Menakar Hari Perempuan Internasional

Teduh.Or.Id – Tak dapat disangkal bahwa salah satu buah diterimanya demokrasi adalah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi. Demokrasi adalah makanan sehari-hari yang dipertontonkan secara bebas di negeri ini. Sebagai sebuah aliran politik dan pemerintahan, demokrasi telah menempati posisi strategis dalam pengaturan tata kehidupan di negara yang mayoritas dihuni oleh kaum muslimin dengan jumlah populasi terbanyak di dunia.

Menilik dari sejarahnya, yang dapat kita temukan pada berbagai laman situs maya baik nasional maupun internasional. Jejak Hari Perempuan Internasional dipanggung dunia dipenuhi dengan aktivitas pemogokan secara massal disertai dengan aksi unjuk rasa dalam pelampiasan apresiasi para kaum hawa atas ketidakadilan, kesenjangan, dan legalitas tertentu bagi mereka. Ujungnya satu kata yaitu menuntut penyetaraan hak.

Dunia memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret setiap tahunnya. Sejarah bermula pada tahun 1911, berawal dari adanya dua juta tentara Rusia terbunuh dalam perang, perempuan Rusia turun kejalan pada hari Minggu terakhir di bulan Februari menyerukan “Roti dan Perdamaian”. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para perempuan ini tetap bertahan. Dan sejarah mencatat bahwa empat hari kemudian, Czar/Tsar (raja) turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu. Hari bersejarah itu jatuh pada tanggal 23 Februari di Kalender Julian yang digunakan di Rusia atau tanggal 8 Maret menurut kalender Gregorian (kalender Masehi yang juga kita gunakan). Dan sejak saat itulah Hari Perempuan Sedunia diperingati pada hari yang sama oleh perempuan di seluruh dunia.

Jauh sebelum itu, di masyarakat Yunani Kuno, Lysistrata menggalang gerakan perempuan mogok berhubungan seksual dengan pasangan (laki-laki) mereka yang menuntut dihentikannya peperangan; dalam Revolusi Prancis, perempuan Paris berunjuk rasa menuju Versailles sambil menyerukan “kemerdekaan, kesetaraan dan kebersamaan” menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu.

Kembali kita sedikit melihat kilasan apa yang dilakukan Yunani terhadap wanita, bahwasanya pada masa itu kaum perempuan diperlakukan sangat hina, acapkali dijadikan budak, bahkan tak diperbolehkan satu meja makan dengan pria. Lantas dengan Romawi, yang dianggap induk peradaban dan kebudayaan besar di dunia, rupanya tak jauh berbeda dengan Yunani. Para wanita di masa Romawi diperlakukan sama rendahnya, pada masa itu pula seorang pria memiliki hak mutlak atas keluarganya dan diperbolehkan untuk membunuh istrinya sendiri. Selain itu ditemukan pula hal mencengangkan pada masa tersebut, bahwasanya ada seorang wanita tanpa merasa berdosa dan malu telah menikah untuk ke 23 kalinya, dan disaat bersamaan ia menjadi istri ke 21 dari suaminya yang terakhir.

Maka, Indonesia pun turut serta sebagaimana negara demokrasi lainnya, merayakan Hari Perempuan Internasional yang dihelat pada Minggu, 8 Maret lalu di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki dengan dihadiri oleh tokoh perempuan Indonesia termasuk dari jajaran menteri perempuan di Kabinet Kerja era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebagaimana sebuah kegiatan formal, maka pelaksanaan acara pun bersifat seremonial dan mengangkat suatu tajuk tertentu terkait dengan topik kewanitaan yang menjadi isu baik bersifat domestik maupun internasional.

Perjuangan atas kesetaraan hak antara pria dan wanita memang menjadi sebuah dagangan pengusung demokrasi dan liberalisme. Penyuaraan atas segala bentuk hak untuk perempuan digaungkan dan menjadi sebuah agenda dalam berbagai kesempatan. Tuntutan bagi tenaga kerja wanita diberbagai instansi, alokasi kursi bagi legislator wanita di gedung dewan, hingga mata pencaharian dan profesi yang menuntut kesamaan gender menjadi perjuangan para aktivis perempuan dimana pun berada. Demikianlah, hak kesetaraan diruang publik, pada suatu ranah yang laki-laki mampu, maka asumsi bahwa wanita pun bisa juga tak terelakkan. Sebagai contoh lain, pernah ada direktur utama wanita pada perusahaan minyak dan gas milik negara. Sebuah, posisi yang membawahi sekian banyak pegawai dengan tingkat maskulinitas dominan.

