Mau Kurban Memotong Rambut Dan Kuku Menurut Madzhab Al-Syafi’iyyah

 

Di antara Sunnah yang dianjurkan atas orang yang berkurban adalah tidak memotong rambut dan kukunya sampai ia menyembelih kurbannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عن أم سلمة أن النبى -صلى الله عليه وسلم- قال إذا رأيتم هلال ذى الحجة وأراد أحدكم أن يضحى فليمسك عن شعره وأظفاره

Dari Ummu Salamah sesungguhnya Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – telah bersabda: “Apabila kalian telah melihat hilal Dzilhijjah dan seorang di antara kalian berkehendak untuk berkurban, maka hendaklah ia menahan dari (mengambil) rambutnya dan kuku-kukunya.”[1]

Imam Annawawiy – Rahimahullah – memberikan judul atas hadits ini dengan :

باب نهى من دخل عليه عشر ذى الحجة وهو مريد التضحية أن يأخذ من شعره أو أظفاره شيئا

“Bab Larangan bagi siapa saja yang memasuki sepuluh dzulhijjah dan dia ingin berkurban mengambil walau pun hanya sedikit dari rambutnya atau kuku-kukunya”[2]

Ini semakin menguatkan dan memperjelaskan bahwa pada dasarnya mengambil rambut dan kuku terlarang bagi siapa saja yang ingin berkurban.

Dan masalah ini telah menjadi bahan diskusi fiqh sejak zaman dulu di sisi para ulama besar, sehingga terjadi perbedaan pendapat di antara mereka, dan di antara ulama besar yang menceritakannya adalah Imam Attirmidziy Rahimahullah, beliau berkata:

وهو قول بعض أهل العلم وبه كان يقول سعيد بن المسيب وإلى هذا الحديث ذهب أحمد و إسحق ورخص بعض أهل العلم في ذلك فقالوا لا بأس أن يأخذ من شعره وأظفاره وهو قول الشافعي واحتج بحديث عائشة ن أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يبعث بالهدي من المدينة فلا يجتنب شيئا مما يجتنب منه المحرم

“Dan dia (larangan memotong) adalah pendapat sebagian Ulama, dan dengannyalah Sa’id bin Al-Musayyib berpendapat, dan kepada (makna zhahir) hadits inilah Imam Ahmad dan Ishaq bermadzhab. Dan sebagian ulama meringankan hal itu, mereka berkata: “Tidak ada masalah ia mengambil rambutnya, kuku-kukunya, dan pendapat ini adalah pendapat Imam Al-Syafi’i, beliau berhujjah dengan hadits dari ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim Al-Hadyu dari Madinah namun beliau tidak menghindari hal-hal yang dihindari oleh orang yang berIhram”.[3]

Juga oleh Imam Annawawiy, beliau berkata:

وقال الشافعى وأصحابه هو مكروه كراهة تنزيه وليس بحرام وقال أبو حنيفة لايكره وقال مالك فى رواية لايكره وفى رواية يكره وفى رواية يحرم فى التطوع دون الواجب

“Dan Al-Syafi’i dan Al-Ashabnya berkata hukumnya Makruh, Makruh Tanzih dan bukan Haram, Abu Hanifah berkata: Tidak Makruh”, dan Imam Malik berkata dalam satu riwayat “Tidak Makruh”, dan dalam riwayat lainnya “Makruh”, dan riwayat yang lainnya beliau berkata “Haram jika dalam kurban yang Tathawwu’ (Sunnah) yang selain Wajib”.[4]

Dari perbedaan pendapat tersebut maka inilah yang Mu’tamad dalam Madzhab Al-Syafi’iyyah, bahwa orang yang berkurban tidak diharamkan melainkan Makruh mencukur rambut dan memotong kukunya apabila 1 Dzulhijjah telah masuk, hukum tidak memotongnya hanya sebatas hukum Sunnah bukan Wajib menurutnya.

Dan Hadits yang menjadi sandaran Imam Al-Syafi’i –Rahimahullah – dalam hal ini adalah

أن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يهدي من المدينة فأفتل قلائد هديه ثم لا يجتنب شيئا مما يجتنبه المحرم

‘Sesunnguhnya ‘Aisyah –Radliyallahu ‘Anha – beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mempersembahkan hewan Al-Hadyu dari Al-Madinah maka aku yang memasangkan kalung-kalung hewan Hadyu beliau, dan kemudian beliau tidak menghindari apa-apa yang wajib dihindari oleh orang yang berihram (haji dan Umrah)”. [5]

Selain Shahih, Hadits ini juga Mutawatir menurut Imam Abu Ja’far Al-Thahawiyrahimahullah -, beliau berkata:

تواترت هذه الآثار عن عائشة

Atsar-Atsar ini telah Mutawatir dari ‘Aisyah – Radliyallahu ‘Anha– “.[6]

Alasan jelasnya Imam Al-Syafi’i sehingga berpegang dengan hadits ini telah dinukilkan oleh Imam An-Nawawiy Rahimahullah, beliau berkata:

قال الشافعي البعث بالهدي أكثر من ارادة التضحية فدل على أنه لا يحرم ذلك

Imam Al-Syafi’i –Rahimahullah– berkata: “Mengirim hewan Al-Hadyu lebih banyak daripada keinginan berkurban, maka hadits larangan mengambil rambut menunjukkan hal itu tidak diharamkan”.[7]

Al-Amir Al-Shan’aniy menilai alasan Imam Al-Syafi’i ini lahir dari metode Qiyas[8]

Demikianlah, Jadi mengambil rambut dan kuku bagi yang hendak berkurban hukumnya Makruh Tanzih bukan Haram dalam Madzhab Al-Syafi’iyah. Namun walau begitu, bukan maksudnya perintah jangan memotong rambut dan kuku adalah urusan yang sepela, tentu tidak demikian, akan tetapi Madzhab Al-Syafi’iyyah tetap menganjurkannya sebagai bagian dari Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan untuk ditinggalkan begitu saja.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] Hadits riwayat Muslim 1/882/No. 5119. Cet. Darussalam-Riyadl

[2] Shahih Muslim 1/881/ Cet. Darussalam-Riyadl

[3] Sunanuttirmidziy 1/360/No. 1523. Cet. Maktabatul-Ma’arif-Riyadl.

[4] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj (13-14/139.)Cet. Darulmakrifah- Beirut

[5] Hadits riwayat Bukhariy

[6] Syarh Ma’anilatsar (2/266)

[7] Majmu’ Syarhulmuhadzzab (8/392)

[8] Subulussalam (4/91)

Comments

comments