Menulis Nama di Batu Nisan

Teduh.Or.Id – Menulis nama dan data kelahiran dan kematian seorang di batu nisannya sudah menjadi hal yang makruf dilakukan masyarakat, tujuannya adalah agar letak kuburan tidak terlupakan oleh keluarga, bagaimanakah hukumnya?

Bismillah Walhamdulillah.

Menulis di batu nisan kuburan hukumnya tidak boleh, karena Nabi ﷺ melarang hal itu, dalam hadits disebutkan,

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يبنى على القبر أو يزاد عليه أو يجصص زاد سليمان بن موسى أو يكتب عليه

Rasulullah ﷺ melarang membangun di atas kubur, atau ditambah (ketinggiannya) di atasnya, atau di-Tajshish (dibangun atau dicat putih) Sulaiman bin Musa menambahkan satu point lagi yakni ; atau ditulis tulisan di atasnya.”[1]

Berdasarkan hadits ini mayoritas ulama menilai makruh hukumnya menulis di nisan kuburan[2], bahkan ada yang menilainya haram seperti Al-Syaukaniy dalam Nailulauthar (4/104) dan Ibnu Baz.[3]

Akan tetapi jika ada hal yang mendesak dan penting, maka dalam hal ini ada pengecualian sehingga hukumnya berubah menjadi boleh.

Pengecualian ini didasari oleh qiyas kepada perbuatan Nabi ﷺ yang menandai kuburan Utsman bin Mazh’un agar tetap diketahui dan tidak hilang, dalam hadits disebutkan,

لما مات عثمان بن مظعون أخرج بجنازته فدفن أمر النبى -صلى الله عليه وسلم- رجلا أن يأتيه بحجر فوضعها عند رأسه وقال: أتعلم بها قبر أخى وأدفن إليه من مات من أهلى

Ketika Ustman bin Mazh’un wafat, jenazah beliau pun dikebumikan, Nabi ﷺ memerintahkan seorang lelaki agar mendatangkan batu kepada Beliau, lalu Nabi ﷺ meletakkannya di sisi kepalanya (jenazah) dan beliau bersabda: “(agar) Aku mengetahui kubur saudaraku dan (agar aku dapat) menguburkan ke sini siapa saja yang wafat dari keluargaku.[4]

Bahkan Imam Al-Hakim menilai adanya Ijma’ ‘Amaliy (kesepakatan tak tertulis) akan bolehnya menulis di kubur jika ada tujuan penting dan mendesak. Beliau berkata,

وهذه الأسانيد صحيحة ، وليس العمل عليها ؛ فإن أئمة المسلمين من الشرق إلى الغرب مكتوب على قبورهم ، وهو عمل أخذ به الخلف عن السلف

Dan Asanid (Sanad-sanad hadits) ini semuanya Shahih, namun pengamalan tidak di atasnya, sesungguhnya para Imam kaum muslimin dari timur hingga barat tertulis tulisan di atas kuburan mereka, dia adalah suatu amaliyah yang generasi khalaf dapatkan dari generasi Salaf.[5]

Meskipun klaim Ijma’ ‘Amaliy ini tidak disetujui oleh sebagian ulama lainnya seperti Imam al-Dzahabiy[6] rahimahullah, namun Al-Faqih Ibnu ‘Abidin rahimahullah berusaha mendudukkan ucapan Imam Al-Hakim pada tempat semestinya sehingga tidak terjadi pertentangan di dalamnya. Beliau berkata,

نعم يظهر أن محل هذا الإجماع العملي على الرخصة فيها ما إذا كانت الحاجة داعية إليه في الجملة

Iya, yang nampak bahwa letak Ijma’ ‘Amaliy ini berlaku keringanan yang ada di dalamnya (boleh menulis di nisan)  apabila ada hajat yang memanggil untuk melakukannya secara umum.[7]

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah sendiri pada dasarnya menyetujui pengecualian dengan qiyas ini walau pun dengan menambahkan sedikit syarat lagi, namun yang terpenting ialah penetapan akan adanya pengecualian tersebut. Beliau berkata,

 والصواب تقييده بما إذا كان الحجر لا يحقق الغاية التي من أجلها وضع رسول الله صلى الله عليه وسلم الحجر، ألا وهي التعرف عليه، وذلك بسبب كثرة القبور مثلا وكثرة الاحجار المعرفة فحينئذ يجوز كتابة الاسم بقدر ما تتحقق به الغاية المذكورة

Dan yang benar (dalam masalah ini) mengaitkannya (bolehnya menulis di kubur) dengan keadaan dimana batu sudah tidak dapat mewujudkan tujuan yang karenanya Rasulullah ﷺ meletakkan batu, tujuan itu adalah untuk mengetahui letak kuburannya, dan itu bisa terjadi karena sebab banyaknya kuburan misalnya, dan banyaknya bebatuan yang telah dijadikan tanda, maka ketika itu boleh menulis nama sebatas tulisan yang dapat mewujudkan tujuan penulisan tersebut.[8]

Dari itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullah berkata,

والكتابة عليه فيها تفصيل : الكتابة التي لا يُراد بها إلا إثبات الاسم للدلالة على القبر ، فهذه لا بأس بها

Dan tulisan diatasnya kubur ada rincian hukum di dalamnya; tulisan yang ditujukan tidak lain kecuali untuk menetapkan nama untuk petunjuk atas kubur, maka ini tidak ada masalah dengannya.[9]

Dari itu semua, maka menulis pada nisan kuburan hukumnya boleh jika sebagai penanda agar kuburan tetap dapat diingat oleh keluarganya. Namun tulisan yang dibolehkan hanyalah tulisan sebatas untuk mengetahui letak posisi kuburan tersebut, jika lebih dari hal itu, seperti tulisan ayat, data kelahiran dan kematian, atau ucapan bela sungkawa, atau tulisan dengan tujuan memperhias kuburan maka hukumnya kembali kepada hukum asal seperti yang ada dalam hadits. Wallahua’lam.

 


Referensi:

[1] Hadits ini dikeluarkan Imam Al-Nasa’iy dan hadits ini dinilai Shahih oleh para ulama di antaranya Ibnulmulaqqin dalam al-Badrulmunir, dan Al-Albaniy dalam Ahkamuljana’iz (1/260)

[2] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (32/251)

[3] Lihat bahasannya di sini. https://binbaz.org

[4] Hadits Riwayat Abu Dawud No. Dinilai Hasan oleh Al-Albaniy.

[5] ِAl-Mustadrak (1/525) Al-Syamilah. Al-‘Allamah Ibnulmulaqqin menukil ucapan Imam Al-Hakim ini dalam kitabnya Al-Badrulmunir demikian juga Al-Albaniy dalam Ahkamuljana’iz.

[6] Lihat ucapan Imam Al-Dzahabiy sebagaimana dinukil Syaikh Al-Albaniy dalam Ahkamuljana’iz (1/263)

[7] Lihat Al-Mausu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (32/252)

[8] Lihat Ahkamuljana’iz Syaikh Al-Albaniy Rahimahullah (1/263) cet. Maktabah Al-Ma’arif Riyadl.

[9] Lihat Syarh Riyadlush-Shalihin (1/2112) Al-Syamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.