir dan budak sahaya, maka mayoritas (Ulama) di atas kesepakatan bahwa tidak wajib atas mereka berdua jum’at, sedangkan Dawud dan sahabat-sahabatnya di atas pendapat wajib atas keduanya jum’at.” [5]

Pada kesempatan lainnya, beliau juga berkata:

وأما الشرط الثاني وهو الاستيطان فإن فقهاء الأمصار اتفقوا عليه لاتفاقهم على أن الجمعة لا تجب على المسافر عدا في ذلك أهل الظاهر لإيجابهم الجمعة على المسافر

“Dan syarat yang kedua adalah al-Istithan (menetap pada satu daerah secara permanen) maka sebenarnya para Ahli Fiqh dari berbagai negeri telah bersepakat atasnya (yakni bersepakat sebagai syarat wajib jum’at adalah al-Istithan) karena berdasarkan kesepakatan mereka bahwa jum’at tidak atas orang yang musafir, dan hal tersebut dipertentangkan oleh Ahli Zhahir karena mereka menghukumi wajib jum’at atas orang musafir.” [6]

Dengan lebih rinci Imam Ibnu Hazm berkata:

مسألة: وسواء فيما ذكرنا من وجوب الجمعة المسافر في سفره والعبد والحر والمقيم

“Permasalahan : Dan sama saja dengan apa apa yang telah kami sebutkan akan wajibnya jum’at adalah orang yang musafir di tengah perjalanannya, seorang budak sahaya, merdeka(bukan budak), dan orang yang menetap (tidak musafir).” [7]

Saat menyampaikan Ayat : 9 Surat al-Jumu’ah sebagai dalil atas wajibnya seorang musafir shalat jum’at, beliau juga menjelaskan :

فهذا خطاب لا يجوز أن يخرج منه مسافر، ولا عبد بغير نص من رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Maka inilah Khithab (firman Allah) yang tidak boleh keluar dari (cakupan keumumannya) orang yang musafir dan tidak juga budak sahaya dengan tanpa naskah (petunjuk) dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” [8]

Namun Penyelisihan pandangan Ibnu Hazm atau Ahli Zhahir dalam perkara ini atau yang lainnya terhadap Ijma’ ulama dianggap tidak sah menjadi pembatal terhadap Ijma’ yang telah mereka sepakati.

Imam an-Nawawy menjelaskan hal ini dalam bahasan hukum bersiwak, beliau berkata:

ولو صح إيجابه عن داود لم تضر مخالفته في انعقاد الإجماع على المختار الذي عليه المحققون والأكثرون

“Dan kalau seandainya benar akan wajibnya (bersiwak) dari (pendapat) Dawud maka penyelisihannya dalam terbentuknya ijma’ tidak mencederai, (ini berdasarkan) atas pendapat yang al-Mukhtar (yang dipilih) yang berada di atasnya ulama Muhaqqiqun dan kebanyakannya.” [9]

Semoga Bermanfaat.


[1] al-Istidzkar 2/44 Versi Maktabah asy-Syamilah

[2] al-Ijma’ 1/40 Kitabush Shalat. Versi Maktabah asy-Syamilah

[3] al-Umm 1/189. Versi Maktabah asy-Syamilah

[4] al-Ausath 5/325. Versi Maktabah asy-Syamilah

[5] Bidayatul Mujtahid 1/ 201/ Cet. Dar Ibnul Jauzy/ Kairo.

[6] Bidayatul Mujtahid 1/ 204/ Cet. Dar Ibnul Jauzy/ Kairo.

[7]  al-Muhalla/5/54/Cet.Maktabah Darut Turots. Kairo

[8] al-Muhalla/5/57/Cet.Maktabah Darut Turots. Kairo

[9] al-Minhaj Sharh Shahih Muslim bin al-Hajjaj/3-4/ 135/ Darul Ma’rifat – Bairut .