Memaknai Perlombaan Yang Sesungguhnya

Teduh.Or.Id – Sudah punya satu ingin dua, kemudian tiga, empat, lima dan seterusnya. Itulah realita yang tanpa kita sadari ternyata sering kita saksikan didalam keseharian kita atau bahkan termasuk kita sendiri yang menjadi pemeran utamanya, entah berupa tempat tinggal, kendaraan, alat komunikasi, atau yang lainnya. Begitu banyak manusia yang terjebak didalam perlombaan semu ini, mengira bahwa jika ia memiliki semua itu ia akan menjadi orang yang paling bahagia dan mulia, segala hal ia lakukan demi meraih predikat sang juara didalam perlombaan ini, tidak peduli apakah cara yang harus ia tempuh itu halal ataukah haram. Ya, itulah sebuah kenyataan yang memang sudah jauh-jauh hari dikabarkan oleh baginda kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang artinya,

“Sungguh akan datang suatu masa kepada manusia dimana seseorang sudah tidak lagi mempedulikan dari mana ia memperoleh hartanya, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram”. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Al-Buyu’ 2083.

Beliaupun sudah mewanti-wanti kita agar waspada dari perlombaan semacam ini, beliau bersabda, yang artinya,

“Demi Allah! Bukanlah kefaqiran yang aku khawatirkan akan menimpa kalian, yang aku khawatirkan adalah jika dunia dilapangkan untuk kalian sebagaimana ia telah dilapangkan untuk orang-orang sebelum kalian, hingga kalianpun saling berlomba-lomba untuk meraihnya sebagaimana orang-orang terdahulu itu telah berlomba-lomba untuk meraihnya, maka dunia itu membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dunia beserta kegemerlapan yang ada didalamnya bukanlah tujuan utama seorang muslim, semua itu hanya sebagai sarana pembekalan guna menyongsong kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang abadi, kehidupan yang telah Allah janjikan bagi seluruh hambaNya,

“Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa..” [QS Al-Baqarah: 197]

“Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS Al-Qashahsh: 83]

Potret Perlombaan para Pendahulu Kita di Dalam Beramal Kebajikan

Dari Abu Hurairah bahwa orang-orang faqir Muhajirin datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi.” Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa maksud kalian”? Mereka menjawab, “Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah sedangkan kami tidak mampu melakukannya, merekapun bisa membebaskan budak sedangkan kami tidak mampu melakukannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang telah mendahului kalian, dan kalian mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain seseorang yang melakukan seperti apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Ya, kami mau wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmidlah setiap habis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Tidak lama kemudian para fuqara’ Muhajirin itu kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan berkata, “Ternyata teman-teman kami yang kaya raya itu telah mengetahui apa yang kami lakukan, lalu mereka pun melakukan hal itu!” Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” (Muttafaq Alaih).

Lihatlah, betapa mereka amat sangat bersemangat bahkan bernafsu untuk menjadi pemenang dan tidak rela ada seorangpun yang mendahului mereka dalam perlombaan ini, perlombaan yang menjadikan mereka sebagai manusia terbaik dan termulia yang sesungguhnya. Berbeda jauh dengan kita yang justru lebih sering membiarkan dengan ‘ikhlas’ beribu peluang untuk menjadi pemenang di dalam perlombaan ini luput dan pergi meninggalkan kita.

Terakhir, marilah sejenak kita merenungkan lalu berusaha menjadikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini sebagai pembimbing kita di dalam menghadapi gemerlapnya tawaran dunia yang ada di hadapan kita ini, beliau bersabda, yang artinya,

“Apalah artinya aku dengan dunia ini, tidaklah aku dengan dunia ini kecuali bagaikan seorang yang sedang menempuh sebuah perjalanan di hari yang panas nan terik lalu berteduh di bawah sebuah pohon kemudian beristirahat sejenak dan akhirnya iapun meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Sebuah ilustrasi sederhana namun teramat jelas yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wariskan untuk kita semua di dalam menghadapi gemerlap bahkan silaunya dunia ini, sekaligus menyadarkan kita semua bahwa keberadaan kita di dunia ini tidaklah kekal dan pasti ada akhirnya. Hanya amal sholihlah yang akan menyerta di pembaringan kita nanti, bukan banyaknya harta bukan pula anak-anak.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Oleh: Muhammad Rizqi

Gambar dari: http://1.bp.blogspot.com/-YXKFUhmf42A/UfJ4bx4YBsI/AAAAAAAACNw/1Se-GYZxhnk/s1600/Kompetisi.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.