Mendampingi Para Remaja

Teduh.Or.Id – Mendidik anak remaja tentu akan berbeda dengan mendidik anak-anak yang masuk pada usia pra-remaja, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa anak-anak pra-remaja adalah mereka yang menuju bangku SMP usai dari jenjang SD, dan anak-anak remaja ialah mereka yang jelang SMA setelah menyelesaikan tingkat SMP-nya.

Membahas remaja atau anak muda tentu tidak hanya sekedar bagaimana labilnya jiwa mereka, bukan pula sekedar tinggi dan meledaknya ego dan emosi mereka. Namun mendidik remaja, bisa dilakukan dengan hal yang sederhana.

Pada dasarnya, kita bisa memetakan tentang tren apa saja yang dihadapi para remaja. Pertama dan kedua sudah dibahas sebelumnya, yakni kelabilan jiwa dan meledaknya ego atau emosi mereka. Ketiga, ialah mereka masih sangat terpengaruhi oleh lingkungan sebaya tempat mereka tumbuh dan berkembang.

Di usia remaja ini, mereka mencoba untuk mencari role model lain setelah sebelumnya mereka tinggal sejak kecil bersama dengan orangtua. Seakan mereka mencari jalan lain, tentang pengalaman dan sensasi baru akan kehidupan (baca: dunia) yang sebelumnya tidak pernah mereka dapatkan di rumah.

Lantas, bagaimana yang bisa dilakukan orangtua, sekiranya untuk menjawab problema-problema di atas? Setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, ialah orangtua harus betul-betul sadar, bahwa anaknya bukanlah anak-anak kecil lagi. Pemilihan diksi dalam berbicara, sikap dan gesture dalam berdiskusi dengan mereka, hingga yang paling penting ialah, mereka tidak butuh sekedar himbauan, peringatan, atau anjuran.

Kerap mereka membutuhkan teladan dari para orangtua. Ingat! Remaja sudah mampu menilai secara jelas, mana yang memang sikap sebenarnya orangtua, dan mana yang orangtua melakukan hal tersebut hanya di lisan saja, sedang mereka (orangtua) sendiri tidak melakukan hal demikian. Mendidik dengan keteladanan lebih bernilai bagi remaja dibandingkan dengan sekedar ujaran-ujaran dan arahan-arahan.

Kedua, memahami tentang tren apa yang hidup di tengah mereka, perlu diketahui banyak kuadran kehidupan remaja hari ini. Bagi mereka yang dinilai shalih dan taat, mereka sedikit banyak rajin dan aktif mengikuti pengajian-pengajian yang sesuai dengan pembahasan mereka. Munculnya komunitas hijrah yang menjamur di banyak tempat menjadi motivasi sendiri bagi mereka. Selain itu didukung dengan tren lahirnya para pembaca-pembaca Al Quran yang fasih bacaannya dan bagus makhrajnya membuat mereka sedikit banyak mengubah orientasi hidup dari menyukai musik menjadi mengidolai para pembaca Al Qur’an.

Bagi yang di kuadran menyimpang, tentu sudah tak terbendung trennya, ada yang mengidolai segala hal berbau Korea, musik-musik Barat, para tokoh YouTube dan Selebgram lokal yang mereka anggap bisa mengilhami kehidupan mereka dalam proses pencarian jati diri. Pada fase ini, orangtua cukup tahu dan memperhatikan saja perkembangannya, sebab hal yang demikian bersifat tentatif, masif di awal, viral sesaat, dan tentu akan segera berganti dengan kesukaan yang lain.

Komunikasi dengan Sekolah

Ketiga, membangun komunikasi yang baik dengan pihak di mana anak sekolah, ini penting dan dimulai dari bagaimana orangtua memilih sekolah bagi anaknya. Jika orangtua tidak cermat dalam memilihkan sekolah, akan ada banyak kemungkinan yang ditemui dari diri si anak. Karena lingkungan amat berpengaruh bagi si anak, khususnya para remaja sekarang.

Betapa banyak mereka yang lebih sibuk di luar dengan alasan sekolah, padahal ternyata itu adalah cara bagi mereka untuk bisa keluar main bersama dengan temannya. Memilih sekolah yang tepat adalah kunci, memilih sekolah yang Islami terlebih sekolah tersebut berpegang teguh dengan nilai-nilai syariat yang kuat serta didukung dengan fasilitas memadai untuk menghabiskan energi para remaja, juga ditambah dengan adanya para pendidik atau guru yang memahami psikologi remaja adalah nilai plus untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik bagi si anak.

Keempat, anak-anak remaja adalah anak-anak yang di dalam hatinya perlahan mulai tumbuh ketertarikan terhadap lawan jenis masing-masing. Perasaan cinta, dan sedang mencoba untuk mengejar hakikat cinta, setelah sebelumnya curahan cinta kasih yang mereka dapatkan hanya di dalam keluarga saja.

