Menilik Ujaran Menyakitkan Terhadap Nabi Musa

 

Di antara Nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an mendapat perlawanan dari kaumnya adalah Nabi Musa ‘Alaihissalam, beliau disakiti oleh kaumnya dengan ujaran kebencian yang menyakitkan, Allah berfirman:

ياأيها الذين آمنوا لا تكونوا كالذين آذوا موسى فبرأه الله مما قالوا وكان عند الله وجيها

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membebaskannya dari apa-apa yang telah mereka katakan, dan (Musa) di sisi Allah (merupakan) seorang yang Wajih (agung, mulia, dan terhormat)” (QS: Al-Ahzab 69)

Ulama Tafsir menyimpulkan bahwa isi dari ucapan yang menyakiti Nabi Musa ‘Alaihissalam ketika itu adalah berkisar dari empat hal berikut ini :

  1. Mereka menyakiti dengan mengatakan Nabi Musa ‘Alaihissalam Adar (baca: Aadar)

Adar maksudnya, seperti yang dijelaskan Imam Annawawi Rahimahullah:

قال أهل اللغة هو عظيم الخصيتين

“Menurut ahli bahasa Arab maksudnya orang yang kedua kantong testisnya besar.[1]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

قال الجوهري الادرة نفخة في الخصية

Al-Jauhari berkata: “Al-Adrah pembengkakan pada testis”.[2]

Tafsir ini yang dinilai shahih oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya[3] walau pun beliau tidak menutup kemungkinan masuknya makna lainnya.

  1. Mereka mengatakan Nabi Musa Abrash. (penyakit kulit sopak)
  2. Tuduhan bahwa Musa sebagai pembunuh saudaranya sendiri, yaitu Nabi Harun.
  3. Qila (ada pendapat menyatakan), mereka menuduh Nabi Musa ‘Alaihissalam sebagai penyihir, dan gila. Dan ini disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi.[4]

Semua ucapan tersebut di atas, seperti Adar, Abrash, dan pembunuh Harun, masuk ke dalam kategori perkara-perkara yang menyakiti Nabi Musa ‘Alaihissalam, sehingga sah dijadikan sebagai tafsir dari bentuk ucapan yang mereka lontarkan untuk menyakiti Nabi Musa ‘Alaihissalam, dan inilah yang dipilih oleh Imam Ath-Thabari dan Ibnu katsir.

Imam Ath-Thabari rahimahullah menyimpulkan :

وأولى الأقوال في ذلك بالصواب أن يقال: إن بني إسرائيل آذوا نبي الله ببعض ما كان يكره أن يؤذى به، فبرأه الله مما آذوه به. وجائز أن يكون ذلك كان قيلهم

Artinya: “dan pendapat yang paling utama kebenarannya dalam hal itu hendaknya dikatakan : “Sesungguhnya Bani Israil telah menyakiti Nabi Allah dengan sebagian perkara yang beliau (Nabi) tidak suka disakiti dengannya, maka Allah membebaskannya dari hal-hal menyakitkan yang mereka lakukan.”[5]

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah, beliau berkata:

يحتمل أن يكون الكل مرادا

“Dan dapat bisa saja semua bentuk celaan tersebut yang dimaksdukan”[6]

Demikian, untuk lebih detilnya dipersilahkan merujuk ke sumber yang penulis sebutkan. Dan hendaklah seorang beriman lebih menjaga ucapan dan tatakrama yang mulia dalam mensifati Nabi Musa ‘Alaihissalam, sehingga tidak menjadi seperti kaum yang telah berucap menyakitkan dan dusta terhadap Nabi Musa seperti yang dijelaskan dalam Ayat tersebut.

Semoga bermanfaat.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


 

[1] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim (4/33)

[2] Fathulbari Syarh Shahihilbukhari (1/386)

[3] Tafsir Al-Qurthubi (14/251)

[4] Tafsir Al-Qurthubi (14/251)

[5]  Tafsir Al-Thabari (20/335)

[6] Tafsir Ibnu Katsir (6/486).

(Note: penomoran referensi mengacu ke Al-Maktabah Al-Syamilah)

Comments

comments