Miki Hat: Topi Tanpa Lidah untuk Ibadah

Teduh.Or.Id – Perkembangan dakwah Islam di kalangan pemuda kota besar seakan menemukan momentum yang tepat beberapa tahun belakangan ini. Dibantu dengan makin mudahnya akses dakwah di internet serta meluasnya penggunaan sosial media. Disusul hadirnya para qori muda berpenampilan gaull, sampai para selebriti yang ramai-ramai berhijrah. Akhirnya membuat para pemuda yang memiliki kesamaan rasa makin yakin turut berhijrah dan berdakwah. Belajar agama, tanpa harus merubah penampilan secara yang disuka.

Stigma bahwa orang yang belajar agama harus memakai gamis atau sarung, serta songkok tinggi, seperti para santri di pondok pesantren kemudian menguap. Kini belajar agama, disertai contoh dari pemuda lain yang lebih dulu hijrah, bisa dilakukan dengan pakaian sehari-hari. Toh, memang tidak ada masalah selama masih dalam koridor syariat yang dibolehkan. Tidak lupa dengan tetap memerhatikan adab yang ada.

Kesadaran para pemuda hijrah untuk menyesuaikan penampilannya, ternyata ditangkap sebagai peluang pasar untuk para pedangang busana muslim. Maka muncul model koko denim elegan, gamis kaos serta celana tak isbal jenis slim fit. Tak berhenti di situ, muncul juga penutup kepala revolusioner yang dikenal dengan nama Miki Hat.

Jenis penutup kepala Miki Hat semakin berkembang belakangan, terutama ketika brand busana muslim mulai serius membuat desain lebih premium. Model yang anti-mainstream juga membuatnya lebih mudah terdongkrak dan diterima pasar muda yang ingin tampil beda.

Miki Hat Teduh
Topi gahul, inspirasi dari para pelaut.
Pendahulu Miki Hat

Miki Hat bukanlah hasil desain dari Indonesia. Jenis topi ini sudah lebih dulu hadir di luar negara barat sana dan dikenal sebagai Miki Cap. Dibawa ke Indonesia dengan sedikit penyesuaian dengan mengurangi besar lipatan dan bahan yang lebih tipis.

Konsep desain dari Miki Hat jika diperhatikan dengan seksama seperti meniru pendahulunya yakni beanie hat atau di sini dikenal dengan sebutan kupluk. Topi yang berbahan dasar wol rajut ini biasa digunakan oleh para pendaki gunung sebagai penghangat kepala. Dan memang asalnya juga dari negara bermusim dingin seperti Eropa dan Amerika. Pun muncul dipakai para rapper sebagai penunjang penampilan jalanan mereka.

Miki Hat Teduh
Vila kang, vila!

Istilah Beanie sendiri konon merupakan kepanjangan dari kata dasar “Bean” atau kacang polong. Mungkin karena kepala orang yang sedang menggunakan topi tersebut terlihat seperti sebuah biji kacang. Istilah yang lazim dipakai dalam bahasa slang di barat sana. Seperti halnya penggunaan frasa Jarhead, untuk menyebut kepala para prajurit yang dicukur plontos.

Beanie hat biasanya memiliki model lipatan pada bagian ujung bawah topinya. Fungsinya sebenarnya untuk memudahkan pandngan mata saja. Karena biasanya beanie hat memiliki model desain berukuran panjang, agar dapat menutupi telinga dari penggunanya di cuaca yang dingin.

Inspirasi lain Miki Hat juga mengacu pada topi pelaut atau sailor cap. Model lipatan pada sekeliling bawah topi mirip seperti Miki Hat saat ini. Konsep ala pelaut inilah yang lebih dekat kepada desain Miki Hat saat ini. Beberapa brand menyebutkan produk Miki Hat sebagai miki sailor cap.  Inilah yang membuat sailor cap lebih ayak disebut sebagai bapak dari Miki Hat.

Kedua konsep awal dari Miki Hat tersebut, jelas memperlihatkan bahwa topi ini memang dilahirkan untuk kebutuhan mode kaum muda.

Topi Tanpa Lidah

Pertama kali melihat penutup kepala bernama Miki Hat ini, penulis sempat berpikir bahwa desainnya lumayan aneh dan menabrak pakem. Berbeda dengan peci atau songkok yang biasanya dipakai untuk salat ke masjid. Miki Hat memang sebuah topi meski dilihat dari bagian belakang. Itu karena keberadaan velcro atau dot pengatur besar ukuran kepala.

Tampak pada bagian samping, justru malah menyerupai beanie hat atau sailor cap yang disebutkan sebelumnya. Dengan model lipatan yang besar sehingga cukup ruang untuk menyimpan uang kertas di dalamnya. Perpaduan konsep topi dan kupluk itulah yang membuat Miki Hat tampak asing ketika pertama mulai dipakai pemuda hijrah di Indonesia. Semakin aneh saat melihat bagian depannya tidak memiliki lidah selayaknya topi pada umumnya.

Miki Hat Teduh
Mirip topinya Miki Moz

Lalu dari mana nama Miki Hat itu hadir? Apakah berasal dari Miki Tikus (Mickey Mouse) dari Disney? Agaknya memang demikian adanya. Bila kita melihat pada beberapa seri suvenir untuk topi Miki Tikus, memiliki dasar Beanie Hat yang ditambahi kuping besar di bagian kanan kirinya. Tetap dengan lipatan pada bagian samping topi, mengitari sekililing kepala.

