Mengenal Sejarah Yahudi

Teduh.Or.Id – Yahudi, semua orang pernah mendengar nama ini, bahkan kata Yahudi telah diabadikan didalam Al-Qur’an dan Hadits, yang menunjukkan bahwa peradaban kaum Yahudi benar-benar nyata dan terjadi, bukan sekedar dongeng, isu, atau pun cerita ringan belaka bersifat isapan jempol.

Allah Azza Wajalla mengabadikan sebutan Yahudi dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi manusia akhir zaman, agar mereka tidak mengikuti jejaknya, sebab Yahudi adalah kaum tercela disisi Allah sebagai jenis manusia yang dibenci (Maghdhubu Alaihim) karena pada dasarnya mereka mengetahui kebenaran namun enggan beriman kepadanya.

Asal mula kaum ‘Yahudi’ diperselisihkan oleh para Ahli, sebagian menyebutkan bahwa kata Yahudi berasal dari bahasa Arab yaitu Al-Huud yang berarti taubat dan kembali.

Satu pihak menetapkan bahwa kata Yahudi tidak berasal dari bahasa Arab, akan tetapi kata ini adalah satu penisbatan kepada Yahudza, yakni seorang cucu dari Nabi Ya’qub Alaihis Salam, atau bermakna pula penisbatan kepada sebuah negeri Yahudza yang konon pernah ada di Palestina setelah wafatnya Nabi Sulaiman –Alaihissalam-, dan nampaknya inilah yang lebih kuat, karena penyebutan Yahudi sendiri tidak tertera di dalam kitab-kitab mereka kecuali didalam Sifru ‘Izra (nama kitab Yahudi) yang membahas rentang peristiwa ditawannya rakyat negeri Yahudza ke Babil, (kini Babilonia).

Dari ketetapan itu, para Ahli akhirnya menetapkan bahwa pemberian julukan ‘Yahudi’ atas mereka berasal dari para penguasa bangsa Persia yang saat itu tengah menguasai Yahudi di bawah pemerintahan negeri Babil.

Lebih mendalam lagi, Yahudi adalah satu julukan kepada orang-orang yang menyangka dirinya sebagai pengikut Nabi Musa Alaihis Salam, didalam Al-Qur’an mereka disebut demikian, yaitu sebagai Kaum Nabi Musa, dan Bani Israil ( Anak-anak Nabi Ya’qub), juga sebagai Ahli Kitab, sehingga mendapat sebutan ‘Yahudi’.

Namun diantara macam julukan dan sebutan tersebut, khususnya julukan dengan sebutan Yahudi, tidaklah didatangkan dalam Al-Qur’an, kecuali dalam bentuk ungkapan celaan dan hinaan terhadap mereka, dan hal ini menunjukkan bahwa mereka diberikan gelar atau julukan dengan yahudi tidak lain setelah rusak serta bobroknya keadaan mereka dalam menjalankan agama Allah.

Garis Besar Asal Muasal Yahudi

Setelah zaman Nabi Ibrahim berlalu, terdapatlah seorang lelaki mulia yang menempati Palestina kala itu, lelaki Mulia tersebut hidup bersama putra-putranya dengan cara berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya di negeri Palestina, kehidupan yang beliau jalani adalah pola hidup Badui (mendesa) dan berpindah-pindah (nomaden).

Beliaulah Israil. Israil adalah Ya’qub putra Ishaq, sedangkan Ishaq adalah putra Ibrahim Al-Khalil –‘Alaihimussalam– .

Sekelumit keadaan Ya’qub diatas adalah awal mula sejarah Yahudi dimulai, yaitu setelah Nabi Yusuf –Alaihis Salam– diberikan keleluasaan oleh Allah di Mesir, Beliau kemudian membawa keluarganya yang berada di pedesaan Palestina untuk datang ke Mesir.

Datanglah Nabi Ya’qub beserta anak-anak dan keluarganya ke Mesir lalu menetap disana, bangsa Yahudi menyebutkan, bahwa jumlah keluarga yang turut serta dengan Nabi Ya’qub saat itu berjumlah Tujuh Puluh orang dan mereka semua adalah orang-orang yang beriman, jadilah keluarga Nabi Ya’qub adalah segolongan kaum beriman yang hidup di antara orang-orang yang menyembah berhala dan kelak mereka disebut dengan Bani Israil.

Nampaknya dengan alasan itulah kemudian Fir’aun Mesir ketika itu memutuskan memberikan tempat khusus bagi keluarga Nabi Yusuf yang saat itu adalah salah seorang pejabat Negara Mesir. Nabi Ya’qub bersama segenap keluarganya hidup damai dan sentosa.

Berjalannya waktu, Nabi Yusuf – Alaihis Salam – pun wafat setelah sekian lama menjabat di Mesir, wafatnya Nabi Yusuf membawa perubahan yang tidak baik, khususnya terhadap keluarga Nabi Ya’qub –alaihis Salam-, dimana para Fir’aun ketika itu melakukan makar dan melewati batas terhadap Bani Israil –yang sebelumnya adalah keluarga Nabi Ya’qub– puncaknya adalah dengan mereka mengucilkan lalu menghinakan mereka.

Peristiwa tersebut diceritakan didalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash; 4-6, para Fir’aun membunuh laki-laki Bani israil dan menjadikan wanita-wanitanya terlantar, sehingga keadaan pahit ini terus berlanjut ke zaman yang panjang sampai Akhirnya Allah mengutus Nabi Musa –Alaihis Salam– agar mendakwahkan kepada fir’aun untuk beriman kepada Allah dan berhenti dari memerintahkan rakyatnya menyembah dirinya, selain itu juga agar mengangkat siksa dan kehinaan dari Bani Israil serta membiarkan mereka keluar dari Mesir.

Sumber : Dirosat Fil Adyan Alyahudiyyah Wan Nashroniyyah. Dengan sedikit penyesuaian.

Gambar dari: http://www.ismaaustralia.com/wp-content/uploads/2013/11/camels.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.