Menelusuri Ismul-A’dzam  

Tentu Anda pernah mendengar istilah Asmā’ul-Husnā bukan !? Anda termasuk yang beruntung apabila pernah mendengarnya, terlebih lagi jika Anda pernah mempelajari tentangnya dengan baik di sisi Ahli Ilmu, itu pertanda bahwa Anda adalah seorang muslim yang berilmu.

Di antara bahasan dalam Asmā’ul Husnā yang menarik dan penting untuk diungkap dan dibagi ke para pembaca adalah keberadaan Ismul-A’dzam yang masih menjadi misteri di dalamnya. Walau pun bukan sebab utama, namun barangkali inilah salah satu alasan dari tulisan singkat ini dibagi.

Ismul-A’dzam adalah Nama Allah yang paling agung di antara Asmā’ul-Husnā, hakikat keagungan Ismul-A’dzam dapat diketahui dengan jelas dari pemberitaan Rasulullahi Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam tentangnya, dimana beliau pernah bersabda;

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ رَجُلاً يَقُولُ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الأَحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ ، الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ.

Artinya: “Dari Abdullah bin Buraidah Radhiyallāhu ‘Anhu berkata; “Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam pernah mendengar seorang berdoa; “Ya Allah aku memohon  kepadamu karena aku bersaksi sesungguhnya engakulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, (Engkaulah yang bersifat) Ash-Shamad yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada satu pun pembanding untuknya.” Maka Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam pun bersabda; “Sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang apabila Allah dimintai dengannya niscaya akan memberi, dan apabila dipanggil dengannya niscaya akan mengijabah”. (HR : Ahmad. At- Tirmidzi. Abu Dawūd. Ibnu Mājah dengan redaksi Hadits seperti yang di atas. dan An-Nasā’i dengan Sanad yang Shahīh.)

Ketetapan Ismul A’dzam dalam Hadits ini, sekaligus menjadi dalil atas adanya saling keterpautan antara Asmā’ul-Husnā, artinya, bahwa satu nama Allah dengan satu nama lainnya memiliki perbedaan dalam hal keutamaan. Dan menguatkan hal ini, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata;

وكما أن أسماءه وصفاته متنوعة فهي أيضا متفاضلة كما دل ذلك الكتاب والسنة والإجماع مع العقل

“Dan seperti halnya bahwa sesungguhnya nama-namaNya dan sifat-sifatNya bermacam-macam maka nama-nama Allah dan sifat-sifatNya itu juga saling memiliki keterpautan (dalam keutamaan) seperti yang telah ditunjukkan dalam Al-Kitab, as-Sunnah dan Al-Ijma’ beserta akal.”

Melihat keutamaan ini, betapa tidak kemudian para Ulama berusaha menelusuri kepastian Ismul-A’dzam yang masih menjadi misteri. Disebutkan oleh Imam asy-Syaukāny Rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul Tuhfatudz-Dzakirin bahwa Imam as-Suyūthy Rahimahullah telah menggoreskan penanya terlebih dahulu demi menelusuri jejak pendapat para Ulama atas kepastian manakah sebenarnya Ismul-A’dzam tersebut. Tulisan beliau berjudul ad-Durrul-Munaddzam Fil Ismil A’dzam. Di dalamnya disebutkan sekitar dua-puluh pendapat namun sayang sebagian besar darinya adalah pendapat yang lemah karena tanpa didasari oleh dalil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Walau pun demikian namun setidaknya ada beberapa pendapat yang paling masyhur dalam penentuan Ismul-A’dzam dan lebih utama mendekati kebenaran berdasarkan dalil yang menerangkannya, yaitu “Allah”, pendapat ini adalah pendapat sekelompok Ulama seperti Imam Abu Abdillah bin Mandah. Beliau memilih “Allah” sebagai Ismul-A’dzam seperti yang beliau tegaskan dalam kitabnya yang bertajuk at-Tauhid.

Pendapat lainnya menyebutkan bahwa Ismul-A’dzam adalah nama “Al-Hayyul Qayyum”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah seperti yang beliau jelaskan dalam kitab Zādul-Ma’ād.

Kedua nama yang disinyalir kuat sebagai Ismul-A’dzam ini telah muncul penyebutannya dalam banyak Hadits yang mengisyaratkannya sebagai Ismul-A’dzam.

Berikutnya, bahwa Ismul-A’dzam menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy dalam kitabnya Fathul-Malikil-‘Allām bukanlah satu nama tertentu dari Asmā’ul Husnā yang ada, akan tetapi wujud dari Ismul-A’dzam itu mengerucut ke setiap nama Allah yang mengandung sifat kesempurnaan, keagungan, ketinggian dan keindahan. Berdasarkan hal itu maka “Allah” adalah Ismul-A’dzam, demikian juga as-Shamad, Al-Hayyul Qayyūm, Al-Hamīdul-Majīd, Al-Kabīrul-‘Adzīm dan juga Al-Muhīth.

Ketiga pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat di antara yang ada, namun tetap saja masih terhitung sebagai persoalan Ijtihadiyyah, ini disebabkan ketiadaannya dalil yang memenuhi kriteria pasti (Qath’i) sehingga dapat menentukan secara langsung yang manakah Ismul-A’dzam.

Namun siapa saja yang berdoa dengan doa yang dinilai oleh Nabi  Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam terdapat didalamnya Ismul-A’dzam seperti pada riwayat Hadits di atas, maka sesungguhnya ia telah berdoa dengan Ismul-A’dzam, karena Nabi  Shallallāhu ‘Alaihi Wasalam yang telah memberitakannya langsung, walau pun tetap saja untuk menentukannya masih satu misteri, sebab nama-nama di dalam doa tersebut bukan hanya satu nama saja, dan inilah yang tetap menjadikannya misteri.

Hanya Allah semata sebagai pemberi petunjuk dan pengabul doa.

Sumber Pustaka : Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr. Hafidzahullah 1429 H/ 2008 M. Fiqhul-Asmaa’ Wash-Shifaat. Al-Madinatul-Munawwarah: Dicetak atas sumbangsih para dermawan.

Musa Abu ‘Affaf