Menyoal Hukum Memejamkan Mata dalam Shalat

Teduh.Or.Id – Anda pernah memejamkan mata saat shalat!? Pernah ataukah tidak bukan persoalan utamanya, akan tetapi yang menjadi hal terpenting di sini adalah apakah kita mengetahui bagaimana ulama menyorot masalah tersebut ataukah belum. Jika Anda merasa penting mengetahuinya maka berikut ini penulis coba hadirkan semampunya pendapat para ulama tentang memejamkan mata di dalam shalat. Dan semoga bermanfaat.

Telaah ringkas perbedaan pendapat dalam memejamkan mata di dalam shalat

Dalam kitab enseklopedi fikih yang digagas oleh Kuwait disebutkan bahwa : “Mayoritas Fuqaha‘ – yakni Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah, dan Al-Hanabilah, dan (pendapat sebagian Ulama dalam) Madzhab Asy-Syafi’iyyah – berpendapat  kepada Makruh menutup kedua mata di dalam Shalat, karena sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Apabila seorang dari kalian berdiri di dalam shalat  maka janganlah dia memejamkan kedua matanya.” [1]

Dan (mayoritas ulama tersebut) juga berhujjah untuknya (atas hukum Makruh tadi) dengan bahwasanya perbuatan itu adalah perbuatan Yahudi, dan rawan membuat tertidur. Dan di dalam kitab Al-Badai’ mayoritas ulama memberikan alasan bahwa sesungguhnya yang Sunnah adalah melontarkan pandangan matanya ke tempat sujudnya, dan memejamkan (mata) berarti meninggalkannya (Sunnah). Dan hukum Makruh di kalangan Al-Hanafiyyah digolongkan kepada Tanzih (yaitu Makruh yang bukan Haram).

Dan mereka mengecualikan hukum Makruh itu dari yang memejamkan mata demi kesempurnaan Khusyu’, dengan sekiranya khawatir kekhusyuannya luput dengan sebab melihat hal-hal yang dapat memecah isi hati maka ketika hal seperti itu tidak dimakruhkan, bahkan sebagian mereka berkata: “Sebenarnya itulah yang lebih utama.” Ibnu ‘Abidin Rahimahullah berkata: Dan hal itu tidaklah jauh (dari pemahaman yang benar).

Al-Malikiyyah berkata: “dan letak Makruhnya memejamkan mata adalah selama ia tidak takut melihat kepada yang diharamkan, atau dengan membuka pandangan matanya ia menjadi terganggu, jika tidak demikian maka tidak dimakruhkan menutup mata saat itu.”

Imam An-Nawawy Rahimahullah memilih (pendapat) sebenarnya memejamkan mata dalam shalat tidak Makruh, itu jika ia tidak takut tertimpa kemudlaratan atas dirinya sendiri atau orang lain, namun jika ia khawatir dengan sebabnya kemudlaratan (menimpanya) maka dimakruhkan.” [Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah versi pdf 27/105]

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah juga telah menjelaskan adanya perbedaan pendapat tersebut, beliau berkata:

وقد اختلف الفقهاء في كراهته فكرِهه الإِمامُ أحمد وغيرُه وقالوا هو فعلُ اليهود وأباحه جماعة ولم يكرهوه وقالوا قد يكونُ أقربَ إلى تحصيل الخشوع الذي هو روحُ الصلاة وسرُّها ومقصودها

“Dan para Fuqaha’ (Ahli Fikih) menjadi berbeda pendapat dalam kemakruhannya, maka (dari perbedaan pendapat itu) Imam Ahmad dan lainnya berpendapat Makruh dan mereka mengatakan: dia (memejamkan mata dalam shalat) adalah perbuatan kaum Yahudi, dan sekelompok ulama lainnya membolehkannya dan mereka tidak memakruhkannya, mereka mengatakan : ‘Bisa jadi memejamkan mata menjadi lebih dekat kepada menghasilkan kekhusyu’an yang merupakan ruh dari shalat dan rahasianya dan (tujuan yang) dimaksudkan darinya (itu shalat).”[Zaadul Ma’ad 1/ 284-285 cet. Muassasah Ar-Risalah]

Tarjih Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah

Namun pada akhirnya Ibnul Qayyim Rahimahullah  memandang bahwa memejamkan mata di dalam shalat tidak Makruh jika memang dibutuhkan walau pun memang beliau telah menetapkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri tidak pernah memejamkan matanya  di salam shalat. Beliau berkata:

والصواب أن يُقال: إن كان تفتيحُ العين لا يُخِلُ بالخشوع، فهو أفضل، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يُشوش عليه قلبه، فهنالك لا يُكره التغميضُ قطعاً، والقولُ باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة، والله أعلم.

