Masker dan Gerakan Hijrah Muslimah Kekinian

Salah satu hal yang baik dari munculnya kesadaran berhijrah di tengah anak-anak muda kini, ialah bukan sekedar bertumbuhnya kesadaran berislam dan semangat untuk mengajak orang lain untuk berbuat lebih baik sebagai bekal akhirat. Namun juga, diiringi dengan gerakan-gerakan lain yang tentunya positif, semisal adalah gerakan tutup aurat, gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, trend nongkrong-nongkrong dan kumpul-kumpul Islami, istilah plesetan religi semisal “Aku, Kau, dan KUA, atau Jomblo Fii Sabilillah, ditambah lagi adanya gubahan-gubahan lagu Barat atau lagu kekinian yang dimodifikasi menjadi lagu religi yang itu semua bisa kita simak di banyak channel media sosial seperti Instagram dan YouTube, dan gerakan-gerakan lain yang serupa. Pada kenyataannya, hijrah memang soal bergerak.

Dari hal-hal tadi, yang membuat lebih baik lagi ialah adanya kesadaran para muslimah, untuk bukan hanya sekedar menutup aurat mereka, tapi juga beranjak pada menutup wajah mereka. Dengan hal-hal yang justru malah menjadi mode tersendiri kini. Seperti diantaranya memodifikasi penggunaan cadar yang dahulu belum pernah terpikirkan mungkin penggunaannya, hingga cadar sendiri yang beraneka ragam jenis dan gaya, sampai pada hal paling minim dari usaha menutup wajah, yakni menggunakan masker.

Tentu, kita tidak sedang berbicara tetang hukum cadar dan semisalnya, pembahasan tersebut mungkin akan ada lain waktu dan lain tempatnya.

Menutup aurat sendiri adalah kewajiban bagi setiap muslimah, sebab seorang wanita digambarkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Wanita adalah aurat.” (HR. Tirmidzi), maka menutup aurat wajib sejak seorang wanita sudah sampai pada usia baligh, dan menutup aurat tidak perlu menunggu sampai seseorang menjadi baik. Sebab dengan ditutupnya aurat, bila ia memahami makna dari berhijabnya dengan benar, tentu akan mengajak pribadinya menjadi lebih baik secara otomatis. Bukankah, kadang kita kerap beranalogi, bahwa sama-sama buahnya, namun apabila ia dijajakan terbuka dipinggir jalan, dengan diberikan wrap (plastik press penutup) dengan ditempatkan pada etalase swalayan, buah tersebut akan lebih bernilai dan berharga dibandingkan dengan yang apa adanya terjajakan di pinggir jalan?

Memilih untuk menutup aurat adalah sebuah sikap, sikap yang tegas bahwa ini adalah jalan seorang hamba untuk menggapai keridhaan Allah Ta’ala, walau kadang disaat memilih berhijab tentu banyak jalan penuh ujian menghadang, dari mulai makian, cacian, cemoohan, umpatan, bahkan adanya upaya menakut-nakuti dari mulai soal rejeki, hingga akan kehilangan orang yang dicintai. Namun, teguhlah dan tetapkanlah pada sikap kita untuk mencari ridha Allah, jika ridha Allah yang dicari, tentu akan Allah cukupkan pada dirinya apa-apa yang ia butuhkan dalam hidupnya.

Sebagaimana dikisahkan bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan pernah menulis surat kepada Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha yang isinya: “Tuliskanlah untukku sebuah surat yang berisi pesan-pesan Anda untukku, namun jangan terlalu banyak.”. Maka Ummul Mukiminin Aisyah menjawab: “Kepada Muawiyah, salamun ‘alaik Amma Ba’du, sungguh aku pernah mendengar Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang mencari ridha Allah Ta’ala dengan membuat marah manusia, maka Allah Ta’ala akan mencukupkannya dari kebutuhan (bergantung) kepada manusia. Siapa yang mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah Ta’ala akan menyerahkannya kepada manusia.”  Wassalamu’alaik (Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam Al Hilyah dan dihasankan oleh Ibn Hajar Al Asqalani dalam pembukaan kitab Takhrij Misykah Al Mashabih 4/480).

