Melipat Rambut dan Pakaian Saat Shalat

Teduh.Or.Id – Lengan baju yang tadinya disingsingkan ketika berwudlu’ agar tidak basah kadang membuat kita menjadi sedikit berat untuk mengurainya kembali, terlebih apabila seorang dalam keadaan terancam Masbuq. Akhirnya dia ikut shalat berjamaah dalam keadaan lengan baju dan ujung celananya masih terlipat.

Namun ternyata melipat bagian pakaian seperti lengan baju atau ujung celana adalah perbuatan yang telah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :

عن ابن عباس قال أمر النبي صلى الله عليه و سلم أن يسجد على سبعة ونهى أن يكف شعرة وثيابه

Artinya: Dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma beliau berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diperintahkan sujud di atas tujuh (anggota badan) dan dilarang menggulung rambut dan pakaian.

  • [Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim No. 1095 / al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Bin Hajjaj/ 3-4/429-430/Cet. Darul Makrifah/Tahun 2001.M/1422.H.]

Selain perintah agar menyempurnakan sujud dengan meletakkan tujuh anggota tubuh saat sujud, hadits ini juga menjelaskan larangan lainnya yang seyogyanya tidak dilakukan oleh seorang muslim, yaitu melipat rambut dan melipat pakaian. Imam Abu Zakariyya an-Nawawy Rahimahullah berkata:

اتفق العلماء على النهي عن الصلاة وثوبه مشمر او كمه أو نحوه أو رأسه معقوص أو مردود شعره تحت عمامته أو نحو ذلك فكل هذا منهي عنه باتفاق العلماء وهو كراهة تنزيه فلو صلى كذلك فقد أساء وصحت صلاته

“Ulama telah bersepakat atas larangan mendirikan Shalat dalam keadaan pakaiannya diangkat atau lengannya atau (bagian lain) yang semisalnya, atau (dalam keadaan) rambutnya dipintal agar tidak terurai atau rambutnya dikembalikan ke bawah Imamahnya (peci atau sorban kepala) atau semisal dengan itu, maka semua ini adalah perkara yang terlarang dengan (berdasarkan) kesepakatan ulama, dan dia (larangan ini) adalah Makruh yang Tanzih (baca: Bukan Makruh yang haram) maka jika dia shalat seperti itu sungguh  ia telah berbuat buruk namun shalatnya sah.”

  • [ al-Minhaj Sharh Shahih Muslim ibnul Hajjaj 3-4/431.Cet. ke-2 Darul-Makrifah Tahun 2001.M/1422.H]

Walau pun dinilai hanya Makruh namun melipat rambut dan pakaian ketika shalat tetap boleh diingkari, hal ini sebagaimana yang telah disebutkan dalam satu riwayat:

عن عبد الله بن عباس أنه رأى عبد الله بن الحارث يصلى ورأسه معقوص من ورائه فقام فجعل يحله فلما انصرف أقبل إلى ابن عباس فقال ما لك ورأسى فقال إنى سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إنما مثل هذا مثل الذى يصلى وهو مكتوف

Dari Abdullah bin ‘Abbas Radliyallahu ‘Anhuma , sesungguhnya beliau pernah melihat Abdullah bin al-Harits sedang shalat dalam keadaan rambutnya Ma’qush (dilipat ke bagian akar rambut) dari bagian belakangnya, maka Abdullah bin Abbas berdiri dan mengurai rambutnya abdullah bin al-harits, dan manakala ia telah selesai dari shalatnya ia pun menghampiri Abdullah bin Abbas seraya berkata: “ada apa engkau dengan rambutku?” Abdullah bin Abbas menjawab: “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seperti yang (kamu lakukan) ini seperti orang yang shalat dalam keadaan Maktuf. (yaitu rambutnya yang panjang dibawa ke bagaian atas dibawah imamah atau peci).

  • [Hadits riwayat Imam Muslim Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim No. 1101 / al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Bin Hajjaj/ 3-4/Hal.432/Cet. Darul Makrifah/Tahun 2001.M/1422.H.]

