Menjaga Semangat Lalu Menguatkan Tekad

Kebaikan seorang mukmin ialah senantiasa membersamai ibadah kepada Rabbnya kapanpun disela waktu yang ia miliki, hakikat penghambaan telah menghujam didalam dada sehingga tidak ada asa yang tersisa melainkan untuk senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Namun kerapkali tekad dan semangat itu sirna disebabkan kesibukan dunia yang meminta dan sesekali memaksa untuk memenuhinya. Tak salah memang, karena dari bagian-bagian dunia itu seorang mukmin dituntut untuk memenuhi nafkah diri dan keluarga juga diantara kebutuhan dunia itu diperlukan bagi manfaat lain disekitarnya. Ujungnya tetap manfaat sekalipun dikerjakan melalui amalan keduniaan.

Yang sulit ialah menjaga semangat dan terus memelihara tekad, hal ini menjadi sangat tidak mudah ketika seseorang telah larut dengan kesibukannya, skala prioritas telah bergeser, segala hal tercatat dalam sesuatu yang penting dan segera. Padahal sebelumnya yang segera dan penting itu tak masalah baginya, namun kala itu semua dipenuhi maka berubahlah status tuntutannya. Hingga akhirnya lupa dengan hakikat kehidupan sebenarnya, tersilapkan dari ibadah yang wajib dan perlu menjadi sesekali dan bisa ditunda dahulu.

Soal sibuk adalah milik siapa saja, bahkan seorang pengangguran pun memiliki kesibukan diatas alasan penganggurannya. Soal tidak punya waktu juga milik siapa saja, kala ditanya kapan ibadah yang dahulu sering dilakukannya akan dilaksanakan lagi, maka terjawablah kelak ketika ada waktu untuk memaksakannya.

Jika pekerjaan-pekerjaan itu bisa terselesaikan atas nama kesibukan, kapankan penghambaan memiliki label kesibukan? Apakah menunggu tua tiba, atau seketika mendengar teman sebaya sekerja meninggal dunia? Atau menanti saat memiliki cucu, saat anak selesai studi, atau saat istri jumlahnya bertambah lagi? Kapan ibadah kita dilabeli dengan nama kesibukan jika bukan kita sendiri yang memaksanya.

Sekalipun sedikit, jagalah ibadah itu dengan semangat dan tekad yang sama ketika awal kali kita memahami ilmunya. Sebagaimana kisah yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu

“Ada salah seorang sahabat dari kaum Anshar yang rumahnya jauh dari rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia tidak pernah terlambat shalat berjamaah bersama Rasulullah”

“Kami pun menaruh simpati padanya. Lalu aku (Ubay bi Ka’ab) katakan kepadanya, “Wahai fulan, tidakkah kamu membeli seekor keledai yang dapat melindungimu dari panasnya gurun pasir dan melindungimu dari serangga tanah.” Ia menjawab: “Demi Allah, aku tidak ingin rumahku berdampingan dengan rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lalu Ubay bin Ka’ab melanjutkan kisahnya, “Kemudian aku merasa keberatan dengan sikapnya sehingga aku pun menghadap kepada Rasulullah seraya mengadukan hal tersebut kepada beliau.”

“Kemudian beliau (Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) memanggil lelaki tersbeut dan menanyakan kepadanya tentang hal itu. Lelaki itu menyatakan bahwa ia melakukannya karena mengharap banyak pahala dengan jauhnya perjalanan. Setelah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Kamu sungguh berhak mendapatkan apa yang kamu harapkan.’” (HR. Muslim)

Sekecil apapun semangat itu maka jangan sekalipun untuk diremehkan, jagalah ia karena yang demikian adalah harta sekaligus modal untuk memacu seseorang kepada amalan-amalan kebaikan lainnya, jika semangat saja sudah musnah maka hendak kemana ibadah akan dicari? Jika tekad yang ada sudah lenyap, maka siapa lagi yang dapat memberi?

Semoga Allah meridhai Umar bin Khattab yang mengatakan, “Janganlah meremehkan semangat kalian. Karena sesungguhnya aku tidak melihat orang yang paling malas dalam menggapai kehormatannya dibandingkan orang yang meremehkan semangatnya.” (Al Mawardi dalam Adab Ad Dunya Wa Ad Din hal 327).

Kita adalah gerak yang terlahir dari sebuah semangat, tidaklah pencapaian hari ini termasuk kata kesibukan yang kita ciptakan bermuara pada adanya tekad dan semangat, semisal semangat untuk memiliki sesuatu kebendaan, atau harapan ingin membersamai setiap hal secara mapan dan berkebaikan. Jika sudah demikian, apakah masih sulit menyematkan label semangat dalam peribadahan? Bukankah Allah Ta’ala mengajarkan hambanya untuk senantiasa bersegera dalam kebaikan kala semangat sudah terkumpul menjadi kekuatan yang menggerakkan. Jangan lupa akan semangat, karena ialah yang menghidupkan dan mengajarkan untuk menghormati tentang arti perjuangan.

Oleh: Rizki Abu Haniina