Meletakkan Sesuatu Di Depan Area Shalat, Wajib ?

Meletakkan sesuatu di depan tempat Shalat sebagai pembatas agar orang lain tidak melintas di depannya, atau menghadap ke sesuatu seperti tembok ketika Shalat, inilah yang dimaksud dengan Sutrah (baca: Sutroh) dalam pembahasan Shalat.

Kajian seputar Sutrah telah banyak ditulis oleh para Bahist (peneliti kontemporer) secara tersendiri, di samping juga kajian hukum tentang Sutrah telah dibahas dengan teliti oleh Ulama Salaf sehingga hampir saja tidak ada yang tersisa dari persoalan tersebut, dimana mayoritas Ulama memandang bahwa Sutrah hukumnya Sunnah atau Sunnah Mu’akkadah (Sunnah yang sangat dikuatkan), hal ini dapat kita lihat dari pendapat mereka secara umum sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (24/177-178):

      Sutroh                                Suroh 2

“Dan jenis perintah dalam hadits ini (hadits perintah meletakkan Sutrah, Pen.) menunjukkan makna perintah Istihbab (Sunnah) bukan sebagai perintah yang wajib, Ibnu’Abidin Rahimahullah berkata: “telah diputuskan dengan jelas dalam kitab Al-Mun-yah bahwa Makruh meninggalkannya, dan Makruh di sini mengandung makna Tanzihiyyah (baca: tidak haram) , dan sedangkan pengalih untuk makna perintah dari hakikatnya (baca: asal makna perintah itu wajib) ialah hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Al-Fadhl bin Al-‘Abbas semoga Allah meridhai keduanya: ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah datang kepada kami sedangkan kami berada di perkampungan kami, lalu beliau Shalat di padang pasir tanpa Sutrah di depannya.

 Dan senada dengannya (pendapat tidak wajib) ialah apa yang telah disebutkan dari Al-Hanabilah , di antaranya perkataan Al-Buhutyy: “dan bukanlah demikian itu (berarti) wajib, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridhai mereka berdua – bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Shalat di tempat terbuka tanpa ada ini sedikit pun (Sutrah) di depannya”.  dan disunnahkan sutrah menurut Al-Hanafiyyah dan Al-Malikiyyah dalam pendapat yang Masyhur baik untuk Imam, Munfarid (Shalat sendiri) apa bila ia mengira ada yang akan lewat di depannya, namun jika tidak, maka sutrah tidak disunnahkan atas mereka berdua. Dan telah dinukilkan dari Imam Malik (pendapat) bahwa perintah tersebut bersifat Mutlak (tanpa terkait dengan sangkaan apakah akan ada yang lewat ataukah tidak. Pen.), dan dengan pendapat inilah Ibnu Habib berpegang dan telah dipilih oleh Al-Lakhmiyy.

 Dan adapun Asy-Syafi’iyyah maka mereka mengambil pendapat yang mutlak bahwa sesungguhnya Sutrah hukumnya Sunnah dan mereka tidak menyebutkan adanya Qiad (kaitan apakah ada atau tidaknya dugaan orang akan lewat atau tidak. Pen.) dalam hal ini,  dan Al-Hanabilah berpendapat: “Disunnahkan Sutrah atas Imam dan Munfarid (Shalat sendiri) walau pun ia tidak khawatir ada yang lewat.”. Selesai.

 

Menguatkan pendapat tidak wajibnya Sutrah dari kalangan Ulama Kontemporer terkemuka di antaranya ialah Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Shalih bin ‘Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Fauzan. Dan di antara kutipan yang paling berkesan dan kuat dalam persoalan ini adalah perkataan Syaikh Shalih dalam Syarhul Mum’ti’ (2/309):

وعُلم من كلامه: أنَّها ليست بواجبة، وأنَّ الإنسان لو صَلَّى إلى غير سُترة فإنه لا يأثم، وهذا هو الذي عليه جمهور أهل العلم ؛ لأنها من مكمِّلات الصَّلاة، ولا تتوقَّفُ عليها صحَّة الصَّلاة، وليست داخل الصَّلاة ولا مِن ماهيَّتها حتى نقول: إنَّ فقدَها مفسدٌ، ولكنها شيء يُراد به كمال الصَّلاة، فلم تكن واجبة، وهذه هي القرينة التي أخرجت الأمر بها من الوجوب إلى الندب.

Artinya: “dan diketahui dari perkataannya (Penulis kitab Za’dul Mustaqni’) bahwa sesungguhnya Sutrah tidaklah wajib, dan andai saja seseorang mendirikan Shalat tanpa Sutrah maka ia tidak akan berdosa, dan inilah pendapat yang berada di atasnya mayoritas Ahli Ilmu. Karena sesungguhnya Sutrah termasuk dalam bagian penyempurna-penyempurna Shalat, namun keabsahan Shalat sama sekali tidak bergantung atasnya, dan Sutrah bukanlah termasuk ke dalam (aktivitas) pelaksanaan Shalat dan tidak juga bagian dari Mahiyahnya (Inti) Shalat, sehingga kemudian dengan alasan tersebut lalu akan (sah) kita katakan: “Sesungguhnya ketiadaan Sutrah adalah perusak (Shalat)”, akan tetapi Sutrah adalah sesuatu yang lain yang ditujukan dengannya kesempurnaan Shalat, maka tidaklah Wajib, dan inilah Qarinah (tanda-tanda yang meliputi) yang mengalihkan perintah Sutrah dari wajib kepada Nadb (Sunnah)

 Namun tak dapat dipungkiri adanya sebagian Ulama yang memandang bahwa Sutrah hukumnya wajib seperti Ibnu Hazm, Asy-Syaukany, lalu diikuti oleh Syaikh Al-Albany dan lainnya Rahimahumullah. Dan kesinilah nampaknya beberapa orang kembali berpegang saat ditanya hukum Sutrah. Akan tetapi pendapat Mayoritas Ulama lebih kuat terlebih juga tidak didapatkan adanya pendapat dari Salaf yang menegaskan akan batalnya Shalat seseorang tanpa Sutrah. Wallahu A’lam.

 Musa Abu Affaf