Meluruskan Salah Kaprah Khitan Anak Perempuan

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد خاتم النبيين وعلى آله وصحبه أجمعين

Terdapat perbedaan pendapat antara ulama dalam hukum khitan untuk anak perempuan, sebagian mengatakannya wajib, dan sebagiannya lagi tidak wajib, melainkan hanya sebatas sampai kepada hukum sunnah, dan inilah insyallah yang lebih kuat atau rajih, dalam Enseklopedi Fiqh Addurarussaniyyah disebutkan:

الخِتانُ مُستحبٌّ في حقِّ النِّساءِ، وهذا مَذهَبُ الحنفيَّة ، والمالكيَّة، وقولٌ للشَّافعيَّة ، وقولٌ للحنابلةِ  ، وهو اختيارُ الشَّوكانيِّ  ، وابنِ باز  ، وابنِ عُثيمين  ، وهو قَولُ أكثَرِ أهلِ العِلمِ 

“Khitan disunnahkan (Mustahabb) untuk perempuan, dan ini adalah madzhab dari Madzhab Al-Hanafiyyah, Al-Malikiyyah, dan satu Qaul dalam Madzhab Al-Syafi’iyyah, dan Qaul dalam Al-Hanabilah, dan inilah pilihan dari Al-Syaukani, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan merupakan pendapat terbanyak dari kalangan ulama.”[1]

Dan khitan anak perempuan maksdunya adalah memotong sedikit ujung daging yang menonjol yang bentuknya lumrah dikenal dengan jengger ayam, bukan memotongnya dari pangkal sehingga menjadi hilang dan rata.

Hal ini penting diketahui, agar tidak terjadi kesalahan dalam praktik khitan anak perempuan, sebab ada sebagian kelompok melarang khitan anak perempuan karena mereka memahami kalau khitan tersebut adalah memotong dari pangkal sehingga rata dan hilang, dan ternyata bukan itu bentuk khitan yang dianjurkan dalam islam.

Akademi Fiqh International atau Majma’ul Fiqh Al-Islami dalam hasil diskusi mereka menetapkan hal ini, sebagai berikut;  

Ketetapan No.220 (4/23) tentang khitan perempuan dalam Fiqh Islam (Clitoral Hood Reduction Surgery)

Setelah menelaah beberapa riset yang diajukan kepada Al-Majma’ (akademi) khususnya dalam persoalan khitan perempuan (Clitoral Hood Reduction Surgery) dalam Fiqh Islam, dan setelah menyimak diskusi-diskusi yang dihelat seputar masalah tersebut, menetapkan beberapa hal berikut ini:

  1. Khitan perempuan dalam Fiqh Islam maksudnya adalah memotong sedikit dari bagian Qulfah (kulit yang ke atas) yang berada di area atas klitoris dengan membiarkan klitoris itu sendiri tetap utuh selamat, dan pelaksanaan khitan ini disebut dengan tindakan pemotongan penutup klitoris (Clitoral Hood Reduksion) atau tindakan memotong penutup klitoris.
  2. Pemotongan (yang disebutkan di atas) merupakan adat masyarakat tempo dulu, Arrasul ﷺ kemudian mengarahkan untuk menyederhanakannya di atas bentuk yang dapat melindungi kaum perempuan dari tindakan melewati batas (dalam memotong) dari yang telah biasa.
  3. Khitan perempuan yang telah diisyaratkan pada bagian ke-1 adalah letak perselisihan pendapat di antara ulama, dan tidak dilakukan di kebanyakan negera-negara islam di dunia, dan beberapa fuqaha‘ telah membolehkannya dalam ketentuan dan syarat-syarat yang seyogyanya harus telah terpenuhi ketika dalam pelaksanaannya, di antaranya adalah dilakukan di bawah bimbingan dokter (medis).
  4. Khitan perempuan yang telah ditetapkan di sini tidak masuk ke dalam kategori menghilangkan organ reproduksi wanita atau memotongnya, atau (FGM) Female Genital Mutilation) yang telah jelas pelarangannya, dan berbahayanya menurut badan kesehatan international dan secara khusus badan kesehatan dunia (WHO).(2)

Demikian, semoga bermanfaat.

Musa Abu ‘Affaf

—————————

[1] Lihat detilnya di dorar.net 

(2) Fatwa Majma’ Fiqhiyyah International berbahasa Arabnya dapat dilihat disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.