Imam an-Nawawy Rahimahullah memberikan keterangan atas riwayat Abdullah bin Abbas di atas dan beliau berkata:

فيه الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وأن ذلك لا يؤخر إذ لم يؤخره بن عباس رضي الله عنهما حتى يفرغ من الصلاة وأن المكروه ينكر كما ينكر المحرم

“Di dalam hadits ini ada anjuran amar makruf nahi munkar dan hal itu boleh diundur karena Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma tidak mengundurkannya sampai ia (abdullah bin al-harits) selesai dari shalatnya, dan sesungguhnya yang Makruh boleh diingkari sebagaimana diingkarinya sesuatu yang diharamkan.”

  • [al-Minhaj Sharh Shahih Muslim ibnul Hajjaj 3-4/432./Cet. ke-2 Darul-Makrifah Tahun 2001.M/1422.H]

Adapun terkait tentang makna Ma’qush dan Maktuf yang disebutkan di dalam hadits di atas, Imam Ibnul Atsir (Wafat 606 H.) –Rahimahullah – mengatakan bahwa maksud dari kata Ma’qush atau Maktuf adalah keadaan seorang yang rambutnya terurai jatuh ke bumi (lantai) saat ia bersujud sehingga ia diberikan pahala sujud dengan sebab itu, namun apabila rambutnya diikat maka jadilah hal itu ke dalam makna seperti seorang yang tidak bersujud.”

  • [al-Nihayah Fii Ghariibil Hadiits Wal Atsar 2/237/ Cet. Ke-2 Darul Makifah 1427 H./2006 M.]

Dari makna yang disebutkan oleh Imam Ibnul Atsir tersebut dapat dipahami bahwa larangan melipat rambut sebenarnya hanya berlaku atas orang yang melipat pakaiannya dan rambutnya dengan tujuan untuk shalat, dan ini adalah salah satu pendapat ulama dari pendapat lainnya yang menilai secara lebih umum persoalan ini,  yaitu dengan memberlakukan larangan tersebut secara mutlak, dalam artian apakah dia melipatnya karena hendak shalat ataukah dengan tujuan lainnya maka tetap tidak berbeda dan tetap dilarang.

Dan pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam an-Nawawy Rahimahullah bahwa larangan melipat rambut dan pakaian berlaku secara umum karena inilah pendapat yang telah dinukil dari para Shahabat.

  • [al-Minhaj Sharh Shahih Muslim ibnul Hajjaj 3-4/432./Cet. ke-2 Darul-Makrifah Tahun 2001.M/1422.H]

Larangan melipat pakaian yang dinilai hanya sampai kepada hukum Makruh saja dalam masalah ini nampaknya dipengaruhi oleh adanya dalil lain yang mengalihkan hukum asal dari sebuah larangan yaitu haram kemudian berubah menjadi tidak haram. Dalil tersebut adalah sebuah perbuatan yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits yang intinya adalah

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج في حلة مشمرا فصلى ركعتين

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah keluar dengan pakaian yang Musyammir (pakaian yang diangkat bagian paling bawahnya) lalu beliau shalat dua rakaat.” [HR: Bukhary]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menukil perkataan al-Isma’iliy bahwa dari hadits ini dapat diambil simpulan Fiqh bahwa larangan melipat pakaian di dalam shalat letaknya terdapat pada selain ujung Izar (setelan pakaian bawah seperti sarung ).

  • [Fathul Bary 13/254-255/ Cet. Pertama 1426 H-2005 M. Dar Thayyibah-Riyadl.]

Di satu sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dilarang melipat pakaiannya ketika shalat, namun dalam kesempatan lainnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah mengangkat ujung sarungnya, tentu ini akan merubah hukum larangan tersebut kepada hukum yang lain yaitu Makruh dan bahkan bisa jadi berubah menjadi Mubah. Wallahu A’lam.