Menelusuri Ucapan ‘Amr bin Al-‘Ash Dalam Tragedi Tha’un ‘Amawas

Wabah mematikan ini dikenal dengan nama Tha’un ‘Amawas, (ejaannya dengan mengharakatkan fathah huruf Mim pada kata Amawas) yang terjadi pada era kekhalifahan Umar bin al-Khathhab Radliyallahu ‘Anhu tepatnya pada tahun 18 Hijriyyah, dan merenggut banyak jiwa termasuk di dalamnya tokoh-tokoh besar dari kalangan Shahabat nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – di antaranya adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufya, dan lainnya, Radliyallahu ‘Anhum Ajma’in. (Ibnu Katsir / Al-Bidayah Wannihayah (7/78) cet. Darulfikr).

‘Amawas adalah suatu desa di palestina di mana tregedi wabah tha’un ini dinamakan dengannya karena ia muncul pertama kali di sana.[1]

Di antara catatan sejarah yang begitu membekas dalam tragedi ini adalah isi pidato dari ‘Amr bin al-‘Ash – Radliyallahu ‘Anhu – yang berbunyi ;


أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ إِذَا وَقَعَ فَإِنَّمَا يَشْتَعِلُ اشْتِعَالَ النَّارِ، فَتَجَبَّلُوا مِنْهُ فِي الْجِبَالِ


Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya penyakit (wabah tah’un) ini apabila telah melanda maka sebenarnya ia menyebar seperti menyalanya api, maka bersembunyilah darinya ke gunung-gunung.”

Ucapan ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallhu ‘anhu ini menjadi membekas karena isinya berbeda dengan pidato arahan pendahulunya yang berwenang kala itu, di mana mereka tidak memberikan instruksi kepada kaum muslimin agar bersembunyi ke gunung-gunung melainkan agar bersabar menghadapinya, karena mati oleh tha’un adalah mati syahid.

Langkah yang diambil ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallahu ‘Anhu meskipun pada awalnya mendapat penolakan oleh sebagian tokoh kala itu, namun pada akhirnya dinilai baik oleh Khalifah Umar bin Al-Khathhab Radliyallahu ‘Anhu.

Dan ucapan ini telah tersebar belakangan ini melalui jejaring sosmed setelah merebaknya covid-19 ke bumi nusantara, terkadang dijadikan sebagai contoh atau dalil untuk menghadapi wabah covid-19 dengan cara bersembunyi di rumah masing-masing, tidak berkeliaran agar wabah ini hilang dengan sendirinya seperti api yang sudah tidak mendapatkan apa-apa untuk dibakarnya.

Demikian, maka tentu kita perlu mengetahui asal usul kisah ini, bagaimana hukum kisahnya menurut para ulama. Maka berikut kami jelaskan secara singkat saja;

Ketahuilah, perkataan ‘Amr bin al-‘Ash ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad, al-Thabari dalam tarikhnya (4/61), dan oleh yang lainnya, dan  Al-‘Allamah Ahmad Syakir berkata:

Isnad Hadits ini Dha’if (lemah) karena Jahalah Syaikh yang tempat Syahr bin Hausyab meriwayatkan, dan syaikh tersebut adalah Raabbinya (bapak tirinya).” (Ta’liq Musnad Imam Ahmad 2/173. Cet. Darulhadits – Kaero.)

Syaikh Syua’ib Al-Arnauth juga demikian, menilai sanadnya lemah ( Ta’liq Musnad Ahmad (3\226)

Pendapat lain mengatakan bahwa kisah ini benar, sanadnya tidak perlu disikapi seperti menyikapi hadits yang isinya bermuara ke sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam langsung.

Syaikh Dr. Sayyid Khalid Al-Hayik hafizhahullah dalam Takhrijnya[2] atas kisah ini menyimpulkan demikian, beliau berkata :


فالظاهر أن شهر بن حوشب كان يضطرب في إسناده، ومن المعروف أنه يضطرب في رواياته، لكن كيفما دار إسناده، فهذه القصة صحيحة معروفة ومشهورة. وهي قصة تاريخية لا يُتشدد فيها مثل الأحاديث المرفوعة للنبيّ صلى الله عليه وسلم، وقد رُويت من غير طريق شهر بإسناد لا بأس به


“Maka yang zhahir sesungguhnya Syahr bin Hausyab meriwayatkan sanad kisah ini dengan tidak konsisten (plin-plan/yadl-tharib), dan termasuk hal yang telah diketahui bahwa beliau memang tokoh yang tidak konsisten dalam periwayatannya. Akan tetapi bagaimana pun keadaan peredaran Sanadnya, maka kisah ini adalah kisah yang shahih (benar) populer dan masyhur.

Dan merupakan kisah yang mengandung nilai sejarah yang tidak boleh bersikap keras di dalamnya sebagaimana bersikap terhadap hadits-hadits yang Marfu’ ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sebenarnya kisah ini telah diriwayatkan melalui jalan selain dari Syahr dengan Sanad yang tidak buruk.” selesai.

Semoga penjelasan ringkas ini dapat menambah ilmu kita, Amiin.  Wallahu A’lam.

Musa Abu ‘Affaf. Waffaqahullah


[1] Al-Muhaddits Ahmad Syakir dalam Ta’liqnya atas Musnad Ahmad (2/174)

[2] Web Syaikh Khalid Al-Hayik : klik 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.