Makna Hadits Larangan Menebang Pohon Bidara

Dalam hadits disebutkan

من قطع سدرة صوب الله رأسه في النار يعني من سدر الحرم

“Siapa saja yang memotong pohon bidara, Allah akan mencampakkan kepalanya di neraka”. (yaitu maksudnya pohon bidara tanah haram).

(Hadits Riwayat Al-Thabarany dalam Almu’jam Al-Ausath 3/50 No. 2441)

Dalam riwayat lainnya disebutkan;

قاطع السدر ، يصوب الله رأسه في النار

“Orang yang memotong pohon bidara, Allah akan mencampakkan kepalanya ke dalam neraka.”

Kedua hadits ini telah ditakhrij (verifikasi) oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Silsilah Ahadits al-Shahihah (No. 613 dan 614) , dan disitu beliau memberikan penilaian terhadap kedua hadits ini dengan hadits yang tsabit atau valid.

Adapun maknanya, maka inilah yang perlu diluruskan dengan benar sehingga tidak menjadi satu kepercayaan yang keliru ketika seorang membacanya, dan memang para ulama berbeda pendapat dalam memaknai hadits ini, dan menurut syaikh Al-Albani rahimahullah sendiri, bahwa hadits ini bukan maknanya berlaku pada semua pohon bidara yang ada, namun pada pohon bidara yang tumbuh di tanah Al-Haram, beliau berkata;

 و أولى من ذلك كله عندي أن الحديث محمول على قطع سدر الحرم ، كما أفادته زيادة الطبراني في حديث عبد الله بن حبشي ، و بذلك يزول الإشكال

“Dan makna yang paling utama dari itu semua di sisi saya bahwa hadits ini dimaknai (khusus) kepada memotong pohon sidr (bidara) tanah haram saja, sebagaimana hal itu difaedahkan dari riwayat tambahan al-Thabrani pada hadits Abdullah bin Hubsiyy, dan dengan demikian problem yang ada menjadi hilang.” (Al-Shahihah 2/614)

Memotong atau menebang inti batang pohon yang ada di tanah al-haram hukumnya haram, dalam hadits disebutkan Nabi ﷺ bersabda:

إن مكة حرمها الله ولم يحرمها الناس فلا يحل لامرئ يؤمن بالله واليوم الآخر أن يسفك بها دما ولا يعضد بها شجرة

“Sesungguhnya Makkah telah diharamkan Allah dan bukan ummat manusia yang mengharamkannya maka tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat mengucurkan darah di dalamnya dan tidak halal memotong (menebang) pohon di dalamnya”. (HR; Bukhari No. 1832)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata;

  وقال بن العربي اتفقوا على تحريم قطع شجر الحرم الا أن الشافعي أجاز قطع السواك من فروع الشجرة كذا نقله أبو ثور عنه وأجاز أيضا أخذ الورق والثمر إذا كان لا يضرها ولا يهلكها

“Ibnul Araby berkata; “Ulama telah mufakat atas pengharaman memotong (menebang inti batang) pohon di tanah al-haram, kecuali Imam Al-Syafi’i -rahimahullah- beliau membolehkan memotong kayu siwak dari ranting pohonnya, demikian Abu Tsaur menukil darinya, dan beliau juga membolehkan memetik daun dan buah selama hal itu tidak merusaknya (pohon tersebut) dan tidak membuatnya binasa.” (Fathulbari 4/44)

ketika larangan menebang pohon bidara diartikan khusus pada pohon bidara yang berada di tanah al-haram saja, maka dapat diketahui bahwa pengharaman tersebut tidaklah dengan sedemikan tegas kecuali dengan sebab tertentu, dan sebab tersebut ialah karena menebang pepohonan tanah al-haram telah diharamkan dalam islam termasuk di dalamnya menebang pohon bidara. 

Demikian, semoga bermanfaat.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.