Menjaga Silaturahmi di Masa Pandemi

Ramadhan tahun ini (1441 H) mungkin akan menjadi Ramadhan yang paling kita ingat sepanjang masa, dalam sejarah hidup kita, Ramadhan pasti identik dengan kemeriahan, keramaian orang untuk mengunjungi tempat perdagangan, keriuhan anak-anak saat melaksanakan shalat Tarawih berjamaah, serunya orang tua belajar Al Qur’an selepas Tarawih usai, saling ngopi dan berbincang menghabiskan sisa berbuka bersama di masjid yang tiba-tiba ia berubah menjadi tempat kumpul mengalahkan gardu ronda. Ramadhan adalah bulan perubahan dan berbenah, banyak mereka yang hijrah dan menemukan jalan kebenaran, merenungi arti kehidupan setelah sekian waktu terlewatkan. Ramadhan adalah keberkahan.

Tapi kali ini, kita Ramadhan dalam sepi dan sunyi, masjid-masjid sementara kosong tanpa jamaah seperti tahun sebelumnya. Lebaran pun sudah diatur oleh pemerintah, agar tidak ada lagi aktivitas kembali ke kampung halaman, padahal itu merupakan tradisi. Berbuka bersama dengan rekan seperti tahun-tahun silam juga takkan dirasa pada kesempatan ini.

Yang terasa hilang dan mahal bagi kita bisa jadi adalah, terhalangnya silaturahmi. Kita adalah orang-orang yang senantasa selalu bersama, saling berbagi cerita, tawa, dan tatap muka. Interaksi kita sangat terbuka, tapi pandemi kali in mengajak kita untuk saling berjarak. Tetap berada di rumah jangan bergerak meninggalkan kediaman bila tak ada alasan mendesak dan terpaksa.

Namun, jangan jadikan itu menjadi penghalang kita untuk terus bersilatruahmi, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan dalam bersilaturahmi di bulan Ramadhan dengan pandemi ini, di antaranya adalah;

Pertama, Hubungi orangtua kita, tanya bagaimana kabarnya dan apa kebutuhan yang dapat disanggupi jika sekiranya mampu penuhi. Masa sekarang ini, urusan saling menelepon sungguh mudah, bahkan satu sama lain saling melihat wajah melalui voice call. Setidaknya bila gagal mudik tahun ini, jangan sampai tidak dapat saling voice call satu sama lain. Jika terbatas pada akses teknologi, mintalah kepada tetangga kita di desa atau kampung yang memiliki gawai canggih, agar tetap bisa sambung rasa dengan orang tua sekalipun mereka jauh disana.

Perhatikan nasihat yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, “Berbakti kepada kedua orangtua dan amal salih termasuk bentuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala yang paling besar dan mulia. Kebaikan-kebaikan tersebut merupakan sebab dari panjangnya usia dan keberkahan atas usia tersebut didalamnya. Seperti dalam hadits, tidaklah bertambah umur melainkan dengan kebajikan. Sehingga kebajikan itu merupakan sebab panjangnya usia dan keberkahan. Dalam hadits yang shahih dinyatakan: barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia sambung silaturahmi. Sedangkan berbakti kepada kedua orang tua termasuk silaturahmi yang paling besar. Yaitu silaturahmi yang paling besar kedudukannya. Jadi, berbakti kepada kedua orang tua dan silaturahmi termasuk sebab panjangnya umur dan keberkahannya.” (binbaz.org.sa dalam tanya jawab berjudul:إطالة.العمر.بالأعمال.الصالحة.وبر.الوالدين)

Kedua, Hubungi teman kita, bukan hanya lewat ketikan WA, cobalah sesekali meneleponnya dan menanyakan kabar. Selipkan pula nasihat berharga, barangkali ia membutuhkannya. Telepon kita melalui akses yang kini banyak tersedia, dapat menampilkan banyak orang secara bersama. Darisana, berceritalah dan bergurau kembali layaknya tak ada jarak yang saling memisahkan. Bila ada sesuatu yang kiranya dapat dibicarakan lebih mendalam lagi, barangkali dapat melalui sambungan pribadi dengan dirinya. Tuk bertutur tentang pribadi dan keluarganya, juga anak-anak buah hatinya. Ini merupakan tanda syukur kepada Allah yang telah menjadikan kita bersama dengan teman-teman tersebut saling bersatu dan bersahabat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Anfal : 62-63)

