Menghadirkan Galau karena Ibadah Belum Pasti Diterima

Tidak ada hal yang paling penting yang harus menjadi perhatian utama bagi seorang yang tengah berjalan meniti ampunan dan keridhaan Allah selain dari mengharap amal ibadahnya dalam bulan ramadlan diterima dan menjadi penyebab ia terbebas dari siksa Neraka.

Karena sesungguhnya hakikat terpenting dari suatu amal ibadah tidk lain adalah bagaimana amal tersebut diterima Allah dan menjadi penyebab masuk surga, Allah berfirman;

۞  ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Al-Maidah 27)

Dari itu Abu Addarda’ – radliyallahu ‘anhu – berkata;

لأن أستيقن أن الله قد تقبل مني صلاة واحدة أحب إليّ من الدنيا وما فيها، إن الله يقول:  إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sungguh aku bisa menjadi yakin Allah menerima satu shalat dariku, lebih aku sukai dari pada dunia dan apa-apa yang ada di dalamnya, sesungguhnya Allah berfirman: (yang artinya) “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” (Tafsir Ibnu katsir 2/112)

Dan inilah cermin sikap generasi Salaf dalam setiap amal ibadah yang mereka lakukan, agar kita mengikuti mereka, di mana mereka selalu merasa khawatir jika amalannya tidak bermanfaat kelak di hari akhirat karena tidak diterima, dan hal ini telah disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah berfirman;

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ

“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (Al-Mukminun 60).

Orang-orang dalam ayat ini adalah mereka yang merasa takut dan gelisah amal ibadahnya (sedekahnya) tidak dapat menolong dirinya kelak pada hari kembali kepada Allah ‘Azza Wajalla, ini menunjukkan satu sikap yang luar biasa yang ditunjukkan Al-Qur’an kepada kita, agar kita lebih mementingkan prihal diterimanya suatu amalan dan manfaatnya suatu amalan, sehingga dalam hadits disebutkan;

Dari Ummulmukminin ‘Aisyah – Radliyallahu ‘Anha – beliau berkata:

قالت عائشة هم الذين يشربون الخمر ويسرقون قال لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات

“(Apakah) Mereka (dalam ayat ini maksudnya) adalah orang-orang yang meminum khamr dan mencuri,? Nabi ﷺ bersabda; “bukan wahai putri Asshiddiq, akan tetapi orang-orang yang mereka berpuasa, shalat, bersedekah, dan mereka takut tidak diterima, mereka adalah orang-orang yang bergegas dalam kebaikan.” (Hadits riwayat Attirmidzi, dan Ibnu Majah.)

Beberapa nukilan dari ulama salaf berikut ini semakin membuat kita yakin dan mengerti betapa urusan ini adalah urusan yang paling inti dari peribadatan seorang hamba,

 Abdul’aziz bin Abi Rawwad –rahimahullah – berkata;

أدركتهم يجتهدون في العمل الصالح فإذا فعلوه وقع عليهم الهم أيقبل منهم أم لا

“Aku menjumpai mereka (orang-orang saleh dari generasi salaf) bersungguh-sungguh dalam beramal saleh, dan apabila mereka telah melakukannya maka kegundahan menimpa atas mereka, apakah diterima ataukah tidak amalan dari mereka?.

‘Umar bin Abdilaziz – rahimahullah – keluar pada hari raya idulfitri dan berkata dalam khuthbahnya;

أيها الناس إنكم صمتم لله ثلاثين يوما و قمتم ثلاثين ليلة و خرجتم اليوم تطلبون من الله أن يتقبل منكم

“Wahai manusia sesungguhnya kalian telah berpuasa karena Allah selama tiga puluh hari dan kalian telah shalat tiga puluh malam dan kalian keluar pada hari ini memohon kepada Allah agar amal kalian diterima.” (Latha’iful Ma’arif 1/376)

Dan semua penjelasan di atas adalah pembicaraan tentang keadaan orang-orang terbaik yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, pun demikian kita dapatkan seperti itu keadaan mereka dengan amalannya, dan jika dibandingkan dengan keadaan kita maka tentu jauh panggang dari apinya, keadaan kita malah sebaliknya, yakni tidak bersungguh-sungguh dalam ibadah, dan setelahnya merasa aman dan yakin telah diterima, maka betapa dalam nasehat Al-Hafizh Ibnu Rajab – rahimahullah – berikut ini;

فصيامنا هذا يحتاج إلى استغفار نافع و عمل صالح له شافع كم نخرق صيامنا بسهام الكلام ثم نرقعه و قد اتسع الخرق على الراقع كم نرفو خروقه بمخيط الحسنات ثم نقطعه بحسام السيئات القاطع كان بعض السلف إذا صلى صلاة استغفر من تقصيره فيها كما يستغفر المذنب من ذنبه إذا كان هذا حال المحسنين في عباداتهم فكيف حال المسيئين مثلنا في عباداتهم ارحموا من حسناته كلها سيئات و طاعاته كلها غفلات

“Puasa kita ini butuh kepada istighfar yang berguna, dan kepada amal saleh yang membantunya, betapa banyak sudah kita menyobek puasa kita dengan panah-panah pembicaraan, kemudian kita menambalnya padahal sobekan telah luas di atas penambal itu sendiri, betapa sering kita memperbaiki sobekan-sobekannya dengan benang-benang kebaikan, kemudian kita memotongnya dengan mata pedang kejelekan yang begitu tajam, sebagian Salaf apabila telah shalat, ia beristighfar dari kekurangannya dalam shalat, sebagaimana beristghfarnya seorang pendosa dari dosa-dosanya. Apabila seperti ini keadaan orang-orang yang Ihsan dalam peribadatannya maka bagaimana mestinya keadaan orang-orang buruk seperti kita dalam peribadatannya? Kasihanilah orang yang semua kebaikannya adalah keburukan, dan ketaatannya adalah kelalaian.” (Latha’ifulma’arif 232)

Taqabballahu Minna Waminkum,

Musa Abu ‘Affaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.