Menyoal Pewarisan Dendam; Mencatat yang Terserak dari Pak Natsir

Bila kita membabar dan menyimak peri hidup seorang Mohammad Natsir, mantan perdana menteri, menteri penerangan, sekretaris umum Persatuan Islam, anggota majelis penasehat Persatuan Islam di masa kepemimpinan Endang Abdurrahman dan Abdul Latief Muchtar, ketua partai Masyumi, anggota dewan konstituante sampai ketua dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia tentu akan panjang bila kita mesti membabar satu per satu hikayat perjuangan hidupnya tersebut. Teladannya yang dengan malu-malu disusuri bahkan terus diteladani oleh mereka yang setia mengaguminya. Ia memang sosok berbeda diantara banyak sosok lain seperti dirinya di repulik ini. George M Turman Kahin, seorang Indonesianis asal Amerika bahkan pernah dibuatnya geleng-geleng kepala. Seusai berbincang hangat dengan Haji Agus Salim, sang diplomat jenaka penopang republik. Ia diperkenalkan oleh sang diplomat kepada sosok Mohammad Natsir ketika pertanyaan sederhana dilontarkannya kepada Agus Salim. Tanya yang kurang lebih berbunyi, apakah saya bisa melihat Indonesia dari sudut pandang lain. Maka, orang yang bisa menjawab tanya Kahin tersebut hanya seorang Mohammad Natsir, seorang perdana menteri yang di hari pengunduran dirinya dari jabatannya tersebut memilih pulang mengendarai sepeda dengan disopiri oleh sopir pribadi saat dirinya masih tercatat sebagai salah satu pejabat penting di republik ini.

Lalu, kisah-kisah perjuangannya. Ketekunannya, kesabarannya juga keuletannya dalam belajar menjadi teladan lain bagi ribuan generasi yang masih bersetia mengunduh ilmu dari jejak-jejaknya. Atau kisahnya saat dirinya memilih berjuang bersama dalam naungan PRRI / Permesta. Memperjuangkan marwah negeri sampai pada satu titik dimana dirinya dituding dan diberi stempel sebagai pengkhianat negeri oleh rezim yang saat itu memimpin. Sebuah stempel yang sampai hari ini barangkali belum terhapuskan meski di tahun 2008 dirinya diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional republik. Tapi, menarik bilamana kita menyimak kisah keteladanannya yang menakjubkan. Tengok saja, ketika rezim yang memberi dirinya stempel seperti itu tengah didera kesulitan ekonomi dan hal lainnya. Ia dengan ringan tangan turut membantu meski hanya sekedar diplomasi dengan negara-negara yang sebagian pucuk pimpinannya merupakan sahabat terbaiknya. Seperti saat kisah Perdana Menteri Malaysia yang menolak dua utusan republik hanya karena permah memenjarakan dirinya. Ia justru langsung berkirim selembar surat meminta sang perdana menteri menemui dua utusan republik tersebut. Atau pertanyaan dari seorang petinggi kerajaan Arab Saudi yang mempertanyakan mengapa republik tega berbuat zalim seperti itu kepada seorang tokoh yang karya baktinya untuk menjaga marwah dan kedaulatan republik demikian banyak.

Dari fragmen kisah di atas kita belajar tentang siapa sesungguhnya sosok penyelamat republik ini. Sang penggagas Negara Kesatuan Republik Indonesia lewat Mosi Integral-nya yang menggetarkan itu. Ia justru menampilkan pribadi yang sangat cemerlang. Pribadi utuh yang kisahnya tentu tak banyak lagi dipanggungkan. Keteladanannya dikubur dalam-dalam sampai banyak yang kesulitan menggali kisah-kisah terbaiknya hingga yang tersisa hanya soal perlakuan tak adil rezim pada seorang lelaki yang karya baktinya purna diberikan demi tegaknya marwah sebuah republik bernama Indonesia juga demi terjaganya izzul Islam wal muslimin. Kelak, darinyalah kita belajar tentang ketulusan yang tak berhingga. Tentang dendam yang tak boleh diwariskan. Tentang rasa mengikhlaskan meski itu berat dijalankan sebab teramat panjang dan dalam perih dirasakan ia selama bertahun-tahun sisa hidupnya.

Maka, ketika rezim membencinya. Justru fragmen-fragmen lain seperti membasuh seluruh luka di dadanya. Kisah persahabatan antara Siti Moechlisah, sang puteri dengan Siti Herdiyanti Rukmana, puteri pak Harto, sosok yang konon membenci kehadiran seorang Natsir. Dua anak perempuan ini nampak karib menjalani persahabatannya di tengah badai permusuhan yang menerjang sosok ayahanda mereka. Bahkan, dalam satu kesempatan ketika keluarga Cendana hendak mengadakan pernikahan dengan adat Minang ditunjuklah Siti Moechlisah untuk turut membantu persiapan pernikahan Bambang Tri Hatmodjo dengan Siti Agustina Kamil. Rikuh sudah pasti. Sebab, banyak orang bertanya-tanya puteri seorang pak Natsir bisa berkeliaran bebas di rumah Soeharto. Atau kisah tentang saling berkirim makanan antara dua keluarga ini. Rendang paru khas Minang yang dibuat Ummi Nur Nahar selalu menjadi hantaran wajib bilamana Idul Fitri menjelang. Bahkan, tidak ada satu orang pun yang diizinkan mencicipi rendang paru itu sebelum yang empunya rumah memakannya. Lalu, ada kue-kue kering yang juga menjadi hantaran wajib dari keluarga Cendana untuk keluarga pak Natsir. Ah, indahnya fragmen kisah yang tak pernah tertulis utuh dalam rangkaian perjalanan sejarah bangsa ini.

Maka, berkaca dari kisah di atas tentu kita bertanya apakah ada ‘pewarisan dendam’ diantara mereka. Tentu, banyak orang yang akan menyangsikannya bahkan cenderung meragukan dan menganggap bahwa kisah persahabatan Siti Moechlisah dan Siti Herdiyanti Rukmana adalah bohong belaka. Namun, bila itu benar atau tidak benar. Maka, satu yang kelak kita pelajari dari kisah itu bahwa benci ataupun dendam bukanlah warisan yang bisa diturunkan kepada generasi anak cucunya. Sebab bisa jadi, ketika ayah keduanya sama-sama berseteru, justru tali temali persahabatan dijalin demikian erat anak-anaknya. Sebab sejatinya pak Natsir tidak mewariskan apa-apa kecuali adab luhur seorang manusia yang sepanjang hidupnya tersepuh gerak-gerik juga akhlak utuh baginda Nabi.***

Daftar Pustaka :

  • Ajip Rosidi, M Natsir : Sebuah Biografi : Jakarta, Girimukti Pasaka, 1990
  • Tim TEMPO, Natsir : Politik Santun Diantara Dua Rezim : Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Majalah Tempo, 2011.

Tentang Penulis :

Aldy Istanzia Wiguna merupakan tenaga pengajar di Pesantren Persis 20 Ciparay. Saat ini diamanahi sebagai ketua umum Pesantren Sastra, lembaga pengkajian budaya dan kesusastraan di bawah Lembaga Kajian Turats dan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Pemuda Persis.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.