Manusia Terbanyak Saat Hari kiamat Tiba

Kepribadian yang baik dan budaya yang baik, akan selalu membuahkan kebaikan, walaupun hal itu dilakukan oleh orang yang tidak Islam sekalipun.

Maka jika seorang yang kafir berlaku jujur, amanah serta menepati janjinya dalam urusan keduniawian, maka tidaklah mustahil ia menjadi sukses dalam karirnya. Manusia pada umumnya memang bisa menerima secara fitrah setiap hal yang baik dan positif dan menjadikan semua hal itu patut diteladani dan diapresiasi.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. (Dikeluarkan oleh As-Sakhawy dan nilai Shahih oleh Al-Albany). Barangkali inilah rahasia dari sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut. Beliau menggunakan kata “manusia” secara umum dan bukan kata “orang yang beriman atau muslim” dalam konteks dapat memberi manfaat kepada orang lain. Seolah ini mengisyaratkan untuk kita kepada satu hal, bahwa kepribadian yang baik dan budaya yang baik bisa saja dimiliki oleh siapa pun, terlepas dari Agama mereka masing-masing, sehingga dengannya mereka dapat berbagi manfaat kepada orang lain.

Beranjak dari hal itu, menjadi teringat dengan sabda Sang Utusan Allah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

قَالَ الْمُسْتَوْرِدُ الْقُرَشِىُّ عِنْدَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « تَقُومُ السَّاعَةُ وَالرُّومُ أَكْثَرُ النَّاسِ ». فَقَالَ لَهُ عَمْرٌو أَبْصِرْ مَا تَقُولُ. قَالَ أَقُولُ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ إِنَّ فِيهِمْ لَخِصَالاً أَرْبَعًا إِنَّهُمْ لأَحْلَمُ النَّاسِ عِنْدَ فِتْنَةٍ وَأَسْرَعُهُمْ إِفَاقَةً بَعْدَ مُصِيبَةٍ وَأَوْشَكُهُمْ كَرَّةً بَعْدَ فَرَّةٍ وَخَيْرُهُمْ لِمِسْكِينٍ وَيَتِيمٍ وَضَعِيفٍ وَخَامِسَةٌ حَسَنَةٌ جَمِيلَةٌ وَأَمْنَعُهُمْ مِنْ ظُلْمِ الْمُلُوكِ.

Al-Mustaurid Al-Qurasyi pernah berucap ketika berada di sisi ‘Amr bin Al-‘Āsh, Aku pernah mendengar Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“(kelak) Hari kiamat akan datang walhal bangsa Rum (Romawi) adalah manusia paling banyak (saat itu. Pent)”.

Maka ‘Amr lantas berkata kepadanya (Al-Mustaurid)

“Perhatikan (tolong jaga) apa yang kamu ucapkan”.

(Al-Mustaurid pun) berkata:

“Aku mengucapkan sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”

‘Amr pun berkata: “Jika (benar) yang kamu katakan itu, sesungguhnya mereka (Bangsa Romawi) memiliki empat kepribadian; mereka adalah orang yang paling bijak pada saat terjadi fitnah (masalah), dan orang yang paling cepat sadar (bangkit) setelah mendapat bencana, dan orang yang paling dekat mengembalikan urusan kepada penanggung jawabnya setelah terjadi mushibah, dan orang yang paling baik terhadap orang miskin, Yatim, dan orang yang lemah. Dan yang kelima (dari kepribadian) baik nan indah (yang mereka miliki) mereka adalah orang yang paling mampu menahan diri dari berlaku lalim terhadap raja mereka”. [HR: Muslim]

Betapa ‘Amr bin Al-Āsh Radhiyallahu ‘Anhu telah mencoba menjelaskan sebab dari keberlangsungan populasi bangsa Romawi yang tidak akan surut sampai hari kiamat kelak. Kita dapatkan ternyata ada beberapa pengaruh baik yang terkait erat dengan kepribadian mereka, sehingga dengannya mereka menjadi orang yang paling banyak di akhir zaman kelak.

Kepribadian tersebut ialah sikap bijak dalam setiap urusan dan masalah, dan tentunya sifat ini juga adalah bagian dari akhlak yang telah diajarkan dan dipuji oleh Nabi, sebagaimana sabda beliau kepada salah seorang Shahabatnya yang bernama Al-Asyajj ‘Abdil Qais : “Sesungguhnya ada dua kepribadian yang dicintai Allah dalam dirimu, Al-Hilm dan Al-Anaat”. (HR: Muslim.)

Al-Hilmu adalah kemampuan menahan diri tetap tenang dan terkendali pada saat amarah bergejolak. Dan Al-Anaat adalah kemampuan untuk menunggu sampai menemukan yang jalan keluar yang terbaik dalam setiap persoalan.

Demikian juga kepribadian lainnya seperti bangkit setelah terkena mushibah, peduli dengan orang yang lemah, dan menjaga hubungan yang baik dengan pemerintah, sebagaimana yang telah disebutkan oleh ‘Amr bin Al-Ash dalam hadits tersebut, adalah sifat-sifat yang telah dianjurkan di dalam Syari’at Islam, yang seandainya jika diuraikan dengan terperinci, niscaya tulisan ini akan menjadi panjang.

Yang terpenting buat kita adalah bagaimana menumbuhkan sifat sifat baik tersebut dalam diri kita masing-masing, sehingga dapat kiranya nanti kita wariskan kepada keturunan dan kerabat kita. Seharusnya kaum muslimin lebih berhak memiliki kepribadian yang baik dibandingkan dengan pemeluk Agama lainnya.

Musa Abu ‘Affaf