Menggali Gerhana Matahari

Masih ingat dengan materi pelajaran di sekolah dasar tentang gerhana matahari ataupun bulan? Sebagian dari kita mungkin lupa urutan tentang bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi. Sedikit yang tersisa paling hanya proses terhalangnya sinar matahari oleh bulan (Gerhana matahari) atau bumi menutupi pantulan sinar matahari ke bulan (Gerhana bulan). Yang jelas gerhana merupakan suatu fenomena alam besar yang terjadi bukan karena kebetulan semata.

 Di antara dua gerhana yang kita kenal, gerhana matahari tentu lebih terasa menarik perhatian. Beda dengan gerhana bulan, yang karena gelapnya malam, tak banyak berdampak pada keadaan cahaya di bumi. Gerhana matahari dapat membawa pengaruh langsung pada bagian bumi yang dilewatinya. Pada saat gerhana matahari total sebagian bumi akan menjadi gelap dan terasa mengerikan bagi orang-orang tertentu.

Banyak mitos yang menyertai tentang bagaimana gerhana matahari dapat terjadi. Dalam peradaban masyarakat kuno penganut animisme, gerhana bulan atau matahari selalu diiringi ketakutan dan dikaitkan dengan berbagai hal buruk. Mulai dari adanya kisah dewa yang memakan matahari, binatang liar yang lapar sampai pertarungan antara bulan dan matahari.

Kisah serupa dongeng juga tak sedikit mengiringi terkait fenomena gerhana matahari. Menurut E.C. Krupp, Direktur dari Griffith Observatory di Los Angeles, California, dikutip dari National Geographic, bahwa orang Korea menganggap gerhana terjadi karena seekor anjing api yang ingin mencuri matahari dan bulan. Sementara versi dalam kebudayaan Vietnam, berkisah tentang hilangnya matahari diyakini karena dimakan seekor katak. Sedangkan versi yang paling disukai Krupp sendiri yakni kisah tentang pertarungan antara bulan dan matahari yang dibawakan oleh orang-orang Batammaliba di Togo dan Benin.

Bagaimana dengan mitos di Indonesia? Sejarah budaya dan keyakinan yang panjang tentang gerhana di bumi nusantara ternyata memiliki kesamaan dengan suku Inca di Amerika Utara tentang perlunya membuat gaduh suasana dengan bermacam bunyi-bunyian. Tidak kurang masyarakat di wilayah Jawa, Bali, sampai Halmahera melakukan hal tersebut. Ditambah dengan keyakinan di beberapa tempat bahwa gerhana terjadi akibat Batara Kala Rau menelan Dewi Ratih. Agaknya kisah ini berasal dari kisah yang ada di agama Hindu.

Bagaimana Gerhana Terjadi?

Tidak hanya mitos yang masih diyakini hingga kini, sebab dalam perkembangannya, tren justru membawa pada kondisi dimana masyarakat diajak untuk menikmati proses gerhana matahari maupun bulan. Masyarakat modern tidak lagi takut pada cerita seram tentang gerhana. Mungkin juga berlaku untuk masyarakat modern Indonesia, yang konon katanya, bisa menikmati momen seru aksi bom dan tembak-tembakan di depan mata, maka untuk gerhana matahari semestinya dinikmati lebih baik lagi.

Sekitar satu bulan dari sekarang, Indonesia akan dihampiri peristiwa gerhana matahari total yang terakhir singgah sekitar 21 tahun lalu, tepatnya pada 24 Oktober 1995. Kala itu gerhana matahari berlangsung selama kurang lebih 2 menit dan hanya tampak jelas di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Sementara pada tahun ini, diperkirakan gerhana akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 di beberapa tempat di Indonesia. Pulau Belitung menjadi salah satu tempat yang sudah disiapkan untuk para traveler menikmati momen langka tersebut.

Dan bicara mitos maupun tren terkait gerhana matahari, rasanya kurang lengkap jika tidak melihatnya dari kacamata ilmiah. Dalam buku Ilmu Pengetahuan Alam, karya Heri Sulityanto dan Edy Wiyono, dijelaskan bahwa gerhana matahari terjadi pada saat bulan baru. Pada saat gerhana matahari, bulan berada di antara matahari dan bumi. Serta matahari, bulan dan bumi berada pada satu garis lurus, sehingga bumi memasuki bayang-bayang bulan, atau cahaya matahari ke bumi terhalang oleh bulan.

Gerhana matahari kemudian dibedakan menjadi gerhana matahari sebagian, gerhana matahari total, dan gerhana matahari cincin. Gerhana matahari total adalah gerhana matahari yang diamati dari daerah umbra (bagian tergelap pada  roda matahari). Gerhana matahari total dapat berlangsung hingga ± 6 menit lamanya, sementara yang bisa dilihat dari Pulau Belitung sekitar 2 menit 10 detik. Sedangkan gerhana matahari sebagian berbentuk elips dan gerhana matahari cincin terjadi karena jarak bumi dan bulan yang terlalu jauh sehingga bumi terkenan perpanjangan kerucut umbra bulan.

Muslim dan Gerhana

Peristiwa gerhana matahari bukanlah peristiwa sederhana seperti kelihatannya. Ada kekuatan Mahabesar yang membuat hal tersebut bisa terjadi. Ada banyak model kacamata versi manusia untuk melihatnya, entah itu kemudian dengan membuat bising suasana sampai yang terbaru menjadikannya fenomena wisata. Namun saya, Anda, dan kita yang menjadi bagian umat Islam, serta sebagai Muslim yang berusaha menjalankan perintah Tuhannya, maka alangkah baiknya bila kita cukupkan memakai kacamata bingkai syariat dalam melihat peristiwa gerhana.

Semenarik apapun suatu peristiwa, termasuk wisata gerhana, hingga ingin kita turut serta di dalamnya. Namun jika agama melalui Rasulullah ﷺ telah mengajarkan cara menyikapinya, maka alangkah baiknya kita mengutamakan hal tersebut. Pada saat gerhana matahari, syariat telah menuntun kita untuk melaksanakan Salat Kusuf (Salat gerhana). Seperti disebutkan dalam sebuah hadis dari Aisyah radhiallahuanha, yang berkata, “Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah ﷺ. Beliau salat bersama para sahabat, dan beliau berdiri cukup lama, lalu beliau rukuk cukup lama, lalu beliau berdiri lagi cukup lama tetapi lebih singkat dari sebelumnya, lalu beliau rukuk cukup lama tetapi lebih singkat dari sebelumnya, lalu beliau bangun kemudian sujud, lalu beliau bangun dari sujud lagi. Kemudian pada rakaat kedua beliau melaksanakan seperti itu. Begitu selesai, matahari tampak terang.” (dari kitab Bidayatul Mujtahid)

Ya, Islam sudah mengatur sedemikian detail tentang apa yang harus kaum Muslimin lakukan ketika terjadi gerhana matahari. Perkara prediksi peristiwa yang masih lama terjadi hendaknya dapat kita manfaatkan sebagai waktu untuk belajar lebih jauh bagaimana praktik fikih Salat Kusuf dilakukan sesuai sunah. Dan meskipun kita tidak turut serta menikmati fenomena tersebut di dunia, mudah-mudahan kita dapat menikmati pahala yang Allah berikan dengan usaha kita beribadah dan menjalankan sunah Nabi-Nya ﷺ.

Jadi, cermatlah sebagai seorang muslim yang taat agar tidak sekedar pengakuan saja, kala gerhana entah bulan atau matahari tiba. Bukan sekedar latah bergegas mengabadikan dan mencandranya dengan penuh ketakjuban hampa.

Oleh: Dimas Ronggo