Menjadi Perantara Kebaikan

Teduh.Or.Id – Dalam hidup tentu kita dihadapkan pada banyak laku sekitar yang berbeda-beda, baik itu pengamalan, pengalaman, pengetahuan, bahkan keterampilan yang tak sama. Setiap potongan frasa kehidupan selalu tersambung dalam proses-proses panjang yang kerapkali penat melanda atau jenuh menyiksa. Namun begitulah proses-proses menuju hasil yang kelak kan terpuaskan. Proses untuk menjadi sesuatu bukan sekedar mengubah sesuatu. Karena sejatinya bentangan proses itu lebih berharga dibandingkan hasilnya itu sendiri.

Sebagaimana halnya kupu-kupu yang bermetamorfosa dari sebuah kepompong kusam dan sangat tak indah dipandang mata, berubah menjadi ulat yang bentuknya biasa-biasa saja dan hampir semua sama, akan tetapi saat menjadi kupu-kupu barulah terlihat indahnya dan berbedanya sebuah hasil yang didapat walaupun proses yang ditempuh sama. Sehingga, sepatutnyalah seseorang belajar menjadi dirinya sendiri, belajar menghayati setiap laku proses yang menurutnya sempurna agar menjadi kesempurnaan terpuaskan saat hasil sudah didapatkannya. Beda dengan yang lain pasti, namun setidaknya jangan sampai ada proses-proses yang dinihilkan atau bahkan ditikam karena tdk sama dengan orang lain.

Sejarah mencatat proses-proses tentang menjadi sesuatu, dan hidup kita tentu diliputi dengan sejarah yang berbeda-beda, baik dari sisi nama bahkan dari sisi peristiwanya. Namun kala dihadapkan pada sebuah hasil maka disanalah jumpa definisi bahagia yang sebenarnya. Menjalani hidup tentu berat, payah, susah, berkeringat, dan kadang malas. Tapi harus untuk dijalani dan harus dipaksakan terlaksana agar hidup terus bergerak menjadi sesuatu, bukan sekedar mengubah sesuatu yang konon itu merupakan kerja-kerja mudah dan mudah-mudahan.

Menjadi orang baik adalah pilihan, dan memilih untuk tidak baik juga keputusan. Diantara baiknya kita tentu harus diingat bahwa ada orang-orang yang ingin menjadi baik. Seandainya kita belum bisa menjadi baik, maka sejatinya kita menjadi sumbu bagi sekitar untuk menjadi baik. Agar kita menjadi perantara kebaikan bagi orang lain dan semoga yang demikian menghasilkan perbaikan juga pada diri kita.

Allah Ta’ala memberikan balasan yang besar bagi individu yang menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari jalan Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian yang didatangi oleh Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya. Dia ditanya, ‘Adakah kebaikan yang kamu lakukan?’ Dia menjawab, “Aku tidak tahu.” Dikatakan kepadanya, “Lihatlah!” Dia menjawab, “Aku tidak mengetahui apapun. Hanya saja di dunia aku berjual beli dengan orang-orang dan membalas mereka. Lalu aku memberi kesempatan kepada orang yang mampu dan memaafkan orang yang kesulitan.” Maka Allah memasukkannya ke Surga.””

Bukankah mudah sebuah kebaikan itu bila kita mengedepankan perasaan, bukan dengan memaksakan perasaan. Memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada seseorang untuk menjadi jalan kebaikan bagi dirinya sendiri. Sudah puluhan tahun barangkali kita mendunia, namun bisa jadi sedikit sekali bayang diri kita untuk meraih predikat sosok yang didamba surga. Kebaikan-kebaikan itu mudah, hanya butuh modal hati yang peka dan akal yang siap menerima pilihan hati demi berharap ridha Ilahi.

Dalam riwayat yang lain, Imam Muslim dari jalan Abu Hurairah, Huzaifah, dan Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum, terdapat kisah tentang seorang saudagar yang memberi hutang kepada orang-orang, jika dia melihat seseorang berada dalam kesulitan, dia berkata kepada para pegawainya: ‘Maafkanlah dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita.’ Maka Allah pun memaafkannya.

Yakinlah bahwa tidak berkurang suatu apa dari diri kita sebab kebaikan yang kita lakukan, bila hal tersebut kita tempuh dan belum mendatangkan balasan, maka pastikanlah bahwa Allah senantiasa membersamai kita dalam hal demikian.

Bukankah Allah membersamai seorang mukmin dalam firmannya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah.’ Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengataan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat : 30)