Mengintip Isi Percakapan WhatsApp Bapak-bapak

Teduh.Or.Id – Konon, wanita sulit dimengerti, untuk memahami perasaan wanita, butuh waktu lama. Sebab setiap waktu, jawaban yang sudah ada sebelumnya belum tentu bisa menjawab apa yang diinginkan perasaannya. Namun ternyata, wanita juga memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada para pria. Hal ini tentu tak butuh lembaga survey untuk menghitungnya.

Akan terlalu banyak biaya terkuras jika hanya sekadar mengurus dan menebak perasaan. Karena namanya perasaan, ia adalah simpul-simpul subjektif yang diikat dengan kesan acuh, namun diliputi rasa kekhawatiran dan kecemasan untuk mengetahui lebih dalam.

Terlebih dengan maraknya penggunaan media sosial diantara pria dan wanita. Masing-masing memiliki ketertarikan tersendiri. Dan media sosial seakan menghimpun mereka dalam sebuah kesamaan hiburan, yakni hobi. Hobi pria adalah berserikat, berkumpul, dan ber-hahahaha. Adapun wanita memiliki hobi belanja, berbicara tentang orang lain dan ber-huhuhuhu.

Barangkali bisa kita telusuri, sebetulnya, apa saja topik-topik pembicaraan yang disampaikan oleh para pria saat mereka ber-WhatsApp ria. Karena platform WhatsApp terkesan lebih dewasa, maka para pengguna anak-anak dan pra-remaja tidak kita hitung, itu media digunakan untuk apa. Kalau pun digunakan untuk para anak-anak dan pra-remaja, paling hanya berkisar tentang tren game terbaru, tawaran mengajak main bareng (mabar), atau tukar cheat game ter-anyar.

Lalu, bagaimana dengan pengguna remaja? Nah ini, biasanya para pengguna remaja atau katakanlah anak SMA dan anak kuliahan, WhatsApp digunakan tidak semasif mereka menggunakan Line. Karena Line memiliki jangkauan yang millenials banget dibandingkan dengan WhatsApp yang didesain untuk mereka yang terkesan formal dan berbau peninggalan kolonial.

Mereka, para remaja seusia SMA dan kuliah, lebih aktif menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan para orangtua, dan para pendidik mereka, semisal guru atau dosen pembimbing yang itu pun tidak tahu bagaimana fitur WhatsApp bekerja. Kalau pun digunakan secara maksimal, maka WhatsApp digunakan untuk saling tukar link video neg***if. Untuk yang terakhir ini, masih tidak lebih baik disbanding performa Line.

Ragam Isi WhatsApp

Kita beranjak ke usia yang lebih dewasa, yakni mereka yang sudah bekerja. Nah kalau ini, maka peranti WhatsApp adalah sebuah kewajiban tersendiri, muda tidak bisa menolak gerusan ambisi para tetua yang masif menggunakan WhatsApp.

Biasanya akan masuk pada grup WhatsApp yang bukan hanya menunjukkan tempatan divisi bekerja, tapi ada grup nongkrongnya juga yang sengaja tidak mengundang para jajaran pemimpin gabung disana, karena memang berfungsi untuk sekedar hahahaha saja. Setelahnya atau justru membicarakan pemimpinnya sesuka hati mereka. Di sinilah biasanya para pengintai muncul. Bagusnya main aman ajalah kalau sudah di-invite pada grup model ini.

Tak ketinggalan pula, WhatsApp juga digunakan untuk membuat sebuah acara kegiatan tertentu. Setiap ada event, maka grup WhatsApp baru akan segera dimulai, saat acara selesai, akan banyak ada orang yang tidak enakan untuk meninggalkan grup, sehingga ditemukanlah cara untuk mengganti nomor keanggotaan di grup bersangkutan lalu nomor aslinya bisa keluar diam-diam.

Jika para pegawai muda fresh graduate menggunakan WhatsApp untuk hal demikian, dalam hubungan asmara juga WhatsApp digunakan lebih dominan. Karena biasanya sudah merasa malas untuk berganti platform. Lagi juga gadis-gadis pasangan mereka sangat mengharapkan para prianya cukup mengakses WhatsApp saja, lebih mudah dibedah, dengan fitur yang lebih adaptif bagi para wanita yang identik dengan gagap tekno.