Sungguh sedih, melihat anak-anak jauh dari ibunya. Kenakalan remaja disebabkan kurangnya perhatian orangtua khususnya para ibu pekerja. Munculnya perselingkuhan didalam rumahtangga sebagai imbas retaknya jalinan pernikahan. Wanita-wanita dewasa yang lupa usia sehingga melalaikan dirinya untuk menikah, serta banyak hal lain sebagai bentuk akibat perempuan menuntut kesetaraan hak dan posisi di muka publik.

Mulialah dengan Islam. Prinsip-prinsip kehidupan terbaik, hanyalah dari Islam. Adapun selain dari Islam, tentu jelas disanalah tempat keburukan dimulai, celakanya hal tersebut dinikmati kaum muslimin dengan jargon modernisasi, industrialisasi, dan globalisasi. Sebagaimana diawal, peradaban selain Islam memperlakukan wanita secara rendahan lengkap dengan kehinaan posisi dan derajatnya. Adapun Islam, dijunjung tinggi kemuliaan atas wanita. Karena dalam Islam wanita memiliki derajat yang terpuji. Lihatlah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah engkau kedalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah, dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Al Jami’).

Dirumahlah surganya para wanita muslimah, tidak diranah publik yang menyebabkan dirinya berbaur dengan bukan mahram, menyuarakan apresiasi berbagai rupa sehingga lupa segala sesuatunya. Lupa bahwa ia memiliki anak yang harus diasuh, lalai jika memiliki suami yang wajib dilayani, serta luput apabila usia sudah bergerak sedang ia masih hidup dalam kesendirian. Lantas untuk apa Hari Perempuan Internasional, jika hanya sebuah jargon dan perhelatan tanpa bisa menyelamatkan nasib generasi bangsa yang terlanjur abai. Sejauh-jauhnya wanita melangkah, ia tetaplah makhluk yang lemah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pesankan, “Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan) nya kepada seorang wanita.” (HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Dan hal itu pun kita saksikan hari ini, Indonesia pernah dipimpin oleh wanita, maka tentu kita sudah bisa melihat sendiri bagaimana kesudahannya, terpapar jelas di media jika kita ingin sedikit mencari infonya. Beberapa jabatan kepala daerah pun kerapkali wanita, namun sekuat apapun kelemahan pasti mendera bahkan tak sedikit berujung penjara, pernah pula kementerian dipimpin para wanita, akan tetapi hasilnya tak jauh dari tindakan korupsi dan semisalnya. Artinya, tuntutan hak perempuan atas laki-laki disertai dengan pembuktian yang dilaksanakan, tidak serta-merta menjadikan bahwa wanita dapat tampil lebih baik dipekerjaan-pekerjaan ranah maskulin. Pekerjaan yang membutuhkan adanya kebijakan, keputusan, pertimbangan, dan akal sehat. Adapun perempuan, bisa jadi segala sesuatunya disandarkan semata-mata pada perasaan belaka.

Tidak perlulah iri kepada para pria, sebab Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagian laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.’ (QS. An Nisa : 32).

Tak perlu latah dengan Hari Perempuan Internasional. Ingatlah sejarah, bahwa yang memaksa pengadaan Hari Perempuan adalah dunia Barat, karena kelam dan kejamnya perlakuan atas wanita. Kita sebagai kaum muslimin, cukuplah dengan mempelajari apa-apa yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan dan dijejaki oleh para sahabat-sahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Bagaimana ketika itu para wanita termuliakan tanpa harus ada pengkhususan hari untuk menghormati wanita itu sendiri. Sebab tak perlu lagi ada pemuliaan jika sejatinya Islam telah memuliakan wanita dengan sebaik-baiknya seperti yang telah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729), serta dalam hadits lainnya, Rasulullah sabdakan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285).

Wallahu A’lam bi Shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.