Merendahkan Al-Qur’an Jasadnya Ditolak Bumi

Teduh.Or.Id – Orang-orang yang tidak beriman kepada al-Qur’an dan tidak meyakini kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengira bahwa al-Qur’an bisa direkayasa dan mudah diobok-obok.

Sejarah telah membuktikan hal tersebut, bahkan al-Qur’an sendirilah yang menyebutkan bahwa betapa mereka dulu telah mengira bahwa wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah dongeng, Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

 وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: “Dan mereka berkata (al-Qur’an) adalah dongeng orang-orang dulu yang telah dia minta dituliskan maka dia (al-qur’an) dibacakan kepadanya  setiap pagi dan sore.” {QS: al-Furqan : 5}

Walau pun mereka tidak ditimpakan azab secara langsung di dunia atas kekufuran mereka dan sesungguhnya hal itu adalah bagian dari bentuk rahmat Allah ‘Azza Wajalla terhadap mereka, Allah berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلًا

Artinya: “Dan Rabb-mu Maha Pengampun lagi Maha Pemilik Rahmat, jika Dia membalas mereka (di dunia) dengan apa apa yang telah mereka lakukan niscaya Dia mempercepat azab itu untuk mereka, namun mereka diberi satu perjanjian (hari kiamat) yang mereka tidak akan pernah dapat mengelak darinya”. (QS: al-Kahfi 58).

Namun terkadang Allah menampakkan dan memperlihatkan kepada manusia bagian kecil dari azab atas mereka seperti misalnya jasadnya tidak diterima bumi. Dan ini pernah terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

عن أنس رضي الله عنه قال كان رجل نصرانيا فأسلم وقرأ البقرة وآل عمران فكان يكتب للنبي صلى الله عليه وسلم فعاد نصرانيا فكان يقول ما يدري محمد إلا ما كتبت له فأماته الله فدفنوه فأصبح وقد لفظته الأرض فقالوا هذا فعل محمد وأصحابه لما هرب منهم نبشوا عن صاحبنا فألقوه فحفروا له فأعمقوا فأصبح وقد لفظته الأرض فقالوا هذا فعل محمد وأصحابه نبشوا عن صاحبنا لما هرب منهم فألقوه فحفروا له وأعمقوا له في الأرض ما استطاعوا فأصبح وقد لفظته الأرض فعلموا أنه ليس من الناس فألقوه. رواه البخاري

Dari Anas Radliyallahu ‘Anhu beliau berkata: “Ada seorang lelaki Nasrani lalu memeluk Islam dan kemudian dia membaca (Surat) al-Baqarah dan Ali-Imran, Dia menulis wahyu untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun Dia kembali menjadi seorang Nasrany dan dia berkata: “Muhammad tidak mengetahui kecuali apa yang aku tulis untuknya” lalu Allah mematikan dia dan kaumnya menguburkannya, keesokan harinya bumi telah memuntahkan jasadnya, maka mereka pun berkata: “ini adalah perbuatan Muhammad dan para Shahabatnya manakala dia kabur dari mereka, mereka telah membongkar kubur teman kami dan mencampakkannya. Maka mereka pun menggali liang kubur untuknya dan (kali ini) mereka menggali dengan dalam,  keesokan harinya bumi telah memuntahkan jasadnya. Dan mereka berkata lagi : “ini adalah perbuatan Muhammad dan para Shahabatnya manakala dia kabur dari mereka, mereka telah membongkar kubur teman kami dan mencampakkannya. Maka mereka pun menggali liang kubur untuknya dan (kali ini) mereka menggali dengan dalam sampai batas yang mereka mampu, keesokan harinya bumi telah memuntahkan jasadnya, sehingga mereka akhirnya mengetahui bahwa hal ini bukan sebab (perbuatan) manusia lalu mereka pun membuangnya.” [[HR: al-Bukhary No.3617. dari Fathulbary 8/293-294/Cet.Dar Thayyibah-Riyadl]]

Ternyata bukan hanya orang yang merendahkan Nabi dan al-Qur’an saja yang pernah tidak diterima jasadnya oleh bumi, namun hal serupa juga pernah dialami oleh seseorang bernama Muhallim bin Jutsamah,[1] jasadnya tidak diterima oleh bumi karena ia telah membunuh seorang yang telah mengucapkan kalimat Syahadatain, beberapa hari kemudian ia pun meninggal dunia dan keesokan hari jasadnya sudah berada di atas tanah,  dan ketika peristiwa ini diadukan oleh para shahabat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

     إن الأرض تقبل من هو شر منه ولكن الله أراد أن يريكم عظم الدم عنده

“Sesungguhnya bumi menerima orang yang lebih buruk dari dia namun tetapi Allah ingin memperlihatkan kepada kalian beratnya (dosa menumpahkan) darah di sisi-Nya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrany dalam al-Mu’jamul Kabir No.5456. (6/42.) Versi al-Maktabah asy-Syamilah, dan oleh Imam Abu Ja’far ath-Thahawy dalam Syarh Musykilul Atsar No.3234. 8/277. Cet. Muassasah al-Risalah Versi Pdf.

Juga dikeluarkan oleh Imam ibnu Jarir ath-Thabary seperti yang dinukil Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya 1/705 Cet. Muassasah al-Rayyan. Dan oleh imam asy-Syaukany dalam fathul Qadir 1/381 Cet. Maktabah ar-Rusyd. dengan redaksi:

إن الأرض تقبل من هو شرّ من صاحبكم ، ولكنّ الله أراد أن يعظكم

“Sesungguhnya bumi menerima orang yang lebih buruk dari dia namun tetapi Allah hendak memperingatkan kalian”.

Maka siapa saja hendaknyalah berhati-hati agar tidak meremehkan Nabi dan al-Qur’an dan juga semua dosa lainnya, sebab sesungguhnya azab Allah ‘Azza Wajalla adalah nyata.


 

[1]

وقد قيل إن هذا ليس محلم بن جثامة فإن محلم بن جثامة نزل حمص بأخرة ومات بها في إمارة ابن الزبير والاختلاف في المراد بهذه الآية كثير مضطرب فيه جداً قيل: نزلت في المقداد وقيل: نزلت في أسامة بن زيد وقيل في محلم بن جثامة وقال ابن عباس: نزلت في سرية ولم يسم أحداً وقيل نزلت في غالب الليثي وقيل: نزلت في رجل من بني ليث يقال له فليت كان على السرية وقيل: نزلت في أبي الدرداء وهذا اضطراب شديد جداً ومعلوم أن قتله كان خطأ لا عمداً لأن قاتله لم يصدقه في قوله. والله أعلم

Ibnu Abdil Barr Rahimahullah berkata: “Dan sebenarnya ada yang berpendapat bahwa orang ini bukanlah Muhallim bin Jutsamah karena Muhallim bin Justamah datang ke Hamsh agak terlambat dan beliau wafat di sana pada masa pemerintahan Ibnuz Zubair, dan perbedaan pendapat dalam penentuan sosok yang dikehendaki dalam Ayat ini banyak dan sangat tidak konsisiten di dalamnya. – Kemudian beliau menyebutkan beberapa nama tokoh sampai akhirnya beliau mengakhirinya dengan berkata : –  “Dan ini Idh-Dhirab (tidak konsisten dalam riwayat) yang keras sekali dan dimaklumi bahwa pembunuhannya adalah tersalah bukan dengan sengaja karena orang yang membunuhnya tidak mempercayai ucapannya.” Wallahu A’lam. ( al-Isti’ab Fi Makrifatl Ash-hab 1/459 Versi al-Maktabatah asy-Syamilah.)