Membaca Hamdalah setelah Bersin dalam Salat

Teduh.Or.Id – Bismillah Walhamdulillah Waba’d. Secara umum disunahkan membaca hamdalah setelah bersin baik di luar ataupun di dalam salat. Disunahkan pula memberikan sambutan atas bersin tersebut bagi yang mendengarnya – dan ini disebut dengan istilah tasymit – dengan membaca “yarhamukallah”. Nabi ﷺ bersabda,

“إذا عطس أحدكم فليقل الحمد لله”

Apabila seorang dari kalian bersin maka ucapkanlah “alhamdulillah.”[1]

“وليقل له أخوه أو صاحبه يرحمك الله فإذا قال له يرحمك الله فليقل يهديكم الله ويصلح بالكم”

Dan hendaklah saudaranya (seislam) atau temannya membaca untuknya “yarhamukallah”, dan apabila temannya berkata untuknya “yarhamukallah”, maka hendaklah ia membaca, “yahdikumullah wa yushlihu balakum.”[2]

Membaca “alhamdulillah” setelah bersin dalam keadaan salat tetap dianjurkan. Karena tidak ada dalil yang menjadikan kondisi salat sebagai pengecualian membaca hamdalah setelah bersin. Bahkan ini diperkuat dengan hadis Rifa’ah bin Rafi’ radliyallahu ‘anhuma yang pernah bersin ketika salat berjamaah bersama Nabi ﷺ. Rifa’ah bin Rafi’ berkata,

 “صليت خلف النبي صلى الله عليه وسلم فعطست فقلت الحمد لله”

Aku pernah salat di belakang Nabi ﷺ dan aku bersin maka aku pun membaca alhamdulillah.[3]

Hal tersebut memperlihatkan bahwa tetap boleh mengucapkan hamdalah setelah bersin dalam salat, karena apa yang dilakukan oleh Rifa’ah bin Rafi’ radliyallahu ‘anhuma –seperti yang disebutkan di akhir hadis ini – tidak diingkari oleh Nabi ﷺ.

Perlu diketahui apa yang tidak diingkari oleh Nabi ﷺ semasa hidup beliau tentu adalah suatu hal yang diperbolehkan, atau bahkan bisa menjadi satu syariat. Maka wajib mengambil hadis ini sebagai dalil dan menolak pendapat siapa pun yang menolaknya dengan akal dan pikirannya.

Dari itu menurut Imam Ibnul Mundzir rahimahullah membaca hamdalah setelah bersin dalam salat adalah pendapat dari sekelompok para Imam di antaranya adalah Imam al-Nakha’i, Makhul, Ahmad bin Hanbal, al-Syafi’i, Abu Tsaur, dan Ahli Ra’yu.[4] rahimahumullah. Dan fatwa dari Al-Lajnah al-Daimah menetapkan pendapat ini sebagai pendapat mayoritas besar ulama dari kalangan Sahabat dan Tabi’in.[5]

Maka dari itu jika ada pendapat yang menyelisihi pendapat ini dengan menyatakan tidak dianjurkan atau tidak boleh membaca hamdalah maka penyelisihannya tersebut sesungguhnya tertolak dan dianggap sebagai khilaf yang lemah dan tidak layak dipertimbangkan.[6]

Mayoritas ulama tersebut kemudian berbeda pendapat dalam hal apakah bacaan hamdalah tersebut dibaca dengan suara nyaring (jahr) ataukah dengan bacaan senyap (sirr)?

Imam Ibnul Mundzir dengan sanadnya meriwayatkan dari Abu Thalhah, beliau pernah mendengar Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma berkata,

“العاطس في الصلاة يجهر بالحمد”

Orang yang bersin di dalam salat memperjelas bacaan “alhamdulillah.””[7]

Atsar Ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma tersebut menunjukkan bahwa cara membacanya adalah dengan suara jahr, dan inilah pendapat Imam al-Syafi’i, Abu Tsaur, dan Ahli Ra’yi.[8]

Baca juga: Memilih Bacaan Tasyahud

Membalas Bacaan Hamdalah

Adapun menyambut bersin saudara kita (tasymit) dalam salat maka tidak dianjurkan.  Al-‘Allamah Muhammad bin Adam Al-Ityubiy hafizhahullah berkata,

والحاصل أن القول الصحيح من أقوال أهل العلم أن العاطس يحمد الله تعالى، لصحة الحديث عن رسول الله – صلى” الله عليه وسلم – بذلك، ولكن لا يشرع تشميته، لعدم ثبوته عنه – صلى الله عليه وسلم -، ولا عن أصحابه رضي الله عنهم”

Kesimpulan dari masalah ini sesungguhnya pendapat yang benar dari beberapa pendapat ahli ilmu bahwa orang yang bersin (boleh membaca) “alhamdulillah” karena sahihnya hadis dari Nabi ﷺ tentang hal itu. Akan tetapi tidak disyariatkan men-tasymit-nya karena hal itu tidak ada riwayatnya dari Nabi ﷺ dan tidak juga dari para sahabatnya[9]

Bahkan jika itu dilakukan maka salatnya menjadi batal, karena ucapan tasymit tersebut masuk ke dalam jenis berbicara yang tidak dianjurkan dalam salat. Imam Ibnul Mundzir rahimahullah berkata,

 فإن عطس رجل فشمته وهو ذاكر أنه في صلاته، فسدت على المصلي صلاته

Maka jika seorang bersin lalu ada orang yang men-tasymit-nya dan dia dalam keadaan ingat sadar kalau dirinya sedang dalam shalat, maka batal salat orang yang salat itu.[10]

Wallahu A’lam.


Referensi:

[1] Hadits Riwayat Bukhariy

[2] Hadits Riwayat Bukhariy

[3] Hadits ini Shahih dan diriwayatkan Abu Dawud, Attirmidziy, dan An-Nasa;i

[4] Lihat Al-Ausath Ibnulmundzir (3/459) Cet. Darulfalah

[5] Lihat fatwa Lajnah Da’imah (26/113)

[6] Lihat Dzakhiratul-‘Uqba Fii Syarhilmujtaba (12/80)

[7] Al-Ausath Ibnulmundzir (3/460) Cet. Darulfalah

[8] Al-Ausath Ibnulmundzir (3/460) cet. Darulfalah

[9] Dzakhiratul-‘Uqba Fii Syarhilmujtaba (12/81)

[10] Lihat Al-Ausath Ibnulmundzir (3/459) Cet. Darulfalah

Featured image:  portablepress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.