Beranjak ke mereka para usia dewasa madya, kisaran usia ini antara 35 sampai dengan 45-an. Mereka gunakan dengan sebaik-baiknya, sebab seluruh tugas kerjaan dikendalikan disana. Suasana platform sudah mulai tidak tertib karena terlalu banyak grup, dari mulai grup reuni tingkat SD, reuni karang taruna, remaja masjid, sampai reuni pelatihan ini-itu.

Notifikasi tidak pernah berhenti, humor-humor semakin dewasa dan menyerempet pada hal tabu. Disinilah, para pria kadang kerap tersenyum sendiri saat bersama dengan gadgetnya. Selain tidak tertib pengaturan grup, chat-chat pribadi kerap tidak tertib, banyak chat yang sudah berlalu tapi tak kunjung dihapus, disinilah kadang para pasangan mereka menaruh curiga pada nomor tak bernama dan berfoto profil wanita muda yang kerap bertanya, dan pas sampai di rumah, si ayah lupa menghapusnya.

“Kenapa semua anggotanya left group?”
WhatsApp Bapak-bapak

Usia tua, juga tak luput dalam penggunaan sosial media, WhatsApp grup alumni dan reuni sudah mulai sepi, yang tersisa adalah kembali kepada grup komplek perumahan atau kampung halaman. Karena ternyata siklus hidup berjalan hanya berputar. Besar di sana, dan akan berakhir disana.

Bedanya kini pembicaraan tidak banyak dihabiskan di gardu ronda, tapi di grup-grup seperti itulah mereka. Kabar-kabar yang ada hanya berkisar tentang penyakit dan duka cita, soal-soal kelahiran, pernikahan anak, sunatan cucu, hingga tak sedikit agak menonjolkan eksistyensi diri yang sudah tak muda lagi dengan membanggakan anak cucu mereka.

Selain itu, di perbincangan-perbincangan yang ada, mereka banyak saling berbagi tips dan rahasia kesehatan secara berantai. Dari sumber yang tidak jelas, dan diteruskan dengan pernyataan, “dari grup sebelah”.

Di grup bapak-bapak ini pula, setiap postingan pasti memiliki waktu yang khusus, di pagi hari aka nada doa-doa dan semangat, seperti: “Selamat pagi, semoga pagi ini kita mendapat limpahan rezeki dan keberkahan waktu, serta semakin takwa pada Allah SWT”. Maklum di usia seperti itu, agak sensitive bilang rejeki jika hanya berakhir sebagai pensiunan pegawai swasta atau negeri, itulah mengapa doa di kalimat pertama dipanjatkan dengan nada rezeki.

Grup baru akan ramai saat menginjak waktu malam, biasanya ada nada debat politik, diskusi agama, hingga foto-foto makan malam yang dihidangkan oleh para istri mereka. Sesekali juga ada foto bepergian ke rumah cucu menggunakan kereta atau pesawat. Atau yah jika tidak kemana-mana paling mengedarkan berita terbaru yang habis dibaca di portal semisal detik atau tribun, di copy-paste lalu disebarkan segera, biar jadi yang paling update deh kiranya.

Memang, nikmat bersosial media adalah nikmat yang tidak dapat dielakan, Allah mudahkan kita untuk tetap saling berkomunikasi walau terbentang jarak dan waktu. Namun hobi kita untuk membicarakan orang lain dan aktivitasnya pun tak juga using, seperti paparan Yuval Noah Harare dalam Sapiens, bahwa yang menyebabkan manusia dapat bertahan hidup hingga hari ini dibandingkan dengan hewan purbakala lainnya ialah mereka memiliki kemampuan untuk bergosip (membicarakan orang lain), dan hal inilah yang tidak dimiliki oleh para dinosaurus sehingga mereka punah, sedang manusia tidak.

Itulah mengapa, mari kita semakin bijak untuk lebih dekat lagi dengan penggunaan WhatsApp yang lebih baik. Saat menggunakan, usahakanlah agar kita bisa menjadi manusia yang bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu; Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka kebaikan dan penutup pintu keburukan. Dan sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan sebagai pembuka kebaikan melalui tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan sebagai pembuka keburukan melalui tangannya.” (HR. Ibnu Majah no. 237).

Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin bijak dalam ber-WhatsApp

(Bekasi, 11 Desember 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.