Memberi Pengamen Haramkah !?

Spread the love

Memberi bantuan adalah kemuliaan, Islam menganjurkannya, terkadang atas satu bentuk kewajiban seperti zakat, dan kadang atas satu bentuk anjuran yang bernilai sunnah.

Sasaran tujuan pemberian pun sebenarnya telah diajarkan dalam Islam, terutama dalam hal ini pemberian yang bentuknya wajib. Menjadi menarik adalah ketika pemberian sedekah dan bantuan tidak tepat sasaran seperti yang dianjurkan, seperti memberi kepada pengamen misalnya, lalu bagaimana sebenarnya masalah ini disikapi, berikut ulasan singaktnya. Semoga bermanfaat.

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu , sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

قال رجل لأتصدقن بصدقة فخرج بصدقته فوضعها في يد سارق فأصبحوا يتحدثون تصدق على سارق فقال اللهم لك الحمد لأتصدقن بصدقة فخرج بصدقته فوضعها في يدي زانية فأصبحوا يتحدثون تصدق الليلة على زانية فقال اللهم لك الحمد على زانية لأتصدقن بصدقة فخرج بصدقته فوضعها في يدي غني فأصبحوا يتحدثون تصدق على غني فقال اللهم لك الحمد على سارق وعلى زانية وعلى غني فأتي فقيل له أما صدقتك على سارق فلعله أن يستعف عن سرقته وأما الزانية فلعلها أن تستعف عن زناها وأما الغني فلعله يعتبر فينفق مما أعطاه الله

 “Seorang lelaki pernah berkata : “Sungguh aku akan bersedekah dengan suatu sedekah.”

Maka ia pun beranjak keluar beserta sedekahnya, ia lalu menaruh sedekahnya (memberikannya) ke tangan seorang pencuri, esok harinya orang-orang berbicara kalau fulan bersedekah kepada seorang pencuri. Maka lelaki tersebut berkata :

“Ya Allah segala puji bagimu, Sungguh aku akan bersedekah dengan suatu sedekah.”

Maka ia pun beranjak keluar beserta sedekahnya, ia lalu menaruh sedekahnya (memberikannya) ke tangan seorang perempuan penzina, esok harinya orang-orang berbicara kalau semalam fulan bersedekah kepada seorang perempuan penzina. Maka lelaki tersebut berkata :

“Ya Allah segala puji bagimu atas (sedekah yang telah kuberikan) terhadap seorang perempuan penzina,  Sungguh aku akan bersedekah dengan suatu sedekah.”

Maka ia pun beranjak keluar beserta sedekahnya, ia menaruh sedekahnya (memberikannya) ke tangan seorang yang kaya, esok harinya orang-orang berbicara kalau fulan bersedekah kepada seorang yang kaya, Maka ia pun berkata:

“Ya Allah segala puji bagimu (atas sedekahku yang telah ku berikan) kepada pencuri dan wanita penzina, dan kepada orang yang kaya.

Maka kemudian dalam mimpinya ia dikunjungi oleh sosok yang berkata kepada dirinya, “Adapun sedekahmu kepada seorang pencuri maka semoga ia menjadi tidak lagi mencuri, dan adapun terhadap perempuan penzina itu maka semoga ia menjaga diri dari zina dan adapun terhadap si kaya maka semoga ia menjadi mendapat ibrah dengannya sehingga ia akan berinfaq dari apa-apa yang Allah telah berikan terhadap dirinya.”

[Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhariy No.1388 dan Muslim 2409, dan lainnya.]

Hadits ini mengajarkan kita bahwa niat baik dalam memberi sedekah bisa diterima di sisi Allah dan merupakan suatu kebaikan walau pun sasaran sedekah tersebut tidak pada tangan yang sewajarnya.

 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata :

وفيه أن نية المتصدق إذا كانت صالحة قبلت صدقته ولو لم تقع الموقع

 “Dan dalam hadits ini bahwa niat orang yang bersedekah apabila baik (niat shalih) diterima sedekahnya walau pun tidak jatuh pada tempat (semestinya)” (Fathul Bary 3/342)

Al-Qadli ‘Iyadl rahimahullah menjelaskan :

وفى الحديث أن الأعمال بالنيات وأنَ هذا قد اْجِرَ فى اجتهاده ونيتهِ ، وقبلت صدقته .وفيه أنَ الصدقةَ على أهل الفجور والمعاصى مكروهة ، وأنه يجب اْن يُتحرى لها أهلُ الخير والستر ، وهل تجزى عن الواجب ؟ اْما السارقُ والزانية فإن كانا محتاجن فلا خلاف فى جوازها

 “Dalam hadits ini bahwa segala amal perbuatan (tergantung) dengan niat-niat, dan menunjukkan bahwa orang ini sungguh telah diberi pahala dalam usaha dan niatnya dan diterima sedekahnya.”

“Dan menunjukkan bahwa sedekah untuk ahli kejahatan dan maksiat Makruh, dan sebenarnya wajib untuk mengusahakannya untuk orang yang baik dan tidak nampak sebagai ahli maksiat. Namun apakah mencukupkan dari (menggugurkan kewajiban sedekah) yang wajib? Adapun pencuri dan penzina maka apabila mereka butuh maka tidak ada khilaf dalam (hukum) bolehnya.” (Ikmalul Mu’allim Syarh Shahih Muslim 3/289)

Imam An-Nawawiy Rahimahullah menjelaskan :

فيه حديث المتصدق على سارق وزانية وغنى وفيه ثبوت الثواب في الصدقة وان كان الآخذ فاسقا وغنيا

“Dan dalam hadits ini ada cerita seorang yang bersedekah kepada pencuri, perempuan penzina dan kepada si kaya, dan di dalamnya (ada dalil tentang) tetapnya pahala sedekah walau pun orang yang mengambilnya adalah orang yang fasiq dan kaya” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj 7/110)

Maka semakin terang bahwa memberi kepada siapa pun tergantung dengan niatnya, termasuk dalam hal ini memberi kepada pengamen, terlebih pengamen tidak lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan pencuri dan penzina, sehingga memberikan mereka sedekah bukanlah hal yang haram.

Adapun anggapan bahwa memberi mereka berarti membantu maksiat maka jawabannya adalah : Pemberian yang menjadi haram ke pengamen adalah jika pemberian tersebut ditujukan sebagai imbal balik dari nyanyian mereka, atau upah atas menyanyi, sedangkan jika dengan niat bersedekah karena dia adalah orang miskin, atau dengan niat agar dia berhenti mengamen terlebih jika seorang sejak awal tidak pernah meminta mereka untuk bernyanyi di sekitar meja makannya, atau tempat lainnya, maka hal ini tidak sama sekali berkaitan dengan Ta’awun atas maksiat, oleh karena itu Imam Annawaiy rahimahullah pernah ditanya :

Apakah orang yang memberi (uang atau bentuk pemberian lainnya) kepada penyanyi atau (orang-orang) yang mereka keluar ke pasar dihukumi Fasiq?ataukah diberi pahala?

Beliau menjawab:

“Tidak difasiqkan hanya karena itu (memberi kepada penyanyi dan kepada mereka yang keluar ke pasar) dan tidak ada pahala baginya (yang memberi) kecuali jika ia bertujuan benar lagi Syar’i, (maka diberi pahala).”.. Sekian (fatawal Imam Annawawi 1/235)

Wallahu A’lam.

Bekasi 9/3/2018.

Musa Abu ‘Affaf. BA.