Desain yang sama namun menyertakan ramuan yang berbeda. Toh, bila mengambil nama beanie hat (lagi), secara pemasaran kurang menjual dan tidak “fresh”. Sedangkan nama Mini juga tidak mungkin, karena topi ini dipakai untuk para ikhwan, bukan para ukhti. Konsumen pun pasrah saja ketika penjual menyebutnya dengan nama Miki Hat.

Lewat topi ini bertambah satu lagi alternatif penutup kepala untuk beribadah kepada Allah. Setelah sebelumnya kita sering menemukan songkok yang dipakai para pejabat. Atau peci putih yang biasa dipakai oleh para alumnus haji di Mekah. Semakin banyaknya pemuda hijrah yang menggunakan Miki Hat di kala salat, perlahan menasbihkan topi tanpa lidah ini sebagai aksesoris ibadah kaum muslimin.

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” 

(Al A’raf: 31)

Bagi yang Baru Hijrah

Miki Hat laksana cendawan di musim hujan. Kehadirannya mengiringi fenomena hijrahnya para pemuda di kota besar, yang referensi hidupnya sedikit banyak terpengaruh aktivitas sosmed mereka. Umumnya pemuda masih ingin tetap diterima di lingkungan pergaulan,meski sudah tumbuh kesadaran beragamanya. Maka salah satu caranya adalah lewat penampilan yang fashionable.

Penulis pernah bertanya kepada salah satu teman, yang juga seorang ustaz lulusan madinah. Di mana dirinya sering menggunakan Miki Hat dalam keseharian. Apa yang menyebabkan dia begitu gandrung menggunakan penutup kepala kekinian tersebut, sementara teman seangkatan atau ustaz lain memilih menggunakan peci atau songkok? Jawabannya secara makna kurang lebih, “agar bisa membaur dan tidak dianggap ngustaz.

Gaya pemuda hijrah milenial.

Teman penulis memang bukan sosok yang ingin ditokohkan dan cenderung low profile. Pada tingkatan tertentu mungkin hal tersebut juga dirasakan para pemuda hijrah. Karena stigma yang terbangun di tengah masyarakat awam kurang lebih, orang yang sudah hijrah maka dengan segera akan dilabeli sebagai ustaz. Mungkin karena sebegitu langkanya melihat pemuda yang taat di ruang publik, bukannya di lingkup pesantren.

Pemuda hijrah sudah mulai sadar pentingnya menjalankan perintah agama, baik yang wajib maupun sunah. Ketika niat hijrah mereka dibarengi perubahan penampilan, muncul pula keinginan agar apa yang tampak tidak menjadi penghalang dalam keseharian. Bisa jadi terasa sulit, bila orang kantoran yang baru hijrah, mendadak memakai sirwal 3/4 dan songkok saat bekerja.

Maka kombinasi sirwal kantor, kemeja koko slim fit, dan peci Miki Hat terlihat bersanding serasi membaur dengan mode pakaian kekinian. Dan juga seperti yang teman penulis katakan, bahwa apa yang dipakai mungkin lebih memudahkan seseorang dalam usahanya mendakwahi teman dan koleganya untuk turut hijrah di jalan kebaikan.

Sesuaikan dengan Situasi Kondisi

Ada banyak penutup kepala yang biasa dipakai kaum muslimin di Indonesia bahkan seluruh dunia. Dari model peci atau songkok ala orang Indonesia, sampai turban, imama, sampai papakha yang dipopulerkan oleh Khabib Nurmagumedov. Hingga akhirnya kini muncul Miki Hat sebagai salah satu bentuk memperbagus diri dari kalangan milenial.

Kesemua perbedaan tentu menjadi khazanah luasnya wilayah cakupan agama Islam di seluruh dunia. Maka mungkin perlu juga berkaca diri jika hendak menggunakan salah satu model penutup kepala di atas. Di mana akan sangat aneh dan mencolok jika orang Indonesia memakai papakha yang terlihat seperti rubah besar di kepala. Sebab model tersebut akan lebih cocok dipakai di wilayah beriklim dingin tentunya.

Sementara juga membayangkan bila seorang ulama besar memilih memakai Miki Hat. Bisa jadi akan jatuh wibawanya dan terlihat konyol di mata jamaah kaum muslimin. Semunay kembali kepada situasi dan kondisi tiap orang yang pasti berbeda. Maka bila Anda tidak nyaman memakai model Miki Hat, tak perlu sungkan untuk terus menggunakan songkok khas Indonesia. Untuk penulis sendiri, belakangan mencoba memakai Miki Hat, yang ternyata nyaman juga dipakainya.

Miki Hat memang menjadi fenomena tersendiri di tengah berkembangnya dakwah Islam di kalangan pemuda. Mungkin saja ada pro dan kontra bagaimana seorang muslim seharusnya berpakaian. Ada yang saklek harus memakai gamis atau sarung jika sudah hijrah. Sementara orang yang lain bisa menilai lebih fleksibel.

Pada akhirnya, semua kembali kepada kebutuhan dan kepentingan masing-masing indvidu. Dilihat pada kesesuaian dan kedudukan orang tersebut di tengah lingkungannya. Mana yang memudahkan dakwah Islam bisa tersebar tanpa perlu melanggar syariat yang telah ditetapkan. Semoga bermanfaat.

 


Foto: dari berbagai sumber

 

 

One thought on “Miki Hat: Topi Tanpa Lidah untuk Ibadah

  • December 5, 2018 at 5:28 pm
    Permalink

    Masyaallah.. Lanjutkan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.