Memilih Sekolah di Jenjang Menengah

Teduh.Or.Id – Setelah disesapi dengan jenjang bangku sekolah dasar selama 6 tahun lamanya, maka anak-anak itu pun sudah sampai pada pintu gerbang menuju remaja. Bagi yang pria, suaranya sudah mulai berubah besar, secara fisik terlihat semakin bertambah tinggi badannya, dan bulu-bulu sudah mulai tumbuh merambat perlahan, pun juga didukung dengan mengertinya penempataan perasaan terhadap lawan jenis. Adapun pada wanita, hal tersebut pun tak jauh berbeda, perlahan kosmetik sudah dikenal dengan baik, kekaguman pada keindahan yang bersifat fisik sudah berlangsung perlahan, dan hal-hal yang genit sudah tidak tabu lagi.

Jika sudah demikian, maka anak-anak itu telah menemukan identitasnya. Sudah mengenal kepribadian dimana mereka harus menempatkan peran dan melihat peran berbeda dari orang lain. Itulah remaja, pendidikan yang terpantau dengan baik adalah sebuah kemestian. Mereka bukan lagi anak-anak pada jenjang sekolah dasar, mereka sudah bisa memiliki sikap, sudah mampu menolak disertai alasan sekalipun belum benar-benar masuk akal. Dengan begitu, mereka merasa bahwa mereka sudah mampu untuk memilih dimana seharusnya bersekolah, sekalipun pilihan-pilihan tersebut lebih banyak terdorong pada hal-hal menyenangkan atau pada sisi bujuk rayu teman sepermainan. Jika demikian, orangtua juga harus bisa memandunya dengan baik agar tak salah pilihan dan larut dalam penyesalan. Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sekolah dijenjang menengah.

Pertama, lihat kepada agama si anak. Orangtua sudah harus paham atas sejauh mana kemampuan agama si anak. Karena pemahaman agama yang baik setidaknya bisa menjadi rambu pegangan bagi si anak saat berada di sekolah nantinya. Pemahaman agama si anak ini berkisar pada sejauh mana komitmen atas shalatnya, berapa banyak intensitasnya atas Al Qur’an, seperti apakah lisannya terhadap orang yang lebih tua, dan bagaimana proses pergaulan bersama dengan teman-temannya. Jika masih dalam tahap mengkhawatirkan, sebaiknya jangan lepaskan anak untuk memilih sesuai dengan pilihannya. Timbangan agama adalah fokus utama bagi orangtua pada si anak yang menginjak masa remaja.

Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Manakah amalan yang paling utama?”. Rasulullah menjawab, “Shalat pada waktunya”. Lantas Ibnu Mas’ud bertanya kembali, “Kemudian apalagi?”. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbuat baik kepada kedua orangtua.” Kemudian Ibnu Mas’ud bertanya lai, “Kemudian apalagi?” hingga akhirnya beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, An Nasai, dan Tirmidzi).

Kedua, carilah sekolah yang bisa memfasilitasi cita-citanya. Disebabkan anak-anak itu sudah beranjak remaja maka ajaklah bicara soal cita-citanya, sediakan waktu untuk menjelaskan cita-citanya akan kemana dan pada hal apa ia tertarik untuk menekuninya. Biasanya akan terjadi percampuran antara keinginan atau kecenderungan dengan hobi si anak tersebut. Tak ayal kita temui bagi para pria bercita-cita menjadi pemain sepakbola dikarenakan kegemarannya atas sepakbola, bagi perempuannya juga demikian, bercita-cita menjadi penyanyi karena suka bernyanyi sepanjang hari. Disanalah peran orangtua, membimbing cita-cita anak sekaligus mengetahui sekolah-sekolah mana yang memiliki spesialis untuk mengantarkan cita-cita si anak, bukan sekedar sekolah yang menekankan pada prestasi akademik tapi alpa pada bakat serta kemampuan personal.

