Menyambut Kembalinya Liga Champion Eropa

Teduh.Or.Id – Liga Champion Eropa sudah masuk fase knockout. Ada 16 klub profesional dari berbagai negara eropa yang siap bersaing untuk lolos ke babak selanjutnya dan meraih target juara. Persaingan antar klub yang kembali menghadirkan keriuhan di stadion dan layar televisi. Gaungnya membahana ke seluruh dunia, sampai ke bumi Indonesia, sebuah negara khatulistiwa dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Sebelumnya, Facebook pernah merilis data mengenai jumlah fans sepakbola di Indonesia yang mencapai angka 24, 3 juta jiwa. Ketiga terbesar setelah Brasil (53,3 juta jiwa) dan Amerika Serikat (48,9 juta jiwa). Indonesia berada di atas Meksiko (24,1 juta jiwa) dan Turki (23,3 juta jiwa). Dari lima negara teratas itu hanya Indonesia dan Turki dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Ya, umat Islam yang juga gemar sepakbola.

Maka menjadi luar biasa membayangkan fenomena tahunan dari kompetisi Liga Champion Eropa, dan dampaknya bagi fans sepakbola di Indonesia. Mereka siap berkorban waktu dan mempersiapkan diri sebaik mungkin agar dapat menyaksikan siaran langsung pertandingan di televisi. Padahal ada beda waktu sekitar 6 jam antara benua biru dan bumi pertiwi kita. Artinya ketika pertandingan yang rata-rata dimulai pada pukul 7 – 8 malam waktu setempat, maka televisi lokal akan menayangkannya pukul 2 – 3 dini hari, Waktu Indonesia bagian Barat (WIB).

Beda waktu bukanlah masalah, fans sepakbola sudah siap berkorban. Bila melihat pada umumnya kita yang menjadikan malam hari sebagai waktu beristirahat setelah beraktivitas sepanjang hari. Maka ketika sebagian orang merelakan matanya terbuka di depan layar televisi pada dini hari untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, itulah pengorbanan. Namun pernahkah terbesit di pikiran tentang sejauh mana pengorbanan tersebut membawa kebaikan bagi diri mereka, bagi diri kita. Dimana setidaknya dua jam waktu istirahat terbuang tak terasa.

Mudah dipahami bahwa ketika kita bangun dari tidur untuk menonton pertandingan sepakbola, itu merupakan perkara untuk dunia. Dan apa yang diniatkan untuk dunia, tidak akan mendapat ganjaran di akhirat. Padahal kita bisa melakukan perkara yang lebih besar nilainya dibanding pengorbanan yang kita lakukan. Perkara yang lazim bagi umat muslim yakni menghidupkan malam-malam dengan qiyamu lail atau salat malam.

Bila kita kembali melihat data fans sepakbola Indonesia di atas, dan kita anggap semuanya adalah muslim, maka akan ada puluhan juta orang yang bangun di malam hari. Bila bangunnya mereka adalah untuk melaksanakan salat malam, tidak terbayang keberkahan seperti apa yang akan didapat bangsa ini. Itu hanya dari satu model manusia saja, fans sepakbola. Bagaimana jika ditambah para orang saleh yang memang senantiasa mengisi malam-malamnya dengan zikir kepada Allah?

Jadikan Momentum

Siaran langsung sepakbola dini hari sebenarnya bisa dijadikan momentum bagi para muslim sekaligus fans sepakbola. Kedudukan sebagai fans sepakbola mudah dikenali lewat ciri-ciri tertentu, diantaranya memakai atribut klub favorit. Lalu ada kedudukan kita sebagai muslim, yang ironisnya sering tidak tampak ciri-ciri keislamannya, baik dalam penampilan maupun ibadahnya. Maka tidak ada salahnya momen Liga Champion Eropa ini sebagai pijakan awal kita untuk menjadi muslim yang lebih baik, dengan menunjukkan ciri yang nyata.

Salah satu ciri muslim yang bertakwa adalah dengan melaksanakan salat malam. Dalam surat Adz-Dzaariyaat ayat 15-19, Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”

Ciri takwa dengan bangun salat malam memang tidak terlihat oleh kebanyakan manusia, tapi hal itu justru memudahkan kita untuk meluruskan niat dan keikhlasan di hati. Kita pun bisa terus berdoa agar Allah memperbaiki keadaan hati dan jiwa kita sebagai hambaNya. Sehingga tanpa kita sadari ibadah hati kita dapat membawa perubahan secara fisik. Dan dengan seizin Allah, kita mampu untuk mengikuti bermacam sunah Nabi kita shalallahu’alaihi wa sallam dalam setiap perkara kehidupan.

Salat malam sendiri merupakan salah satu sunah yang bila dilakukan bisa membawa pelakunya diganjar surga. Manusia terbaik dan suri tauladan kita, Rasululloh shalallahualaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan salatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” [Hadis Riwayat Ibnu Majah, disahihkan oleh ulama hadis Syekh Al Albani]

Sebagai seorang muslim, apa yang datang dari Allah dan Nabinya maka itulah jalan keselamatan. Tentu lebih utama bila kita mengikuti apa yang dilakukan oleh manusia terbaik, dibandingkan ikut gaya hidup para pemain sepakbola. Maka cukupkan diri yang menyukai olahraga sepakbola sebatas untuk hiburan saja.

Melaksanakan salat malam bisa membawa kita pada gaya hidup islami seperti halnya orang-orang saleh. Pada sebuah riwayat hadis dari At-Tirmidzi yang disahihkan Syekh Al Albani, Rasulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Hendaklah kalian melakukan salat malam, karena salat malam itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.”

Para muslimin sekaligus fans sepakbola, masih ada beberapa bulan lagi sebelum Liga Champion sampai ke partai pamungkasnya musim ini, di Olympia Stadion, Jerman pada 6 Juni mendatang. Selama itu pula, jika masih diberi umur panjang, akan selalu ada kesempatan bagi kita untuk menjadi muslim yang lebih baik. Jadikan bangun malam kita lebih bermanfaat dan bernilai di sisi Allah. Dan dengan semakin sering kita melakukannya, Insyaa Allah akan merasakan kenikmatan yang melebihi serunya pertadingan sepakbola. Sehingga yang awalnya kita butuh siaran langsung sepakbola agar bisa terbangun, lama kelamaan kita mencukupkan diri dengan Allah saja sebagai inti dari semua aktivitas kita. Semoga bermanfaat.

Walllahu waliyyut taufiq

Gambar dari:

http://798space.com/sbobet/images/beritabola/580.%20Unggul%20Dalam%20Bermain%20Sepakbola%201.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.