Masa ‘Iddah Raj’iyyah Si Perempuan Tinggal Di Mana?

Setelah terjadi perceraian, – khususnya cerai yang memiliki kuota untuk Rujuk –  dan istri pun menunggu masa ‘Iddahnya, lalu sebenarnya di manakah si Istri harus tinggal, apakah tetap dirumah suaminya, ataukah pulang ke rumah orang tuanya ?

Perempuan yang dicerai namun cerainya Raj’iyyah (masih bisa balik untuk dirujuk tanpa harus dinikahi lelaki lain terlebih dahulu)  maka harus tinggal di rumah yang dia tempati sebelum dia dicerai, dan tidak boleh suaminya mengeluarkan dia dari rumah tersebut, dan dia pun tidak boleh pergi minggat ke rumah orang tuanya.

Dan rumah tersebut atau tempat tinggal tersebut adalah kewajiban suami untuk menyediakannya.

Sebagaimana masalah ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

لا تخرجوهن من بيوتهن ولا يخرجن إلا أن يأتين بفاحشة مبينة

Artinya : “Jangan kalian keluarkan mereka (istri-istri yang dicerai) dari rumah mereka dan janganlah mereka keluar kecuali mereka mendatangi Fahisyah yang jelas” (QS: Ath-Thalaq: 1)

Allah juga berfirman :

أسكنوهن من حيث سكنتم من وجدكم

Artinya : “Tempatkanlah mereka (perempuan yang dicerai) di tempat yang kamu huni dari yang kalian mampu.” (QS : Ath-Thalaq : 6)

Para Ulama berdalil dengan kedua Ayat ini bahwa perempuan yang dicerai Raj’iyyah wajib diberikan tempat tinggal dan tinggal di tempat tersebut atas tanggungan suami.

Ibnu Rusyd rahimahullah dalam Bidayatul Mujtahid menjelaskan kesepakatan Ulama akan hal ini, beliau berkata :

اتفقوا على أن للمعتدة الرجعية النفقة والسكنى وكذلك الحامل لقوله تعالى

“(Para Ulama) telah bersepakat bahwa hak nafkah dan tempat tinggal bagi perempuan yang berada dalam masa ‘Iddah Raj’iyyah demikian pula dengan yang hamil, karena firman Allah.. ” (2/95)

Kemudian beliau menyebutkan Ayat tersebut. (Atthalaq Ayat 6)

Dan dalam masa ‘Iddah ini, perempuan sebenarnya masih berstatus sebagai istri, dari itu dia tidak boleh dipinang (apalagi dinikahi) oleh lelaki lain.

Allah berfirman :

وبعولتهن أحق بردهن في ذلك

Artinya : “Dan suami mereka (perempuan-perempuan dalam masa ‘Iddah) lebih berhak dengan mengembalikan mereka dalam hal itu.” (QS: Al-Baqarah 228)

Ayat ini menunjukkan bahwa lelaki yang menceraikannya masih terhitung sah sebagai suaminya, hal ini diketahui dari Ayat ini karena menunjukkan bahwa Allah menyebutkan para lelaki yang menceraikannya dengan Bu’ulah (suami) dan asal hukum dalam penyandaran sesuatu adalah penyandaran secara hakikat, yaitu kepemilikan, maka perempuan yang telah dicerai dengan Raj’iyyah masuk ke dalam hukum Istri. (Syarhul Mumti’ 13/463)

Disebutkan di dalam Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (25/113) :

المعتدة عن طلاق رجعي تعتبر زوجة ؛ لأن ملك النكاح قائم ، فكان الحال بعد الطلاق كالحال قبله

“Perempuan yang dalam masa ‘Iddah dari cerai yang bersifat Raj’iy diperhitungkan sebagai  istri, karena kepemilikan dari pernikahan masih tetap, maka keadaan setelah cerai (sama) seperti keadaan sebelumnya.”

Berdasarkan dengan ini, maka seorang perempuan dalam masa ‘Iddah tetap wajib menunaikan hak-hak suaminya,.

Imam An-nawaiy rahimahullah berkata dalam kitab Arraudlah (8/416)  :

إن كانت رجعية فهي زوجته فعليه القيام بكفايتها فلا تخرج إلا بإذنه

“Jikalau perempuan Raj’iyyah maka dia (adalah masih sebagai) Istrinya, maka wajib atasnya memenuhi kebutuhannya, maka dia tidak boleh keluar (dari rumah yang disediakan) kecuali dengan izinnya (suami).”

Wallahu A’lam

Bekasi 6 Rajab 1439 H.

Musa Abu ‘Affaf, BA.