“Dan yang benar ialah (hendaknya) dikatakan : ‘apabila membuka mata tidak merusak kekhusyu’an maka itu lebih Afdlal, dan jika membuka mata menghalangi antara dirinya dan khusyu’an karena sebab sesuatu di arah kiblatnya seperti hiasan dekorasi dan Tazwiq (sejenis cat yang dicampur dengan emas di tembok, Pent.) atau yang lainnya yang dapat mengganggu hatinya, maka di sini tidak Makruh memejamkan mata secara mutlak, dan perkataan (pendapat) dengan Istihbabnya (sunnah) dalam keadaan seperti ini lebih dekat kepada dalil syari’at serta Maqashidnya dari pada pendapat dengan Makruh. Wallahu A’lam.” [Zaadul Ma’ad 1/ 284-285 cet. Muassasah Ar-Risalah]

Dan sebelum ini, beliau di awal pembahasan menyatakan:

ولم يكن من هديه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تغميضُ عينيه في الصلاة

“Dan tidak menjadi petunjuknya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memejamkan kedua matanya di dalam shalat.” [Zaadul Ma’ad 1/283 Cet. Muassasah Ar-Risalah]

Menguatkan hal itu, beliau juga mengatakan :

فهذه الأحاديثُ وغيرُها يُستفاد مِن مجموعها العلم بأنه لم يكن يُغْمِضُ عينيه في الصلاة

“Maka hadits-hadits ini dan hadits yang lainnya diambil faidah dari keseluruhannya suatu ilmu bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah memejamkan kedua matanya di dalam Shalat.” [Zaadul Ma’ad 1/285 cet. Muassasah Ar-Risalah]

Fatwa Lajnah Da’imah

Masalah ini pun telah dikonsultasikan ke Komite Fatwa Saudi Arabia yang pimpin oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah, dan berikut ulasan singkatnya:

المشروع للمسلم أن ينظر أثناء صلاته إلى موضع سجوده وألا يغمض عينيه؛ لأنه يناجي ربه؛ لما روى مسلم وغيره أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لينتهين أقوام يرفعون أبصارهم إلى السماء في الصلاة أو لتخطفن أبصارهم وروى البخاري ومسلم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى في خميصة لها أعلام فقال: شغلتني أعلام هذه اذهبوا بها إلى أبـي جهم وأتوني بأنبجانيته فلو كان إغماض العينين مشروعًا لأغمض رسول الله صلى الله عليه وسلم عينيه ولم تشغله خطوط الخميصة

“Yang disyariatkan bagi seorang muslim adalah melihat (membuka mata) di tengah shalat ke tempat sujudnya dan hendaknya ia tidak memejamkan kedua matanya karena ia sedang bermunajat kepada Rabbnya, berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan Muslim dan lainnya bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: ‘Demi Allah orang-orang itu akan berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit di dalam shalat atau demi Allah pandangan mereka akan dicabut dengan cepat.” dan Bukhariy dan Muslim telah meriwayatkan (pula) bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah shalat dengan Khamishah (pakaian yang bergaris dan gambar) lalu beliau bersabda; “Garis-garis pakaian ini telah menggangguku bawalah dia pergi ke Abu Jahm dan bawakan saya Ambijaniyat (jenis pakaian yang tidak bergambar) miliknya. Maka jika memejamkan kedua mata disyari’atkan niscaya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan memejamkan kedua matanya sehingga beliau tidak terganggu oleh garis-garis yang ada pada Khamishah (pakaian) tersebut.” [Fatwa Komite Lajnah Da’imah Petanyaan No. 14283]

Penulis dengan sepenuh keterbatasannya menilai bahwa yang difatwakan oleh komite Fatwa Saudi ِِArabia lebih kuat bila ditilik dengan kaedah yang disebutkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Asy-Syathiby :

ما تركه النبي صلى الله عليه وسلم في زمانه مع قيام المقتضي له وعدم وجود المانع ففعله بعده بدعة

“Amal ibadah yang ditinggalkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di zamannya serta tegaknya pendorong untuk melakukannya dan tidak ada penghalangnya maka melakukannya setelahnya adalah Bid’ah.”

Dalam hal ini memejamkan mata – yang dinilai sunnah jika untuk mencapai kekhusyu’an – telah ada atau tegak penyebab yang menjadi pendorongnya di zaman Nabi, yaitu beliau merasa terganggu oleh garis garis pakaian ketika shalat namun beliau tidak memejamkan mata walhal itu sangat mungkin dan mampu untuk beliau lakukan karena tidak ada sebab yang akan menghalangi beliau untuk memejamkan mata. dengan demikian pendapat yang menyebutkan sunnahnya memejamkan mata untuk mencapai kekhusyu’an mendapatkan kritik yang kuat – seperti yang telah dijelaskan di atas – sehingga memejamkan mata tidak sempurna disebut sebagai sunnah dalam shalat dan hal ini menjadikan hati lebih cendrung untuk mengambil pendapat Mayoritas Ulama dan Komite fatwa Saudi Arabia yang menafikan kesunnahannya memejamkan mata di dalam shalat.  Wallahu A’lam.  

Bekasi 8 Rajab 1438 H./ 5 April 2017 M.

Musa Abu ‘Affaf, BA.

Alumnus Ma’had Darul Furqan Li Tahfizhil Qur’an dan Takhasshush Ponpes Al-Ishlahuddiny Kediri, Lobar-NTB. Pernah bermajelis di Rubath Al-Jufry yang diasuh oleh Habib Zain bin Sumaith, Alumnus Al-Jami’atul Islamiyyah Bil Madinatil Munawwarah Fakultas Hadits tahun 2010 M. Selain aktif di dunia pendidikan juga sekarang sebagai Konsultan Agama di Acara Khazanah Trans7.

——————–

[1] Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ath-Thabrany dalam Mu’jamul Kabir dan di nilai Dla’if oleh Syaikh al-Albany Rahimahullah dalam Dla’if Jami’ush Shaghir No.617.