Tentang bagaimana orangtua perasaannya kepada mereka, perlakuan saudara kandungnya, hingga konflik-konflik kecil maupun besar yang mempengaruhi tumbuh kembang perasaan mereka. Sehingga, saat mereka menginjak remaja, tidak sedikit mereka mencoba melakukan pencarian-pencarian untuk tempat pelabuhan perasaan yang tidak mereka dapati sebelumnya. Darisini mereka merasa bahwa  definisi cinta harus dijawab dengan menempuh jalannya. Disinilah kebanykan diantara mereka terjerumus dalam cinta salah asuhan, atau kasih sayang terlarang.

Kelima, tentu perubahan bentuk fisik mereka yang tidak bisa dinafikan. Mereka sudah mulai mengenal orientasi seksual seiring dengan bertumbuhnya fisik dan berkembangnya beberapa organ tubuh mereka. Orangtua sudah diminta agar memiliki pengawasan ekstra ketat, sebab kerap mereka memiliki pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban singkat dan tepat, dibandingkan dengan jawaban-jawaban atau permisalan.

Ingat mereka sudah memiliki akal yang mampu untuk berpikir, sehingga penjelasan yang diberikan kadang tidak membutuhkan analogi tertentu dalam menginformasikannya. Sebab, sekolah merupakan medium, dimana orangtua bisa memberikan arahan kepada anak melalui gurunya berdasarkan konsultasi yang aktif akan latar belakang si anak, dan sekolah juga dapat mengkomunikasikan dengan orangtua tentang perkembangan si anak serta sisi-sisi lain dari si anak yang tidak diketahui oleh orangtua, biasanya hal-hal tersebut akan terlihat di sekolah, bisa berdasarkan informasi dari temannya, atau memang mereka bercerita kepada guru-guru yang mereka akrabi saat di sekolah. Itulah mengapa, bagi pendidikan di usia remaja, sekolah dan orangtua harus saling mendukung.

Orangtua merasa yakin bahwa apa yang dilakukan oleh sekolah adalah sesuatu yang terbaik bagi anaknya kelak, dan orangtua pun harus jujur dan mengakui jika akhirnya sekolah memberikan informasi-informasi yang sebelumnya tidak pernah ditemui oleh si orangtua dari anaknya. Dari sisi sekolah, perlu diketahui pula bahwa sekolah harus mengenal latar belakang si anak secara mendalam dari orangtuanya, mengingat dibutuhkan adanya penanganan-penanganan tertentu tentang apa yang boleh dan tidak. Dan sekolah juga harus berani berterus terang tentang anak didik yang dititipkan mereka dari para orangtuanya.

Dampingi bukan Diceramahi

Terakhir, bahwa mendidik remaja tidak bisa tidak harus terus memberikan mereka pengingat sepanjang hayat. Mereka wajib untuk disadarkan dan diingatkan tentang hakikat kehidupan. Diajak bicara dengan baik, diberikan pandangan, perhatian, dan satu hal yang mereka suka ialah, mereka sangat tertarik bila arahan-arahan dan bimbingan disampaikan melalui model-model pengalaman yang pernah dimiliki oleh orang yang lebih dewasa dari mereka. Sebab mereka akan sangat antusias untuk menyimak hal tersebut, dibandingkan dengan paparan-paparan yang subjektif atau terkesan hadir untuk menjustifikasi mereka. Sebab di satu sisi, mereka juga merasa bila melakukan sebuah kesalahan, sedikit-banyaknya mereka tersadar walau hanya sesaat saja.

Namun, yang demikian bisa menjadi simpul bagi kita untuk meraih hati mereka. Didampingi bukan diceramahi, ditemani bukan dimarahi, dan diceritakan bukan diberi celaan. Sebab, biar bagaimana pun juga, anak-anak remaja memiliki hati dan perasaan, mereka masih memiliki fitrah kebaikan dan senang diberikan hal-hal yang baik untuk menyadarkan mereka. Tekanan tidak membuat mereka berubah, peremehan tidak membuat mereka menyerah, justru menjadi jauh perubahan-perubahan yang akan mereka tempuh nantinya bila kaki-kaki mereka masih kita anggap berpijak pada hal-hal yang negatif.

Sungguh indah nasihat yang disadur dari Fatawa Al Lajnah 25/290-291 yakni, “Metode yang baik dalam mendidik anak ialah pertengahan. Tidak berlebih-lebihan dan tidak juga meremehkan. Tidak dihadirkan padanya sikap kaku juga sikap keras, namun tidak berarti pula harus lembek dan acuh. Seorang ayah, mendidik anaknya, mengajari mereka, mengarahkan, dan membimbing mereka pada akhlak yang utama serta adab yang baik. Disamping itu pula, ia juga melarang anaknya dari setiap perangai dan akhlak tercela.”

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, dan Insya Allah akan diturunkan seri-seri pendidikan remaja lainnya, di web kesayangan kita ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.