Menyoal Hukuman Mati

Teduh.Or.Id – Dari banyak jenis hukuman terhadap manusia pelanggar aturan di dunia, jenis hukuman mati ada di puncak piramida. Mampu membuat ciut nyali dengan efek jera yang tinggi. Masyarakat yang mendapati bahwa suatu pelanggaran hukum dapat meletakkan pelakunya di jalur kematian terencana, tentu akan berpikir beribu kali untuk melakukan pelanggaran yang sama.

Syariat Islam yang memang sempurna, sudah tentu memiliki penerapan hukuman mati bagi para pelanggarnya. Namun di luar paham Islam, hukuman mati sendiri sudah lama menjadi suatu bentuk eksekusi bagi para pesakitan. Tercatat sejak zaman Babilonia hingga era modern di tempat kita hidup sekarang. Dilakukan oleh pemerintahan bersistem demokrasi, keputusan raja yang absolut, sampai aturan pemberontak terhadap sanderanya, siapa pun bisa jadi bagian dari fase dramatis mengakhiri hidup.

Selain itu, yang namanya eksekusi mengakhiri nyawa orang lain hampir tidak enak untuk dibayangkan apalagi dilihat langsung. Digantung, penggal kepala, dicekik, serta tembakan timah panas terasa begitu sadis dan menyakitkan. Sampai kemudian muncul eksekusi lewat suntikan kimia agar terpidana merasa rileks dan nyaman dalam menjemput kematiannya. Meski metode suntik agaknya sekedar untuk melunakkan hati para penentang hukuman mati di dunia.

Sejak Babilonia sampai ke Amerika

Dalam situs DeathPenaltyInfo.org, dijelaskan bahwa hukuman mati telah ada sejak abad ke-18 Sebelum Masehi (SM), dan tertulis di dalam aturan Raja Hamurabi dari Babilonia. Hukuman tersebut juga ditemukan pada abad ke-14 SM dalam kode Hittite yang wilayahnya kini dikenal sebagai Turki, serta pada abad ke-7 SM dalam aturan Draconian dari Athena dimana hukuman mati berlaku bagi semua jenis kejahatan, hingga era Romawi pada abad ke-5 SM.

Pada abad ke-10 kalender romawi, hukuman gantung menjadi metode yang lazim dipakai di dataran Inggris. Sampai pada abad selanjutnya, William Sang Penakluk memutuskan bahwa hukuman mati hanya berlaku ketika perang terjadi. Meski kemudian aturan tersebut berganti, karena pada masa pemerintahan Henry VIII, sebanyak 72.000 orang diperkiran telah dieksekusi dengan berbagai macam cara yang cukup sadis seperti direbus maupun dibakar hidup-hidup. Selanjutnya hukuman mati menjadi semakin lazim diterapkan bahkan untuk kejahatan sekelas mencuri, menebang pohon atau merampok kelinci.

Aturan hukum Inggris kemudian menjadi inspirasi bagi pendatang di Amerika dalam penerapan hukuman mati. Ketika bangsa Eropa sampai ke dunia baru (benua Amerika), mereka segera menerapkan praktik hukuman mati di sana. George Kendall tercatat menjadi nama pertama yang dieksekusi mati di koloni Jamestown, karena tertangkap menjadi mata-mata bagi Spanyol pada tahun 1608. Tahun 1612, Gubernur Virginia Sir Thomas Dale memberlakukan aturan hukum yang berdampak pada hukuman mati bahkan untuk pelanggaran ringan. Pada masa itu, aturan hukum yang memuat hukuman mati berbeda isi dan bentuknya pada tiap koloni di Amerika.

Aturan mengenai hukuman mati terus mengalami perkembangan, terutama di negara yang mengaku paling menjunjung tinggi hak asasi manusia, Amerika Serikat. Selain tertuang dalam konsitusi negaranya, hukuman mati diputuskan menjadi aturan federal yang disahkan oleh kongres pada tahun 1790. Di tahun itu pula praktik hukuman mati langsung diterapkan dengan cara menggantung terpidana bernama Thomas Bird di Massachusetts.

Ingin Lebih Manusiawi

Berbagai macam eksekusi telah diterapkan untuk menghabisi nyawa terpidana. Saat ini, bentuk eksekusi lewat tangan para penembaklah yang lebih dikenal masyarakat awam. Namun bila kita mau telusuri lebih jauh, hukuman mati turut mengalami perkembangan seiring dengan aturan hukum yang menaunginya.

Merebus orang di tungku air panas, menggergaji tubuh, dibakar hidup-hidup sampai menusukkan kayu runcing lewat dubur merupakan beberapa bentuk hukuman mati di dunia. Jika itu belum cukup, masih ada kayu salib oleh Kerajaan Romawi, melempar terpidana ke sarang ular berbisa, serta memutilasi orang yang dilaksanakan dataran Cina hanya sedikit jenis hukuman mati yang tercatat dalam sejarah.

Dalam perkembangannya hukuman gantung menjadi lebih populer, ditambah eksekusinya yang dilakukan di depan publik. Bahkan hingga era modern jenis hukuman gantung masih lazim dilakukan. Bedanya pelaksanaan eksekusinya tidak lagi disaksikan banyak orang, terkait protes publik yang menganggapnya kejam, terutama di AS sejak tahun 1833 sampai 1855.

Sampai saat ini Amnesti Internasional mencatat, sebanyak 140 negara telah menghapuskan aturan hukuman matinya. Tahun 2012, hanya Latvia yang masih memperbolehkan hukuman mati untuk semua jenis kejahatan. Dan di tahun 2013, 22 negara di dunia telah melaksanakan ekskusi dengan 57 hukuman mati yang dijatuhkan.

[bersambung]

Ditulis oleh: Dimas Ronggo, S.I.Kom

*Dirangkum dari berbagai sumber

– Gambar dari:

http://www.harianaceh.co.id/assets/uploads/2014/11/Bunuh-Diri-Gantung-Gantung-Diri-Hukuman-Mati.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.