Menjelaskan Aib Barang Sebelum Dijual, Haruskah !?

Spread the love

Bagaimanakah sebenarnya hukum menutup aib barang dagangan? Apakah penjual memang diharuskan membeberkan aib barangnya ketika dijual ? masalah ini kerap terjadi di pasar dan dunia jual beli, untuk mengetahui jawabannya berikut kami hadapkan kepada pembaca sekalian sebuah tulisan singkat yang ditulis oleh  Pof.Dr. Hasan Abdil Ghaniy Abu Ghuddah[1] membahas tentang masalah tersebut, semoga bermanfaat.

Bismillah Walhamdulillah

 Fuqaha (Ulama Fiqh) telah berpendapat kepada hukum wajib atas seorang penjual apabila dia mengetahui ada sesuatu dengan barang yang dijualnya yang oleh pembeli – jika mengetahuinya – tidak akan menyukainya agar menjelaskan sesuatu tersebut yang ada pada barang yang dijual dengan penjelasan yang rinci, dan agar memberikan gambaran sifat sesuatu tersebut lebih dari sekedar menjelaskan, kalau seandainya hal itu adalah sesuatu yang samar, karena dalam urusan cacat dalam barang yang dijual bisa jadi digugurkan dalam satu barang, namun belum tentu pada barang lainnya, Haram atas penjual tidak menjelaskannya dan dia menjadi berdosa dan bermaksiat.

Hal ini berdasarkan dengan hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radliyallahu ‘Anhu, beliau berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

لا يحل لمسلم باع من أخيه بيعا فيه عيب إلا بينه له

“Tidak halal bagi seorang muslim menjual kepada saudaranya (semuslim) suatu jualan yang di dalamnya ada Aib (cacat) kecuali dia menjelaskan kepada saudaranya.”

[dikeluarkan periwayatannya oleh Ibnu Majah, (2/755) dan Al-Hakim (2/10) dan Al-Hakim men-shahihkannya dan Adz-Dzahabiy menyepakati beliau.]

Dan berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan Hakim bin Hizam radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :

البيعان بالخيار ما لم يتفرقا ، فإن صدقا وبينا بورك لهما في بيعهما ، وإن كذبا وكتما محقت بركة بيعهما

“Dua orang dari penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (Khiyar) selama keduaya belum berpisah, maka apabila keduanya berlaku jujur dan dengan keterbukaan (menjelaskan) diberkatilah keduanya dalam jual beli mereka berdua, namun jika keduanya berdusta dan menutupi (aib atau tanpa keterbukaan) dihapus keberkahan dalam jaul beli mereka berdua.” [Muttafaq ‘Alaih]

Sementara menyembunyikan cacat barang jualan atau aibnya adalah penipuan, dan penipuan haram hukumnya berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

من غشنا فليس منا

“Siapa saja yang menipu daya kami maka dia bukan dari kami.” [Hr: Muslim]

Dan tanggung jawab membeberkan aib barang tidak hanya terbatas pada diri si penjual saja, akan tetapi juga meliputi ke setiap pihak yang mengetahui aib barang tersebut, dan kewajiban ini menjadi lebih ditekankan kepadanya (setiap pihak yang mengetahui aib) apabila yang mengetahui aib tersebut hanyalah dia saja tanpa diketahui oleh penjual itu sendiri.

Lalu kapan Waktu Yang Tepat Membeberkan Aib Barang ?

Waktu untuk membeberkan aib barang dilakukan oleh penjual atau pun pihak lain yang dipercaya mengetahui aib barang sebelum akad jual beli dilangsungkan, sehingga pihak pembeli memiliki bekal pengetahuan dan keterangan jelas tentang barang yang akan dia beli. Namun jika pihak lain tersebut tidak hadir atau tidak memungkinkan untuk hadir maka pembeberan aib dilakukan setelah akad jual beli agar pihak pembeli memiliki kesempatan untuk mengembalikan barang dengan sebab adanya aib atau cacat.

Apabila Jual Beli Dilangsungkan Tanpa Membeberkan Aib Barang, Sahkah Akad Jual Belinya?

Dan apabila akad jual beli telah terlaksanakan namun disertai dengan menutupi aib barang maka jual belinya Shahih (sah) namun bersama dengan itu dia mendapatkan dosa, dan pendapat ini adalah pendapat Mayoritas Fuqaha’. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang praktik At-Tashriyah [2] dan beliau membenarkan jual beli.

Dan diceritakan (satu pendapat lainnya) dari Abu Bakr bin Abdil ‘Aziz bahwa jual beli (yang seperti di atas) hukumnya Bathil, karena dia adalah praktik yang dilarang, sedangkan larangan (pada hakikatnya) mengakibatkan kerusakan.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسليما كثيرا

Dialih Bahasakan oleh : Musa Abu ‘Affaf, BA.

Bekasi Senin 14/Rabi’ul Akhirah 1439 H./1 Januari 2018 M.


[1] Tulisan beliau dalam Bahasa Arab kami dapatkan di : http://fiqh.islammessage.com/NewsDetails.aspx?id=5272

[2] Hadits ini riwayat Muslim dan yang dimaksudkan dengan At-Tashriyah adalah praktik mengikat susu unta atau kambing sehingga airnya menjadi terkumpul banyak di dalam kantong tempat memerah susunya sehingga pembeli menyangka bahwa unta atau kambing tersebut adalah ternak yang memiliki banyak susu sehingga dia menaikkan harga jualnya.

Comments

comments