Muallaf Dalam Perspektif Fiqh

Teduh.Or.Id – Orang yang baru masuk Islam biasanya disebut Muallaf, masyarakat  menafsirkan muallaf sebatas dengan makna tersebut saja, walau pun hal itu tidak keliru, karena muallaf memang salah satu maknanya adalah untuk mereka yang baru memeluk islam. Lalu bagaimana makna muallaf sesungguhnya?

Imam al-Nawawiy Rahimahullah berkata;

والمؤلفة من أسلم ونيته ضعيفة أو له شرف يتوقع بإعطائه إسلام غيره

“Mu’allafah adalah siapa saja yang memeluk islam namun niatnya lemah, atau seorang yang memiliki kedudukan mulia yang akan menjadikan berislamnya orang lain dengan memberinya”[1]

Al-Syarbiniy dalam Syarhnya menjelaskan,

( والمؤلفة ) جمع مؤلف من التألف وهو جمع القلوب وهو ( من أسلم ونيته ضعيفة ) فيتألف ليقوى إيمانه ويألف المسلمين ويقبل قوله في ضعف النية بلا يمين ( أو ) من أسلم ونيته في الإسلام قوية ولكن ( له شرف ) في قومه ( يتوقع بإعطائه إسلام غيره ) من نظائره ولا يصدق في شرفه إلا ببينة

“Kata al-Muallafah adalah kata jamak dari kalimat al-Ta’alluf, dan al-Ta’alluf maknanya persatuan hati. Dan al-Mu’allafah, ia adalah siapa saja yang memeluk islam walhal niatnya lemah, sehingga dita’lif guna menguatkan imannya, dan (demikian pula) kaum muslimin dita’lif. Dan pernyataannya dalam hal “lemah niatnya” dapat diterima dengan tanpa sumpah. Atau al-Muallafah adalah siapa saja yang memeluk Islam walhal niatnya dalam berislam kuat akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia di dalam kaumnya  yang dengan memberinya pemberian akan menjadikan berislamnya orang lain dari kalangan orang-orang yang setara dengannya, dan tidak dapat dibenarkan dalam hal (klaim) kedudukan mulianya kecuali dengan bukti.” [2]

Deskripsi di atas ini telah memberikan kita gambaran yang jelas tentang hakikat muallaf, yang intinya terletak pada ada atau tidaknya kebutuhan untuk menguatkan hati seorang yang masuk Islam tersebut, jika ada maka ia termasuk Muallaf sehingga berhak menerima zakat.

Deskripsi di atas juga telah memberikan kita gambaran jelas, bahwa seorang yang memiliki kemuliaan di antara masyarakatnya bila memeluk Islam, dan walaupun imannya kuat dapat dikatakan Muallaf, hanya saja ini ditinjau dari sisi manfaat yang akan dihasilkan dari melakukan Ta’lif kepadanya, dan manfaat itu adalah diharapkannya orang lain yang seperti dirinya atau orang-orang yang di bawahnya ikut masuk memeluk Islam.

Dari itu tidak semua shahabat Nabi ﷺ yang baru masuk Islam kala itu dijuluki dengan Muallaf, karena tidak semuanya di-Ta’lif dengan harta, akan tetapi hanya sebagian saja dari mereka yang disebut sebagai Muallaf, di antara mereka yang di-Ta’lif kala itu, seperti yang dijelaskan al-‘Allamah al-Syakaniy Rahimahullah:

 وقد أعطى النبيّ صلى الله عليه وسلم جماعة ممن أسلم ظاهراً كأبي سفيان بن حرب ، والحرث بن هشام ، وسهيل بن عمرو ، وحويطب بن عبد العزى ، أعطى كل واحد منهم مائة من الإبل تألفهم بذلك ، وأعطى آخرين دونهم

“Nabi  ﷺ telah memberikan (harta) kepada sekelompok orang yang telah berislam secara zhahir seperti Abu Sufyan bin Harb, al-Harts bin Hisyam, Suhail bin ‘Amr, Huwaithib bin Abdil’uzza, Nabi ﷺ memberikan masing-masing dari mereka seratus ekor unta sebagai Ta’lif hati mereka dengannya.”[3]

Oleh karena itu, tidak semua yang baru Islam disebut sebagai Muallaf, sehingga berhak diberikan kepadanya zakat, namun dilihat sebab-sebab yang telah dijelaskan di atas.

Terlebih dalam hal ini, orang yang masih kafir terkadang disebut sebagai kelompok Muallaf dengan ketentuan demi menghindari kejahatannya, atau mengharap kesilamannya sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqh.[4]


[1] Al-Minhaj al-Thalibin (1/297) al-Syamilah

[2] Mughnimuhtaj (3/109) al-Syamilah

[3] Fathulqadir (1/683) Cet. Al-Rusyd.

[4] dorar.net