Memilih Bacaan Tasyahhud

Teduh.Or.Id – Membaca tasyahhud atau yang biasa dikenal dengan tahiyyat adalah salah satu bacaan dalam salat yang sangat penting untuk diperhatikan. karena tasyahhud di dalam salat telah datang anjurannya dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Para fuqaha’ (Ulama Fiqih) dalam empat madzhab telah memfatwakan hukum atas membaca tasyahhud, berikut rinciannya.

Hukumnya Wajib

Membaca tasyahhud hukumnya wajib pada duduk yang tidak disertai dengan salam (tasyahhud awwal. -pen.), sebab tasyahhud ini apabila ditinggalkan wajib menggantinya dengan sujud sahwi. Dan ini adalah pendapat dari;

  • Madzhab Al-Hanafiyyah dalam pendapat yang paling shahih
  • Madzhab Al-Malikiyyah dalam satu qaul (pendapat dalam madzhab-nya)
  • Madzhab Al-Hanabilah menetapkannya sebagai pendapat madzhab secara utuh.
Hukumnya Sunnah

Pendapat berbeda lainnya, bahwa tasyahhud awwal hukumnya sunnah sebab ia gugur apabila seorang lupa maka menjadi lebih serupa dengan sunnah-sunnah dalam salat. Dan ini adalah pendapat yang ditetapkan oleh:

  • Madzhab Al-Hanafiyyah dalam satu Qaul (pendapat dalam madzhab).
  • Madzhab Al-Malikiyyah, dan telah menjadi pendapat madzhab secara utuh.
  • Madzhab asy-Syafi’iyyah dalam satu riwayat madzhab.
  • Madzhab Al-Hanabilah dalam satu riwayat madzhab.

Bisa disimpulkan bahwa mayoritas ulama dalam lintas empat madzhab lebih menguatkan bahwa tasyahhud awwal hukumnya sunnah.

Adapaun tasyahhud akhir, atau tasyahhud yang ada pada duduk yang diakhiri setelahnya dengan salam maka hukumnya:

  • Madzhab Al-Hanafiyyah menyatakannya wajib, dan harus diganti dengan Sujud Sahwi apabila ditinggalkan karena lupa, dan Makruh Tahrim (haram) hukumnya Shalat dengan meninggalkannya, dan wajib mengulangi Shalatnya.
  • Madzhab Al-Malikiyyah menetapkannya Sunnah, dan ini sebagai pendapat utuh dalam Madzhab. Satu Qaul (pendapat) mengatakan Wajib.
  • Madzhab asy-Syafi’iyyah dan Al-Hanabilah menetapkannya sebagai bagian dari Rukun Shalat.

(Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah. Pdf. Jilid 12. Hal. 34 -35 Cet. Kementrian Waqaf dan Urusan Agama – Kuwait )

Maka dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Tasyahhud Akhir hukumnya Wajib atau sebagai Rukun penentu sah atau tidaknya Shalat adalah pendapat yang telah dikuatkan oleh mayoritas Ulama lintas Madzhab empat yang ada.

Memilih Bacaan Tasyahhud

Ada bermacam-macam lafaz bacaan tasyahhud yang datang dari riwayat hadits, namun yang paling populer adalah riwayat tasyahhud Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Untuk lebih jelasnya berikut kami tampilkan lafaznya:

Tasyahhud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:

 عن ابن عباس أنه قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يعلمنا التشهد كما يعلمنا السورة من القرآن فكان يقول التحيات المباركات الصلوات الطيبات لله السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله

“Dari Ibnu Abbas – Radhiyallahu ‘Anhu – beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengajarkan kami Tasyahhud seperti beliau mengajarkan kami satu Surat dalam Al-Qur’an. beliau bersabda : “at-Tahiyyaatul Mubaarokaatush Sholawaatuth Thoyyibaatu Lillah, as-Salaamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warohmatullahi Wabarokatuh, as-Salaamu ‘Alainaa Wa ‘Alaa ‘Ibaadillahish Shoolihiin, Asyhadu Anlaa Ilaaha illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasuulullah.” (HR: Muslim)

Tasyahhud Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu :

عن عبد الله بن مسعود، قال: كنا إذا صلينا مع النبي صلى الله عليه وسلم قلنا السلام على الله قبل عباده، السلام على جبريل، السلام على ميكائيل، السلام على فلان؛ فلما  انصرف النبي صلى الله عليه وسلم أقبل علينا بوجهه، فقال: إن الله هو السلام، فإذا جلس أحدكم في الصلاة فليقل التحيات لله والصلوات والطيبات، السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين؛ فإنه إذا قال ذلك أصاب كل عبد صالح في السماء والأرض؛ أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، ثم يتخير بعد من الكلام ما شاء

Dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata; “Dahulu apabila kami salat bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kami membaca; “Assalaamu atas Allah sebelum mengucap assalam kepada hamba-hambaNya, assalam atas Jibril, assalam atas Mika’il, assalam atas fulan. Manakala Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selesai dari salat beliau menghadap ke arah kami beserta dengan (menghadapkan) wajahnya. Beliau bersabda: “sesungguhnya Allah, Dialah AsSalam, maka apabila seorang dari kalian duduk di dalam salat maka ucapkanlah: “at-Tahiyyaatu Lillah Wash Sholaatu Wath Thoyyibat, as-Salaamu ‘Alaika Ayyuhannabiyyu  Warohmatullahi Wa Barokaatuh, as-Salaamu ‘Alainaa Wa ‘Alaa ‘Ibaadillaahish Shoolihiin”. Apabila ia mengucapkan itu, maka akan mengena ke semua hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi., “Asyhadu Anlaa Ilaaha illallah Wa Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuuluh”. Kemudian ia memilih setelah ucapan itu doa-doa yang ia inginkan.” ( Muhammad Fuad Abdul Baqy. al-Lu’lu’u Wal Marjan. No. 226. Bab at-Tasyahhud Fish Shalat. Hal. 77. Cet. Darul Hadits. Mesir)

Setelah menukil pendapat para Imam Hadits – yang lebih menguatkan riawayat tasyahhud Ibnu Mas’ud – seperti Imam Al-Bazzar, Imam Muslim dan Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhaly, rahimahumullah. Al-Amirush-Shan’any  berkata:

ثم اختلفوا في الألفاظ التي تجب عند من أوجبه أو عند من قال إنه سنة وقد سمعت أرجحية حديث ابن مسعود وقد اختاره الأكثر فهو الأرجح . أنتهى

“Kemudian mereka (para Ulama) berbeda pendapat dalam menentukan lafaz-lafaz yang wajib di sisi Ulama yang mewajibkannya (tasyahhud) atau pun di sisi Ulama yang menghukuminya sunnah. Dan sebenarnya engkau telah mendengar ke-Rajih-an Hadits Ibnu Mas’ud dan telah dipilih oleh ulama yang terbanyak, maka dialah yang lebih rajih.” (Subulussalam. Hal. 430. Jilid pertama. Cet. Al-Maktabatul ‘Ashriyyah – Bairut.)

Tasyahhud Ibnu Mas’ud juga lebih dikuatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Al-Khathhaby, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnul Mundzir, secara merata mereka mengatakan bahwa tasyahhud Ibnu Mas’ud adalah riwayat hadits yang paling shahih. (Markaz Fatwa Islamweb.net dalam Link berikut; Klik )

Berbeda dengan Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau memilih tasyahhud riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Dan ketika ditanya tentang pilihannya ini beliau menjawab,

“Karena sebab aku telah melihatnya sebagai satu perkara yang luas dan aku pernah mendengarnya dari Ibnu Abbas secara shahih. Riwayat ini di sisiku lebih lengkap dan lebih banyak lafaznya dibandingkan dengan yang lainnya, maka itulah kemudian aku mengambilnya tanpa mencela siapa saja yang mengambil (tasyahhud) lainnya yang riwayatnya telah shahih”. (Subulussalam. Hal. 430. Jilid pertama. Cet. Al-Maktabatul ‘Ashriyyah – Bairut.)

Pada akhirnya, lafaz mana saja yang kamu baca untuk tasyahhud sebenarnya tidak menjadi persoalan, sebab hal itu adalah bentuk keluasan dalam syari’at islam seperti yang diungkapkan oleh Imam asy-Syaf’i di atas.

Namun jika ada riwayat yang paling shahih maka itulah lafaz yang semestinya kamu baca tentunya tanpa disertai dengan sikap keras lagi menyalahkan pilihan muslim lainnya, dan inilah sikap yang paling adil dalam setiap perkara yang bentuknya diluaskan dalam syariat Islam, dan sikap ini pula yang telah lama dijalankan oleh para pendahulu umat ini.

Selain tasyahhud riwayat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, juga terdapat riwayat bacaan tasyahhud lainnya yang datang dari Ibnu Umar, Abu Musa al-Asy’ary, Umar bin Khathhab, dan tasyahhud Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in. Lafaz-lafaz tasyahhud tersebut bisa ditelaah di dalam kitab Sifat Salat Nabi karya Syaikh al-Albany rahimahullah.