Shalat Di Masjid (Nabawiy) Perluasan Apakah Mendapat Keutamaan?

Spread the love

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال صلاة في مسجدي هذا خير من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام

“Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di dalam masjid selainnya kecuali Al-Masjidul-Haram”. (Bukhary dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat di masjid Nabawiy, namun apakah keutamaan tersebut hanya terbatas pada area masjid yang dibangun pada zaman Nabi saja? Sehingga area perluasannya tidak memiliki keutamaan yang sama dengannya?

Para ulama menetapkan bahwa keutamaan tidak hanya terbatas pada area masjid yang dibangun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dulu kala, namun juga meliputi area perluasan masjid setelahnya, ini sesuai dengan hadits yang datang dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu :

لوبني هذا المسجد إلى صنعاء كان مسجدي

“Jika Masjid ini (masjid Nabawiy) dibangun sampai ke (wilayah) Sha’a niscaya menjadi masjidku”. (Diriwayatkan oleh Abu Zaid Umar bin Syaibah An-Numairy dalam kitab Akhbarul Madinah)

Umar bin Al-Khatthab radliyallahu ‘Anhu berkata:

 لومد مسجد النبي صلى الله عليه وسلم إلى ذي الحليفة لكان منه

“Jika masjid Nabi diperluas sampai ke (wilayah) Dzil Hulaifah maka ia termasuk darinya”. (lihat Takhrijnya dalam Silsilah Adl-dla’ifah No. 973)

Kedua hadits ini sangat lemah (Dla’if Jiddan) sehingga tidak sah menjadi penentu hukum, akan tetapi maknanya benar, dengan beberapa Alasan:

  1. letak Imam dan Saff pertama dizaman Umar dan ‘Utsman Radliyallahu ‘Anhuma berada di area depan perluasan masjid Nabi, dan masjid nawabiy diperluas pada zaman mereka berdua masing-masing.
  2. jika memang keutamaan seribu shalat hanya pada area asli saja, maka mustahil Umar dan Utsman Radliyallahu ‘Anhuma memposisikan tempat imam dan saff pertama berada di luar area asli, mereka adalah sebaik-baik orang yang berpegang dengan Sunnah dan paling semangat meraih keutamaan.
  3. Para Shahabat mengisi Saff pertama di area perluasan tersebut sejak zaman Umar dan ‘Utsman Radliyallahu ‘Anhuma, tidak ada satu pun dari mereka yang sengaja mundur ke belakang ke area asli, kalau bukan karena hukum perluasan adalah hukum masjid asli, maka berarti mereka para shahabat yang berada di saff pertama melakukan shalat diluar masjid Nabi dan mengabaikan keutamaan yang telah disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini tidak elok untuk disangkakan kepada para shahabat.

Dengan ketiga alasan inilah kemudian Syaikhul-Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

حكم الزيادة في مسجده صلى الله عليه وسلم حكم المزيد فيه تضعف فيه الصلاة بألف صلاة

‘Hukum perluasan di masjidNya Nabi (berlaku) hukum area asli, dilipat-gandakan padanya shalat dengan seribu shalat”. (Ash-sharimul Mankiy 139-140)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah juga demikian, beliau berkata:

وحكم الزيادة حكم المزيد فيه في الفضل أيضا ، فما زيد في المسجد الحرام ومسجد النبي صلى الله عليه وسلم  كله سواء في المضاعفة والفضل

“Dan hukum arena perluasan adalah hukum aslinya dalam keutamaan, apa yang diperluas di Al-Majidil Haram, dan Masjid Nabawiy semuanya sama dalam dilipat-gandakan dan keutamaan”. (Fathul Bariy Ibnu Rajab 2/479)

Syaikh Al-Albaniy rahimahullah menguatkan pendapat ini, sehingga beliau pun berkata setelah mentakhrij dua hadits di atas:

ثم إن معناه صحيح ، يشهد له عمل السلف به حين زاد عمر وعثمان في مسجده صلى الله عليه وسلم من جهة القبلة

“kemudian sesungguhnya maknanya benar, amalan salaf menjadi penguatnya, ketika Umar dan ‘Utsman memperluas masjidNya shallallahu ‘alaihi wasallam di arah bagian kiblat”. (Silsilah Adl-Dla’ifah 2/403)

Al-Mubarakfury menukil dari dari Muhibb Ath-Thabariy , bahwa imam Malik pernah ditanya tentang masalah ini, beliau menjawab bahwa kekhususan tidak hanya berlaku pada Masjid asli saja. (Tuhfatul-Ahwadziy 2/ 237)

Pendapat lainnya datang dari sebagian ulama Asy-Syafi’iyyah seperti Imam An-Nawawiy. Dan dari kalangan Madzhab Al-Hanbaliy seperti Ibnu ‘Aqil. Dan juga Ibnu Jauziy rahimahumullah jami’an, mereka semua berpandangan bahwa keutamaan seribu kali shalat hanya berlaku pada area asli masjid Nabawiy yang dulu. [1]

Namun yang membuat hati condong adalah apa yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan lainnya. Wallahu A’lam.

Bekasi 11 Sya’ban 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.


[1] https://islamqa.info/ar/136578