Menyikapi Barang Temuan

Teduh.Or.Id – Barang temuan (dalam bahasa arabnya: luqathah) menurut pengertian yang dibahas dalam ilmu fikih adalah barang yang ditemukan oleh seseorang tanpa diketahui pemiliknya. Menurut pengertian ini, berarti barang yang diketahui pemiliknya tidak masuk dalam pembahasan ini. Seperti orang menemukan buah mangga jatuh di jalan depan rumah orang pemilik mangga. Maka, mangga itu sudah jelas pemiliknya, tidak boleh diambil kecuali dengan seizin yang punya.

Islam Memerintahkan Menjaga Harta

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta mereka yang ada dalam kekuasaanmu, yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” [QS. An-Nisa: 5]

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang menyerahkan harta pada orang yang tidak pandai dalam pengelolaannya. Baik karena orang itu tidak sempurna akalnya seperti anak masih kecil ataupun orang gila, ataupun orang yang sempurna akalnya pun bila memang ia tidak bisa mengelola harta dengan baik. Hal itu disebabkan mencegah rusaknya harta ataupun habis tanpa adanya manfaat.

Rasulullah bersabda, Allah Ta’ala mengharamkan perbuatan durhaka pada ibu, melarang membunuh anak perempuan; dan mengharamkan suka meminta tapi tidak mau memberi. Dan Allah Ta’ala membenci perbuatan menyebarkan isu (kabar burung yang tidak jelas kebenarannya), membenci banyak meminta, dan membenci menyia-nyiakan harta.” [HR. Bukhari: 2408]

Dari ayat dan hadits di atas, syariat Islam menjaga harta manusia. Bahkan itu termasuk salah satu dari visi syariat Islam ini (Maqashid Syariah). Di antara bentuk penjagaan tersebut, disyariatkannya hukum-hukum fikih seputar masalah barang temuan. Karena tujuan akhir dari barang temuan ini adalah agar termanfaatkan, tidak terbuang begitu saja.

Jenis-Jenis Barang Temuan

Secara garis besar, barang temuan yang dibahas dalam ilmu fikih terbagi menjadi empat.

Pertama: Barang temuan yang diyakini sudah dibuang atau sengaja ditinggalkan oleh si empunya. Mungkin karena ia tidak membutuhkannya lagi atau sudah rusak atau ada alasan lain dari si pemilik. Seperti misalnya benda-benda yang sengaja dibuang di tempat sampah, atau ditinggalkan di padang pasir dan lain-lain.

Barang model seperti ini hukumnya adalah boleh langsung dimiliki oleh orang yang menemukannya. Itu tidak termasuk mengambil harta orang lain dengan cara haram. Karena sudah dikeluarkan dari kepemilikan si empunya oleh dia sendiri.

Kedua: Barang temuan yang tidak berharga menurut pandangan kebanyakan orang. Seperti sebuah pulpen berharga seribu rupiah, makanan ringan murah, dan lain-lain. Intinya dalam hal ini adalah barang tersebut menurut adat kebiasaan kebanyakan orang setempat bukan sesuatu barang yang berharga. Jadi, patokan berharga atau tidaknya barang tersebut kembali pada penilaian adat kebiasaan orang setempat di saat itu.

Barang model kedua ini hukumnya adalah boleh langsung dimiliki oleh yang punya, tidak perlu dicari siapa pemilik sebenarnya. Karena, biasanya barang seperti itu akan dibiarkan oleh pemilknya, tidak akan dicari kembali, karena memang barang tersebut kurang bernilai di pandangan mata.

Ketiga: Barang temuan berupa hewan peliharaan yang mampu hidup mandiri dan bisa menghindari gangguan binatang buas yang relatif kecil. Contoh binatang tersebut seperti unta, kuda, sapi, kerbau dan lain-lain. Barang model seperti ini tidak boleh diambil, dibiarkan saja begitu sampai pemiliknya datang mengambilnya.

Rasulullah pernah ditanya tentang onta yang ditemukan sendiri tanpa pemiliknya, apakah boleh diambil? Rasulullah menjawab,“Apa urusanmu pada unta itu, ia punya perbekalan air sendiri, mampu berjalan jauh dan melindungi dirinya dengan kakinya, bisa cari minum dan merumput sendiri, biarkan ia sampai suatu saat nanti ditemukan lagi oleh pemiliknya.” [HR. Bukhari: 91]

Yang bisa termasuk dalam golongan ketiga ini juga barang-barang yang besar berat, yang bisa terjaga dari kerusakan atau tidak akan berpindah dari tempat itu. [Syaikh Fauzan, Mulakhos Fiqh: 2/105]

