Mengejar Sutrah Dengan Melangkah

Yang telah dipahami oleh kaum Muslimin pada umumnya di Indonesia bahwa berjalan kaki yang menimbulkan gerakan lebih dari tiga gerakan bisa membatalkan Shalat, dan memang demikianlah sesungguhnya yang telah tercatat dalam kitab-kitab fikih Madzhab Asy-Syafi’iyyah yang secara geografis telah menjadi setanah seair dengan Indonesia.

Menarik adalah ketika munculnya beberapa hal baru ditengah masyarakat berkaitan dengan adanya beberapa orang oknum jamaah di masjid masjid tertentu yang melakukan jalan kaki agar bisa merapat ke tembok masjid dan tentunya ini dilakukannya selepas Shalat Jamaah telah usai sedangkan dia sendiri adalah jamaah yang Masbuq.

Maka tak ayal lagi, desas desus persoalan ini menjadi buah bibir di masyarakat umum dan bahkan menjadi bahan diskusi menarik dalam majelis atau forum ilmu Syar’I, namun tak jarang juga menimbulkan polemik yang berlanjut sampai kepada saling menuding dan menvonis sesat satu dengan yang lainnya. Semoga Allah mempersatukan hati semua kaum Muslimin, Amiin.

Dan telah menjadi maklumat umum dikalangan penuntut ilmu bahwa Sutrahnya Imam adalah juga Sutrah untuk Makmumnya, namun ketika Shalat Jamaah telah usai sementara si Mabuq masih harus menyempurnakan raka’at yang belum ia dirikan, di sini muncullah polemik, yaitu apakah Sutrah imamnya masih berlaku sebagai sutrah untuk dirinya, ataukah Sutrah imamnya telah terputus sehingga si Masbuq terhitung tidak lagi memiliki Sutrah dan harus membuat Sutrah baru dan dalam hal ini adalah dengan cara melangkah ke depan sampai mendekat ke tembok?

Tentunya di situ telah banyak pendapat yang telah diuraikan dan di paparkan namun sebagaimana biasanya masalah khilafiyyah seperti ini selalu mengundang kebingungan dan terkadang kefanatikan mendalam terhadap satu pendapat. Dalam hal ini Ulama dalam barisan Madzhab Syafi’iyyah menegaskan bahwa seorang Masbuq tidak perlu berjalan demi mendekat ke tembok, sebab usainya Shalat Jamaah bukanlah berarti Sutrahnya akan menjadi lenyap, akan tetapi dia tetap dihukumi semakna dengan orang yang Shalat dengan Sutrah, Al-Khathib Asy-Syarbiny Rahimahullah (Wafat 977 H.) telah memberikan isyarat atas hal tersebut – sebagaimana yang telah di nukil oleh lembaga fatwa Umum Kerajaan Yordania Al-Hasyimiyyah – dimana beliau memperhitungkan dan menetapkan akan tetapnya hukum Sutrah untuk orang yang telah memulai Shalat akan tetapi Sutrahnya lenyap karena tertiup angin, beliau berkata dalam kitabnya Mughnil Muhtaj (1/421):

“لو وضع سترة فأزالها الريح أو غيرها، فمَن عَلِمَ فمرورُه كمروره مع وجود السترة، دون من لم يعلم”، والله تعالى أعلم.

Artinya: “Apabila ia meletakkan Sutrah lalu kemudian hilang tertiup angin atau oleh yang lainnya, maka siapa saja yang mengetahui (hal tersebut terjadi atas orang tersebut. Pen.) maka lewatnya (orang yang mengetahui tadi, Pen.) sama seperti ia lewat di saat Sutrahnya masih ada.”

maka menjadi jelas, bahwa Makmum yang Masbuq tidak diwajibkan dan tidak dianjurkan untuk melangkah – terlebih apabila jaraknya agak renggang dengan tembok – untuk mencari Sutrah baru dan mendekatinya, sebab dia masih terhitung sebagai orang yang memiliki Sutrah.

Hal lain yang menguatkan pendapat ini adalah jawaban Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin Rahimahullah, Ulama Ahli fikih terkemuka era ini pernah ditanya hal serupa, beliau menjawab:

الذي يظهر لي من صنيع الصحابة رضي الله عنهم ، أن المسبوق لا يتخذ سترة ، وأنه يقضي بلا سترة ” انتهى من “لقاء الباب المفتوح” (232/30

Artinya: “Yang nampak bagi saya dari praktik Shahabat Nabi – Radhiyallahu ‘Anhum – bahwa orang yang Masbuq tidak membuat Sutrah, dan sesungguhnya (dalam hal ini cukup, Pen.) ia menyelesaikan (shalatnya) tanpa Sutrah.” (Liqa’ul Bab Al-Maftuh 30/232).