Jadi, jangan pernah gentar untuk menutup aurat lagi bila memang sudah mengetahui kewajiban dan memilih sikap yang jelas untuk itu semua. Termasuk salah satunya adalah pilihan untuk menutupi wajah, yang kini sudah menjadi fenomena tersendiri di kalangan pemudi muslimah kekinian. Dahulu, mungkin masker memiliki fungsi untuk menutupi wajah khususnya bagian hidung dan mulut untuk mencegah terhirupnya polusi, atau masker digunakan dalam dunia kesehatan sebagai bagian dari alat wajib saat melakukan tindakan medis; baik operasi bedah, maupun menjaga diri paramedis agar tidak terjangkit virus yang disebabkan oleh si pasien, atau pula masker digunakan oleh sebagian orang yang memiliki alergi tersendiri terhadap wewangian atau bau tak sedap di sekitar lingkungannya.

Masa pun bergeser, tak sedikit masker dijadikan oleh para perempuan umumnya untuk menutupi jerawat atau ‘kekurangan fisik’ yang dimiliki dibagian wajahnya. Masker juga dilakukan oleh para muslimah khususnya para aktivis saat lalu sebagai bagian dari menutupi wajah kala melakukan aksi demonstrasi di tengah terik matahari. Namun, fenomena kekinian menjadikan masker sebagai instrumen penting para muslimah yang komitmen menjaga auratnya sebagai satu langkah menuju penggunaan cadar/niqab kelak. Tentu gejala terakhir ini sungguh sangat bermanfaat, selama tujuannya memang menjaga dirinya agar tidak menjadi fitnah dan tidak menimbulkan fitnah yang baru.

Keberadaan para wanita muslimah kekinian dengan masker juga membantu para pria agar sejatinya mereka dapat menjaga pandangan dengan sebaik-baiknya sebagaimana perintah Allah dan Rasulnya. Walaupun tidak sedikit pula para pria yang menjadikan penggunaan masker para muslimah justru menyimpan tanya dan penasaran tersendiri. Keinginan mereka menggunakan itu semua merupakan salah satu dari sekian banyak pendukung-pendukung dari sarana berhijrah, sebagaimana hal ini pernah terjadi pada diri wanita-wanita mukminah di masa hijrah jaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lampau seperti yang disampaikan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kala memberikan penjelasan saat turunnya firman Allah dalam QS. An Nur:31:

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kaum wanita Muhajirat (yang berhijrah meninggalkan negerinya menuju Madinah –pen.). Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat (artinya), “Hendaklah mereka mengulurkan kerudung-kerudung mereka di atas dada-dada mereka”. Mereka memotong-motong muruth, lalu ikhtimar dengannya.”

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anhamuruth adalah jamak dari murth, maknanya izar/sarung/kain.... Ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha maksudnya mereka menutupi wajah mereka (dengan potongan muruth).”  (Fathul Bari, 8/490)

Tentu seharusnya ini patut untuk diberikan perwujudan terima kasih tersendiri, karena gerakan bermasker yang saat ini dilakukan oleh wanita muslimah, semoga dapat menjadi benih terciptanya keselamatan dan terjauhkannya fitnah-fitnah yang disebabkan oleh pandangan, sunguh indah perkataan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Ad Daa’ wa Dawaa’ hal 234:

“Pandangan mata adalah asal dari seluruh petaka yang menimpa seorang insan. Dari pandangan mata melahirkan lintasan dihati. Lintasan di hati melahirkan pikiran, keudian timbuk syahwat. Dari syahwat lahir keinginan kuat yang akan menjadi kemantapan dan yakin, dari itu semua pasti akan membawa seseorang kepada perbuata yang sulit untuk dicegah dan ditahan. Karena itu dikatakan: ‘Bersabar menahan pandangan itu lebih mudah daripada bersabar menanggung kepedihan setelahnya’.”

 Mari para muslimah, teguhkan pendirian dalam berhijrah, sekalipun kini menggunakan masker sebagai satu langkah menuju cadar atau niqab yang kalian dambakan, jangan lupa, selain berpenampilan, teruslah untuk senantiasa memperbarui keimanan di dalam hati, sebab berpenampilan tanpa dibarengi dengan baiknya keimanan, tentu akan terasa kurang dan belumlah maksimal. Perbarui keimanan dengan berteman bersama muslimah yang shalihah pula, mencari majelis ilmu yang didalamnya mengajarkan apa yang Allah firmankan dan apa yang Nabi sabdakan disertai pemahaman yang benar, serta jangan upa berdoa agar Allah tetapkan hati dalam kebaikan. Sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya iman itu dapat usang di dalam dada salah seorang dari kalian sebagaimana pakaian akan usang, maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hati (qalbu) kalian.” (HR. Ath Thabrani dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 1590).

Wallahu Waliyut Taufiq

Abu Haniina Rizki

Purwokerto, 21 Syawal 1439 H / 5 Juli 2018.

Comments

comments