Ketiga, kerap kita saat di kantor atau di sekolah mungkin menimba ilmu dari orang yang kita anggap mereka sebagai guru agama. Ada satu atau dua guru agama yang bisa jadi memikat hati kita untuk terus mengikuti nsihat yang diberikannya, di waktu-waktu saat usai jamaah Dzuhur pada tempat kerja, atau mungkin saat mereka mendapat jadwal khatib di kantor kita. Tentu ada ikatan hati yang kuat, karena nasihat mereka mengena. Bulan Ramadhan ini, seharusnya adalah bulan dimana Allah banyak memuliakan peran para guru agama. Namun dengan adanya pandemi, bukan tidak mungkin mereka hanya akan menghabiskan waktu di rumah saja, aktivitas mereka yang mungkin hanya memiliki satu keahlian, terbatas dibanding biasanya. Sehingga bisa jadi kita ada kelebihan atas rejeki kita hari ini, dapat disapa dan ditanyakan kebutuhannya. Meminta alamatnya, dan diam-diam mengirimkan apa yang kiranya dapat mendatangkan bahagia bagi dirinya dan keluarga. Dari sana semoga dapat mendatangkan kebaikan dan balasan yang besar bagi diri kita di dunia dan akhirat, serta memupuk rasa persaudaraan kita karena Allah Ta’ala. Seperti yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tali keimanan yang paling kuat adalah bersikap loyal karena Allah, memusuhi karena Allah, mencintai karena Allah, dan membencinya karena Allah azza wa jalla juga.” (HR. Thabrani dan di-shahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ nomor 2539)

Keempat, Cek lagi buku telepon kita, adakah disana kontak mereka yang dhuafa atau bisa jadi pegawai kebersihan di tempat kita beraktivitas. Tanyakan kabarnya dan kirimkan sesuatu yang bisa membahagiakan hatinya. Mungkin sangat kecil apa yang diberikan oleh kita, tapi nilainya tentu yang tidak seberapa tadi, dapat membesarkan hati mereka untuk menyambung hidup. Atau bila tidak, mungkin bisa melakukan aksi kolektif bersama teman kantor lainnya, mengumpulkan apa yang bisa kita berikan kepada mereka. Para pihak yang paling banyak membantu kita saat bekerja sebelum adanya musibah dan ujian hari ini

Kelima, pandemi ini, mungkin menyurutkan daya beli banyak pihak, perekonomian lesu, sebagian usaha kecil terpaksa berhenti dahulu, entah kapan dapat meulai lagi roda aktivitas perekenomian seperti sedia kala. Padahal, usaha kecil itu adalah penopang aktifitas kita sehari-hari sebelumnya. Mereka terdiri atas tukang jajanan yang suka kita beli sebagai amunisi saat lembur tiba, atau tempat makan langganan yang rasa dan harganya paling mengerti dengan selera kita, atau pedagang minuman segar yang selalu punya cara dan rasa dlam menuntaskan dahaga. Semua itu, mungkin hari ini merasakan dampak pandemi. Mungkin kita punya nomor mereka. Tanyakan dan sapa, usaha apa yang sedang mereka jalani hari ini, dimana posisinya dan apakah masih dapat bertahan menghadapi kehidupan. Bila kita bisa untuk membantunya, tak ada salahnya untuk melarisi dagangannya.

Hal-hal di atas, adalah seperti apa-apa yang dilakukan oleh para salaf masa lalu, sebagaimana dituturkan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-din (2/190-191), “Ada juga di antara mereka (para salaf) yang berulang kali mendatangi pintu rumah saudaranya sambil menanyakan, ‘Apakah kalian sudah memiliki minyak? Apakah kalian sudah memiliki garam? Apakah kalian mempunyai kebutuhan?’ terkadang orang tersebut melakukan perbuatan itu tanpa sepengetahuan saudaranya. Maka dengan beginilah, kasih sayang dan persaudaraan akan terlihat.”

Hari ini, bukan saja ujian pandemi yang sedang kita hadapi, tapi juga kita dihadapkan dengan ujian persaudaraan. Seberapa kuat kita dapat saling berkasih sayang, di masa satu sama lain mungkin saling membutuhkan. Namun yakin dan percayalah. Kita semua bisa saling meringankan dan menghilangkan beban berat satu sama lain, sebab adanya tali keimanan satu sama lain. Bantuan kita akan berarti juga bagi diri kita kelak di akhirat, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa menghilangkan musibah dari seorang muslim, maka dengannya Allah menghilangkan salah satu musibah hari Kiamat darinya. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, Allah menutup aib dirinya pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui jalan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu). (Purwokerto, 2 Ramadhan 1441 H/25 April 2020, Rizki Abu Haniina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.