Akan tetapi, ada yang tetap membolehkan mengambil barang jenis ketiga ini untuk tujuan diumumkan mencari si pemiliknya (dimasukan dalam barang jenis keempat setelah ini), dengan syarat jika dikhawatirkan kalau dibiarkan akan dirampas oleh penyamun. Memang ia bisa hidup sendiri menghindari binatang buas, tapi binatang mana yang bisa lari dari kecerdasan manusia? Pembolehan itu bertujuan untuk menjaga barang tersebut agar bisa tetap kembali pada pemiliknya. [Syaikh Utsaimin, Syarh Mumti’ 10/365-366]

Keempat: Barang temuan yang berharga, selain yang disebutkan di atas tadi. Barang tersebut bila memang hilang atau terjatuh dari seseorang pasti akan segera dicarinya. Karena barang itu memang sangat bernilai di matanya.

Model barang yang keempat inilah yang dibahas oleh ulama fikih dalam kitab mereka secara panjang lebar. Namun, dalam pembahasan kita kali ini akan disampaikan secara ringkas saja. Insya Allah.

Hukum Mengambil Barang Temuan

Hukum mengambil barang temuan model yang keempat ini terbagi menjadi dua:

Pertama: Haram mengambilnya jikalau bertujuan untuk langsung dimilki, atau merasa khawatir jika dirinya nanti akan tergiur untuk menghabiskan barang itu

Hal tersebut dikarenakan ia mengambil harta yang masih milik orang lain; yang tidak sudi untuk dibiarkan dan akan terus dicarinya.

Maka orang yang mengambil harta ini termasuk merampas harta orang lain dengan cara batil. Dan perbuatan tersebut sudah jelas diharamkan dalam Agama.

Rasulullah bersabda, Barang siapa mengambil harta orang lain bertujuan untuk dikembalikan pada pemiliknya, maka Allah Ta’ala akan membantu keinginannya agar barang itu kembali pada pemiliknya. Namun, barang siapa yang mengambil barang orang lain berniat untuk menghabiskannya, maka Allah Ta’ala akan menghabiskan hartanya.” [HR. Bukhari: 2387]

Kedua: Boleh mengambilnya dengan tujuan untuk mencari pemilknya guna mengembalikannya. Yang kami utarakan di atas adalah “boleh mengambilnya”. Ini ketentuan secara global. Akan tetapi, mana yang lebih afdal, diambil atau tidak diambil (jika dengan niat pertamanya bukan untuk memilikinya langsung)?

Perlu diketahui bahwa barang temuan tersebut bila sudah diambil sekarang jadi amanah di tangan dia, dan tugas pemegang amanah adalah disampaikan pada pemiliknya. Oleh karena itu, afdhol tidaknya mengambil barang tersebut kembali kepada diri masing-masing apakah siap memegang amanah atau tidak.

Bila ia merasa dirinya tidak sanggup memegang amanah ini karena tidak mampu untuk mengumumkan pencarian si empunya barang, maka yang afdal adalah ia tidak mengambil barang temuan itu biarkan saja barang itu tetap di tempatnya. Atau sebaiknya barang tersebut diambil namun diserahkan pada lembaga khusus (bila ada) yang menangani barang kehilangan.

Bila dia merasa sanggup untuk mengemban amanah, mampu untuk mengumumkan pencarian si empunya barang; siap untuk menjaga barang tersebut sampai batas waktu tertentu, maka yang lebih utama bagi dirinya adalah ia mengambil barang tersebut agar bisa terjaga dari tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab.

Mengumumkan Barang Temuan

Tanggung jawab pertama yang diemban oleh orang yang mengambil barang temuan adalah mengumumkannya. Namun, sebelum itu wajib ia kenali dulu dengan pasti ciri-ciri dan spesifikasi barang tersebut Disebutkan dalam hadits bahwasanya Rasulullah ditanya tentang barang temuan, beliau bersabda,

“Kenali sifat wadah barang tersebut dan juga tali ikatan, kemudia umumkan selama setahun, setelah itu baru kamu berhak memilkikinya. Namun, bila kemudian hari datang pemiliknya, tetap kembalikan padanya.” [HR. Bukhari: 91]

Lamanya waktu pengumuman adalah selama setahun. Yang dimaksud hitungan setahun di sini adalah tahun kamariah bukan hitungan tahun masehi.

Akan tetapi, bila barang temuan itu berupa benda yang gampang rusak atau busuk, seperti makanan atau buah-buahan, maka yang menemukannya berhak melakukan salah satu dari dua pilihan, yaitu: Pertama, ia boleh memakan makanan itu dengan tujuan nanti diumumkan dan yang dikembalikan adalah harga makanan tersebut. Pilihan kedua, ia menjual makanan tersebut dan menyimpan uang hasil penjualan dengan tujuan akan dikembalikan pada yang punya.