Luangkan waktu demi mengajaknya untuk mencari pengalaman dan memberikan panggung kepada si anak atas pengalaman-pengalaman itu. Sesekali bawalah ke museum dirgantara, ajaklah ia ke tempat menjahit, dan tempat-tempat yang memiliki fungsi edukatif sekaligus bisa memupuk cita-cita. Jika demikian niscaya arah menapaki jenjang menuju remaja sedikit banyak akan membuka pola pikirnya.

Simaklah pembicaraan soal cita-cita yang empat remaja para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam;

Di dekat rukun Yamani, duduknya empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan meraka adalah bagian dari perhiasan masjid, bersih pakaiannya dan menyatu hatinya.

Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mush’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi Abdul Malik bin Marwan.

Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Maka khayalan mereka melambung tinggi ke alam luas dan cita-cita mereka berputar mengitari taman hasrat mereka yang subur.

Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara: “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.”

Saudaranya, Mus’ab menyusulnya: “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.”

Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”

Sementara itu Urwah diam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Beliau berkata, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi ‘alim [orang berilmu yang mau beramal], sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang kitab Rabb-nya, sunah Nabi-Nya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Hari-hari berganti serasa cepat. Kini Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan, dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Ka’bah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-cita dahulu.

Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Adapun Abdul Malik bin Marwan, kini menjadi khalifah setelah terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, dia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya.

Begitu juga dengan Urwah bin Zubair, ia pun mendapatkan cita-citanya dan menjadi seorang muara ilmu dan penunjuk hidayah bagi banyak orang hingga wafat di usianya yang ke 71 tahun. Pada beberapa kesempatan pun Urwah bin Zubair juga seringkali dimintai pertimbangan oleh para khilafah salah satunya ialah Umar bin Abdul Aziz.

Jadi tak ada alasan bagi orangtua untuk meremehkan cita-cita anaknya, jika terdapat kebaikan maka dukunglah dan jaga asa itu hingga mereka meraihnya. Jika itu adalah kesalahan dan kekeliruan maka bimbinglah serta berikan penjelasan yang menyeluruh nan melegakan. Jaga dan hidupkan cita-cita itu dan pilihlah sekolah yang dapat menunjang cita-cita anak kita.

Ketiga, pilih sekolah yang baik pergaulannya. Adalah tugas orangtua untuk mengetahui sesiapa saja teman bermain si anak. Teman-teman yang buruk tentu akan mengantarkan pada keburukan pula. Hingga rusaklah investasi masa depan kehidupan orangtua. Tak sedikit pula kedurhakaan anak tersebab jauhnya pergaulan sang anak. Maka, carilah sekolah yang sudah dikenal dengan kebaikannya, sekolah dengan reputasi dan penjagaan baik atas para siswanya dengan para guru yang perhatian dan memiliki kemampuan. Sebaiknya pula, sekolah tersebut tak jauh dari jangkauan rumah. Jauhnya sekolah tak jarang menyita kekhawatiran orangtua. Pada kelas menengah ini, selayaknya jarak berada dalam kisaran sedang-sedang saja.

Sampaikan pula kepada anak, bahwa salah memilih teman akan berujung pada penyesalan. Jangan sampai menjadi pribadi-pribadi celaka seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan s ifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqaan : 27-29).

Keempat, selain melihat sisi sekolah yang harus dipilih, ialah ajarkan si anak dari rumah untuk berkomitmen atas hidupnya, ajarkan si anak untuk mengampu sebuah tanggungjawab dan arti pentingnya atas hal tersebut. Untuk hal ini khususnya adalah berada dalam ketahanan keluarga. Keluarga berperan besar untuk memandu ini, cerminan keluarga yang baik akan menjadikan si anak berada pada pribadi yang matang serta punya pandangan akan hidup itu sendiri. Perhatikanlah firman Allah Taala:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat : 46)

Setidaknya itulah beberapa hal yang bisa jadi tidak menjawab semua kebaikan, namun semoga yang sedikit ini bisa menjadi pertimbangan sebelum melangkah lebih jauh memilih sekolah bagi si anak dan orangtua. Semoga Allah berikan kemudahan bagi kita semua untuk mendidik anak menjadi pribadi yang shalih serta penuh keberkahan bagi banyak orang.