Menjaga Diri dari Pamer Pribadi

Teduh.Or.Id – Sum’ah (ingin selalu eksis menjadi bahan pembicaraan) dan riya’ (pamer) adalah perilaku buruk tercela yang bersumber dari dalam hati, keduanya terhitung masih satu rumpun, perbedaannya tidaklah begitu jauh. Jika riya’ adalah memperlihatkan ibadah dengan tujuan agar dilihat oleh orang lain sehingga mereka memuji si pelaku, maka sum’ah juga demikian, hanya saja acuannya kembali kepada indra pendengaran sedangkan riya’ pada indra penglihatan. Menurut Imam Al-Ghazaly – seperti yang dinukilkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathulbari, bahwa riya’ adalah menghendaki keberadaan di hati orang lain dengan memperlihatkan bagian-bagian terpuji kepada mereka. menurut Ibnu ‘Abdissalam, sum’ah ialah menyembunyikan amal ibadahnya untuk Allah lalu kemudian ia menceritakannya kepada orang lain. [Fathulbari/ Bab Riya dan Sum’ah]

Kedua sifat ini sangat berbahaya karena terkait dengan dosa syirik, sebagaimana diketahui bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik kecil, sedangkan syirik walau pun kecil maka tidak mengubah hakikatnya sebagai dosa yang paling besar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عن محمود بن لبيد قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ان أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال الرياء

Artinya: “dari Mahmud bin Labid berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: ‘Sesungguhnya yang paling menakutkan dari dosa yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, mereka berkata; ‘wahai Rasulallah, dan apakah Syirik kecil itu? Beliau menjawab; ‘riya'”. [HR: Ahmad]

Peluang hati seorang yang beriman untuk condong kepada riya’ dan sum’ah tidak terbatas dengan satu dimensi keadaan saja, seperti hanya dalam roda kehidupan nyata sehari-hari. namun juga bisa terjadi di media sosial – yang saat ini telah menjadi satu kebutuhan dasar untuk sebagian orang – bahkan peluang hati untuk riya’ dan sum’ah bisa menjadi lebih terbuka di dalam medsos. Mengapa demikian? Sebab ketika seorang membagikan moment tertentu dalam sebuah status, celotehan , dan gambar di instagram, ia lakukan hal itu seorang diri dalam keadaan bebas tanpa kendali siapa pun alias dalam keadaan sadar tentang apa yang dilakukan, keadaan ini menjadikan hilangnya kontrol sosial atas masing masing pribadi untuk mengutarakan dan membagikan apa pun, berbeda dengan aktivitas nyata, seorang mungkin akan merasa canggung dan malu untuk berucap dan bergerak. Maka disitulah kemudian riya’ dan sum’ah menyelinap tanpa membutuhkan aktifitas yang berarti.

Berbeda halnya di dunia nyata yang membutuhkan aktifitas gerak dan keadaan tertentu untuk kemudian bisa mendatangkan riya’ dan sum’ah, contohnya seorang harus melangkah ke masjid atau tempat berkumpul yang ramai, disanalah kemudian peluang riya’ dan sum’ah akan datang, karena dengan hanya berdiam diri di kamar saja saat beribadah tentunya peluang riya’ dan sum’ah menjadi lebih tertutup. Inilah yang menjadikan riya’ dan sum’ah di medsos lebih terbuka menyerang hati, dan bukan hanya riya’ dan sum’ah saja, bahkan sifat tercela lainnya seperti suka dipuji, berburuk sangka dan bahkan membenci dan menebarkan aib saudaranya semuslim.

Bagaimana Menghindarinya?

Dari itu kita dianjurkan agar tidak memperlihatkan amal ibadah dan tidak juga meceritakan amal ibadah yang telah dilakukan kecuali jika ada alasan yang didukung oleh dalil atau dengan tujuan tertentu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ.

Artinya: “Siapa saja yang memperdengarkan (berlaku sum’ah) maka Allah akan memperdengarkan dengan (sikap sum’ah)nya.” [HR: Bukhari.]

Dalam hadits ini ada dalil tentang disukainya menyembunyikan amal saleh, akan tetapi terkadang disukai memperlihatkannya (jika) dilakukan oleh seorang yang menjadi panutan orang banyak atas dasar kehendak agar ia diikuti (dalam kebaikan) tersebut, dan hal ini disesuaikan kadarnya sebatas kepentingan saja. Demikian penjelasan Al-Hafidz Ibnu Hajar atas hadits ini.

Menjadi jelas bahwa sebaiknya seorang yang beriman dan takut kepada Allah dan siksanya, agar menghindari sejauh-jauhnya sifat riya’ dan sum’ah dan jerat jerat setan yang menjurus ke arah riya’ dan sum’ah baik dalam dunia nyata dan terlebih di dunia medsos. Hendaklah setiap status, tweet, dan selfie yang Anda lakukan didasari dengan niat yang baik, dengan niat yang dibangun di atas kehendak membincangkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. Jika tidak, maka tinggalkan saja, sebab riya’ tidak mudah untuk dideteksi karena bentuk kesamaran yang menyelimutinya, hal ini sebagai mana yang disebutkan dalam sebuah hadits:

معقل بن يسار يقول : انطلقت مع أبي بكر الصديق رضي الله عنه إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال يا أبا بكر للشرك فيكم أخفى من دبيب النمل فقال أبو بكر وهل الشرك إلا من جعل مع الله الها آخر قال النبي صلى الله عليه و سلم والذي نفسي بيده للشرك أخفى من دبيب النمل ألا أدلك على شيء إذا قلته ذهب عنك قليله وكثيره قال قل اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم

Artinya: “Ma’qil bin Yasar beliau pernah bertutur; suatu ketika aku dan Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu beranjak pergi menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau bersabda; ‘Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah semut’, Abu Bakr lalu bertanya; ‘bukankah kesyirikan itu tidak ada kecuali hanya pada yang menjadikan bersama Allah sesembahan lain?’, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; ‘demi jiwaku yang berada dalam tangannya, kesyirikan itu lebih samar dari langkah semut’. Perhatikanlah apakah kalian mau aku tunjukkan kepadamu atas satu ucapan yang apabila kamu mengucapkannya akan menghilangkan darimu sedikit dan banyaknya Syirik? Beliau melanjutkan sabdanya; ucapkanlah; ‘Ya Allah aku berlindung denganmu dari mempersekutukanmu sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunanmu dari apa apa yang aku tidak mengetahuinya'”. [Hr. Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dinilai Shahih oleh Al-Albany]

Kesamaran riya’ dan sum’ah hendaknya mendorong kita untuk bersikap lebih waspada dan berhati-hati terutama di medsos, disamping juga kita tidak boleh lalai berdoa kepada Allah – dengan doa yang diajarkan Nabi kepada Abu Bakr seperti dalam hadits di atas – agar dijauhi dari riya’ dan sum’ah dalam segala bentuk aktivitas ibadah yang kita lakukan, sebab di antara syarat diterimanya amal adalah keikhlasan.