Adapun metode pengumuman semua terserah pada kebiasaan masyarakat setempat bagaimana umumnya cara mencari orang yang kehilangan. Apakah dengan ucapan, tulisan, media elektronik dan macam lainnya. Asalkan diusahakan bentuk pengumumannya tidak membuat semua orang bisa mengaku pemilik barang tersebut.

Adapun tempat pengumuman boleh di mana saja asalkan di tempat yang ramai dikunjungi orang. Namun, yang harus dihindari adalah mengumumkannya di masjid. Karena ada larangan untuk berjualan dan mengumumkan benda hilang di masjid. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mendengar ada orang mengumumkan barang hilang di masjid, maka ucapkanlah, “semoga Allah Ta’ala tidak mengembalikan barangmu itu”, karena sesungguhnya masjid tidak dibangun untuk tujuan itu.” [HR. Muslim: 568]

Boleh Memiliki Barang Temuan

Sebelum setahun, barang temuan masih berupa amanah, belum boleh dimiliki. Ia tetap dalam masa pengumuman mencari si pemilik asli. Apabila sudah sampai setahun tapi belum ketemu juga pemiliknya, maka barang tersebut baru boleh dimilikinya. Tapi dengan syarat ia tetap akan mengembalikannya pada yang punya kalau suatu hari nanti ketemu.

Mungkin ada yang bertanya, apa fungsinya boleh dimilki kalau tetap harus dikembalikan nanti? Sepertinya tidak beda antara setelah setahun dengan sebelum setahun? Jawabannya adalah perbedaan keduanya terlihat bila barang temuan itu rusak atau hancur tanpa keteledoran si penemu. Bila kejadian itu sebelum dimilki (sebelum satu tahun atau di masa pengumuman) maka barang tersebut tidak wajib untuk diganti bila kemudian hari ketemu pemilkinya karena barang itu di tangan ia berupa amanah. Namun, bila kejadian rusak itu terjadi setelah satu tahun (barang tersebut dimilki oleh penemu) maka ia wajib mengganti pada si pemilik asli. Karena, barang itu rusak dalam kepemilikan si penemu.

 

Hukum Barang Temuan di Kota Mekkah

Ada hukum khusus di Kota Mekkah, yaitu tidak boleh mengambil barang temuan kecuali dengan tujuan untuk diumumkan selamanya (bukan hanya setahun). Dalam artian, bila setelah setahun belum ketemu juga pemiliknya, si penemu tidak boleh memiliki barang tersebut, ia tetap harus mengumumkannya selamanya.

Barang Kita Hilang Namun Terdapat Barang Lain

Ada sebuah permasalahan fikih disebutkan ulama yang mungkin sering kita jumpai, yaitu bila seseorang meletakkan sandal di suatu tempat (misalkan rak sandal) namun, ketika hendak diambil sekarang yang ada dalam rak itu sandal model lain, buka sandal ia yang tadi. Apa yang harus diperbuat?

Ada ulama yang mengatakan sandal lain itu hukumnya luqhathah (barang temuan), jadi harus diumumkan seperti hukum barang temuan lainnya. Karena, mungkin saja sandal kita dicuri orang lalu datang orang lain meletakkan sandalnya di dalam rak kosong itu.

Namun, ada ulama lain yang berpendapat lebih fleksibel. Yaitu dengan melihat kondisi dan variabel di kejadian. Bila contoh kejadian antara dua orang saja, yaitu tidak ada yang masuk suatu tempat (masjid misalnya) kecuali hanya dua orang saja. Setelah orang satunya pergi, yang tinggal di rak ternya bukan sandal kita melainkan sandal orang lain.

Bila ada bukti yang menguatkan bahwa sandal itu tertukar dengan sandal kita, atau sengaja ditukar, maka hendaklah ditunggu dulu semoga yang punya datang karena merasa ketukaran sandal. Namun, bila tidak ada harapan si punya sandal akan kembali. kita boleh mengambil sandal yang ada dengan syarat membandingkan harga sandal itu dengan sandal kita. Bila sandal itu lebih murah, silahkan tetap dipakai. Namun, bila sandal itu lebih mahal dari sandal kita, maka perkirakan selisih harganya dengan uang, lalu disedekahkan uang tersebut. Wallahu a’lam [Lihat: Syaikh Utsaimin, Syarh Mumti’ 10/381-382]

Oleh: Muhamamd Yassir, Lc

Gambar diambil dari: http://2.bp.blogspot.com/-WhOO6QbHf7U/U4IGhmdEJWI/AAAAAAAAEpA/kFxAy6QGn24/s1600/1.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.