Pendapat Yang Menganjurkan atau Mewajibkan Melangkah

Ada pun kelompok yang mengharuskan atau menganjurkan agar tetap melangkah ke depan mendekat ke tembok untuk Sutrah mencoba berdalil dengan beberapa hadits yang umum akan tetapi kurang tepat dengan kontek persoalan, di antaranya ialah :

باب سُتْرَةُ الإِمَامِ سُتْرَةُ مَنْ خَلْفَهُ

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ هَبَطْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ ثَنِيَّةِ أَذَاخِرَ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ – يَعْنِى – فَصَلَّى إِلَى جِدَارٍ فَاتَّخَذَهُ قِبْلَةً وَنَحْنُ خَلْفَهُ فَجَاءَتْ بَهْمَةٌ تَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَا زَالَ يُدَارِئُهَا حَتَّى لَصِقَ بَطْنُهُ بِالْجِدَارِ وَمَرَّتْ مِنْ وَرَائِهِ

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: “Satu ketika kami turun (tiba) bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui Tsaniyyah Adzakhir (nama sebuah tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah, Pen.) dan waktu Shalat telah menjelang – Yakni yang dimaksud – beliau Shalat menghadap ke suatu tembok dan menjadikannya sebagai Qiblat sedangkan kami berada dibelakangnya, lalu datanglah seekor Bahmah (anak domba) hendak melintas di depannya, beliau terus menahan Bahmah itu sampai akhirnya perut beliau menempel ditembok dan (sampai akhirnya) Bahmah tersebut melintas lewat belakangnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam“. (HR: Abu dawud dan Ahmad.)

Imam Abu Dawud Rahimahullah memperjelas bahasan yang bisa diambil faidahnya dari hadits ini dengan mendahuluinya dengan tema ; “Sutrahnya Imam adalah Sutrah bagi jamaah yang dibelakangnya” dan lebih terperinci Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Hafidzhahullah (ulama Sepuh Madinah yang masih mengajar di masjid Nabawi sampai saat ini, Pen.) dalam Syarh Sunan Abu Dawud yang berhasil kami nukil dari Maktabah Syamilah beliau menjelaskan:

وهذا هو وجه الشاهد لكون سترة الإمام سترة للمأمومين، إذ إنها مرت أمام المأمومين من وراء الإمام، وذلك لا يضر؛ لأن سترة الإمام سترة لهم، والرسول صلى الله عليه وسلم منع هذه البهمة، وهذا يدل على أن المصلي يمنع ما يمر بين يديه، سواءٌ أكان إنساناً أم حيواناً.

“dan inilah yang menjadi letak pokok bahasan, sebab Sutrahnya Imam adalah Sutrah untuk Makmum, karena sesungguhnya anak domba tersebut melintas di depan Makmum melalui belakang Imam dan hal tersebut tidak mencederai (Shalat), sebab Sutrahnya Imam merupakan Sutrah untuk Makmum, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mencegah anak domba ini, dan ini menunjukkan atas bahwa orang yang Shalat (boleh) mencegah apa saja yang melintas di area depannya, termasuk apakah itu manusia atau pun hewan.” Selesai.

Berarti hadits ini sama sekali tidak menunjukkan anjuran melangkah dan menempel ke Sutrah seperti yang dipahami oleh sebagian kaum, akan tetapi lebih kepada kontek tatacara mencegah hewan yang memaksa lewat di depan area Shalat sebab dalam hadits tersebut telah dijelaskan dengan jelas, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sejak di awal Shalat sudah lebih dulu menjadikan tembok sebagai Sutrah, sehingga tidak ada alasan mengatakan bahwa hadits ini adalah petunjuk dianjurkannya melangkah untuk mendapatkan Sutrah, akan tetapi –sekali lagi – menunjukkan kepada tatacara menghindar atau mencegah hewan lewat didepan area Shalat. Wallaahu A’lam.

Di antara alasan yang dikemukakannya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melangkah dalam Shalat ketika hendak membuka pintu untuk ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, :

عن عروة عن عائشة قالت : كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي في البيت والباب عليه مغلق فجئت فمشى حتى فتح لي ثم رجع إلى مقامه ووصفت ان الباب في القبلة

Artinya: “Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah beliau berkata: ‘Dulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah Shalat di rumah sementara pintunya terkunci, maka aku datang lalu beliau berjalan dan membuka pintu untukku, kemudian beliau kembali ke tempatnya (Shalat) , dan (Aisyah) mensifati bahwa pintu rumah posisinya di arah Qiblat”. (HR: Abu Dawud dan redaksi haditsnya dari riwayat Ahmad)

Hadits ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan anjuran melangkah agar mendapatkan Sutrah ditengah Shalat, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melangkah tidak dalam kontek mendekat ke Sutrah, akan tetapi karena ada hajat dan keperluan mendesak lainnya yang tidak terkait sama sekali dengan kesempurnaan Shalat, yaitu membuka pintu untuk Istri beliau yang berada diluar rumah dan hedak masuk.

Maka sangat benar apa yang di jawab oleh Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin Rahimahullah sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa melangkah demi mendapatkan Sutrah tidak pernah dilakukan oleh para Shahabat, dan cukuplah ini menjadi sebaik-baik petunjuk. Wallahu A’lam.

Musa Abu Affaf.